<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034</id><updated>2011-11-28T07:38:31.049+07:00</updated><category term='competition'/><title type='text'>Qnansha</title><subtitle type='html'>has very intense personality with hidden depths...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>74</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-7229712265668099523</id><published>2011-10-16T23:55:00.001+07:00</published><updated>2011-10-17T00:00:43.448+07:00</updated><title type='text'>Alif &amp; Sosrokartono</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-D-dIfjndtjE/TpsNmkWQEJI/AAAAAAAAAO4/mq9JVvs0RPE/s1600/Rajah%2BSosrokartono%252C%2B90%2Bx%2B145%2Bcm%252C%2Bacrylic%2Bon%2Bcanvas%252C%2B2011.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 204px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-D-dIfjndtjE/TpsNmkWQEJI/AAAAAAAAAO4/mq9JVvs0RPE/s320/Rajah%2BSosrokartono%252C%2B90%2Bx%2B145%2Bcm%252C%2Bacrylic%2Bon%2Bcanvas%252C%2B2011.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664135912591724690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;Membaca buku ini, menginspirasi saya untuk menulis. Disamping memang sudah lama tidak menulis, entah kenapa…buku ini membuatku tergerak untuk menulis, mengomentarinya dan mencoba membaginya ke publik. Mungkin juga karena berjarak dengan orang yang ditulis atau penulis di dalamnya. Atau mungkin juga terlalu dekat dengan sosok yang ditulis mau pun penulisnya. Sebuah buku bersampul depan hitam polos, kebetulan warna yang saya sukai, dengan huruf Alif warna perak di tengahnya. Sederhana…, tak ada sebaris kata apa pun di sampul depannya, kecuali Alif. Tebal 163 halaman, tersedia dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dan judul buku tersebut adalah &lt;i&gt;RISALAH RAJAH SOSROKARTONO – Lukisan Profetik K.H. M. Fuad Riyadi di Era Pascamodern. &lt;/i&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Ada 3 penulis utama dalam buku tersebut, yakni dibuka oleh tulisan Joni Ariadinata, kemudian inti dari buku ini ditulis oleh Mikke Susanto dan ditutup sangat arif dengan tulisan Bambang Sugiharto. Buku ini memang diterbitkan dalam rangka pameran &lt;i&gt;ALIF: Pameran Tunggal Lukisan K.H. M. Fuad Riyadi&lt;/i&gt;, di Bandung, September 2011. Diterbitkan oleh Lukisan Sang Kyai Management, Yogyakarta, 2011. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;Saya beruntung bisa mendapatkan buku ini sekitar bulan September 2011 dan baru sempat membacanya&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;sekitar sebulan setelahnya. Sebelumnya, memang hanya saya pajang dalam rak buku koleksi saya. Tak ada niatan ingin membacanya, ah paling-paling hanya itu-itu saja isinya. Karena kebetulan, 3 bulan sebelumnya, saya mengorginisir pameran tunggal lukisan karya K.H. M. Fuad Riyadi. Sehingga, sedikit banyak sudah paham, cukup mengetahui seluk beluk, hingar bingar hingga kontroversi perihal sosok K.H. M. Fuad Riyadi khususnya, karya-karya lukisannya hingga kehidupan pondok pesantren yang dipimpinnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;Ketika pada suatu hari kemudian, saya tergerak untuk serius membaca kata demi kata di dalamnya. Menarik, mengalir, puitis, penuh informasi dan cukup komprehensif. Meski di akhir bacaan, saya masih terasa haus informasi dari apa yang saya harapkan dari isi buku tersebut. Seharusnya bisa lebih banyak, seharusnya bisa lebih panjang, seharus bisa lebih tebal dan seterusnya. Sekilas melihat dan menyentuh buku ini, sepertinya kita akan mendapat banyak hal, hmm…namun, mungkin terkesan tebal karena kemudian masih ada halaman bahasa Inggris di dalamnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;Meski dalam tulisannya, Mikke Susanto menjabarkan panjang lebar dan membantu pembaca memasuki siapa itu K.H. M. Fuad Riyadi, apa relasi seni dan religi dan posisi karya K.H. M. Fuad Riyadi – namun sayangnya hanya satu karya lukisan yang berjudul &lt;i&gt;Rajah Sosrokartono&lt;/i&gt; saja yang diulas. Dari ratusan karya K.H. M. Fuad Riyadi yang sempat saya lihat dan dipamerkan kala itu, memang saya juga setuju ketika kemudian karya &lt;i&gt;Rajah Sosrokartono&lt;/i&gt; menjadi begitu kuat untuk diperbincangkan dan kemudian dibukukan. Semata menurut pendapat saya pribadi, tokoh Sosrokartono sendiri sudah sungguh menarik dikedepankan. Juga karena entah kenapa, karya tersebut membawa magnet begitu dahsyat untuk diapresiasi. Dari buku tersebut, saya baru tahu betul bagaimana proses lukisan tersebut dihasilkan, apa yang melatarbelakanginya hingga detail kata per kata yang ada dalam kanvas tersebut. Saya menjadi semakin ingin tahu perihal siapa Sosrokartono yang bersahaja itu. Lukisan tersebut menjadi sarat makna, magis dan terkesan benar rajah. Siapa pun kolektor dari lukisan ini nantinya, akan sangat beruntung dengan diterbitkannya buku ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-7229712265668099523?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/7229712265668099523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=7229712265668099523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/7229712265668099523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/7229712265668099523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2011/10/alif-sosrokartono.html' title='Alif &amp; Sosrokartono'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-D-dIfjndtjE/TpsNmkWQEJI/AAAAAAAAAO4/mq9JVvs0RPE/s72-c/Rajah%2BSosrokartono%252C%2B90%2Bx%2B145%2Bcm%252C%2Bacrylic%2Bon%2Bcanvas%252C%2B2011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-4370074534438703924</id><published>2011-09-30T11:48:00.002+07:00</published><updated>2011-09-30T11:56:45.852+07:00</updated><title type='text'>Artist Statement 'Jowo Adoh Papan'</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cQ_lS31pcnY/ToVLXj_sR2I/AAAAAAAAAOw/Vq4s163Tr5k/s1600/Satria%2BWirang-no%2Bprice.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-cQ_lS31pcnY/ToVLXj_sR2I/AAAAAAAAAOw/Vq4s163Tr5k/s320/Satria%2BWirang-no%2Bprice.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658011375032354658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;JOWO ADOH PAPAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;Pius Sigit Kuncoro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; Jogja, saya dapat mendengar tembang-tembang Hiphop berbahasa Jawa. Dan jika berkeliling &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, saya pun menjumpai grafiti-mural dengan aksara-aksara Jawa. Semua tampil seadanya, walau terlihat compang-camping, tapi lucu menggemaskan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Bahasa dan aksara Jawa kini telah muncul sebagai ekspresi jalanan. Saya tidak tahu persis kapan ini bermula. Yang jelas telah membuat saya bertanya, “apakah &lt;i&gt;Jowo &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;wis&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; adoh soko papan, mulo podo urip neng ndalanan?&lt;/i&gt;”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Adoh soko papan dapat diartikan sebagai jauh dari rumah, atau tidak berumah lagi. Secara politis dapat dikatakan telah kehilangan badan keorganisasiannya dan tidak lagi terikat pada aturan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Jika dikaitkan dengan status keistimewaan Jogja yang sedang tersandera saat ini, mungkin ada benarnya.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Tanpa kedaton dan ratu yang wenang, Jowo menjadi adoh soko papan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family: Arial"&gt;Jowo yang adoh soko papan adalah Jowo yang secara material telah kehilangan nilai tawarnya. Jowo demikian, menjadi Jowo yang compang-camping, dan hidup hanya pada posisi bertahan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dalam posisi ini Jowo hanya menjadi spirit yang keno lorone ora keno patine, seperti punokawan yang babak belur tapi tidak pernah mati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family: Arial"&gt;Dalam karya cat air yang saya pamerkan kali ini secara visual saya menempat orang-orang Jowo yang adoh soko papan, sedang semangat yang saya tampilkan adalah keno lorone ora keno patine. Harapan saya, karya-karya ini dapat menghibur, menggelitik, lucu, dan menggemaskan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family:Arial"&gt;Tambahan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Tentang Norman Rockwell&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Seorang Maestro Amerika yang dikagumi oleh hampir seluruh mahasiswa DISKOM-ISI Jogja saat saya kuliah dulu. Karya-karyanya menjadi standar capaian tertinggi, dan referensi penting untuk meraih nilai tertinggi dalam tugas-tugas ilustrasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family:Arial"&gt;Pameran ini terselenggara berkat kerjasama Mixed Art Management | MAM dan Via Via Café Traveller.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;JOWO ADOH PAPAN (Away from Home)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;  &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; display: inline !important; "&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;In Jogja I can hear Hip Hop songs using Javanese language. If I go around town, I can also see graffiti and murals that use Java letters. They appear as they are. Although they look in tatters, they are very cute and adorable.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px;"&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family: Arial"&gt;Javanese language and letters have now emerged as part of street expression. I do not know exactly when this started. Obviously this has made me ask, "Have Javanese people been far from home so that they have to live on the streets?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family: Arial"&gt; "Adoh soko papan” means "away from home" or even "no longer having home". Politically, this can be understood as a form of loss of the parent organization or a condition of being separated from traditions. If we have to link it to the specialty of Yogyakarta, perhaps this is true. Without powerful palace and king, the Javanese people will be displaced from their homes.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family: Arial"&gt;Javanese people who are away from home are those who materially have lost their bargaining power. They become ragged and their lives are stagnant. Thus, Javanese people, like the saying "&lt;i&gt;Keno Lorone ora keno patine&lt;/i&gt;", feel the pain but death will never come to them. They are like the battered &lt;i&gt;Punokawan&lt;/i&gt; who never die.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin;mso-bidi-font-family: Arial"&gt;In my watercolor works I am exhibiting now, visually I put Javanese people who are away from home. They are the ones implied by the proverb "&lt;i&gt;Keno lorone ora keno patine&lt;/i&gt;". I hope that these works can be entertaining, intriguing, funny and adorable.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; "&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font: major-latin;mso-bidi-font-family:Arial"&gt;Additional&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Norman Rockwell is an American maestro who had amazed me and my fellow students in Communication Design Department of the Indonesian Institute of Arts-Yogyakarta. His works. His works became our highest standard of achievement. They were important references for us to get good scores for our illustration assignments.  &lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-4370074534438703924?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/4370074534438703924/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=4370074534438703924&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4370074534438703924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4370074534438703924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2011/09/artist-statement-jowo-adoh-papan.html' title='Artist Statement &apos;Jowo Adoh Papan&apos;'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-cQ_lS31pcnY/ToVLXj_sR2I/AAAAAAAAAOw/Vq4s163Tr5k/s72-c/Satria%2BWirang-no%2Bprice.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-1846982593389800082</id><published>2011-09-30T11:41:00.002+07:00</published><updated>2011-09-30T11:47:19.619+07:00</updated><title type='text'>JOWO ADOH PAPAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HQCs-FyYUKg/ToVI6G3ACuI/AAAAAAAAAOo/IEZ2AhrKTcE/s1600/posterOK.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 226px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-HQCs-FyYUKg/ToVI6G3ACuI/AAAAAAAAAOo/IEZ2AhrKTcE/s320/posterOK.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658008669971811042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family:Arial;color:black"&gt;Pameran tunggal lukisan cat air karya Pius Sigit Kuncoro&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;Via Via Cafe Traveller, Yogyakarta | 6-25 Juni 2011&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:14.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;JAWA ALA PIUS SIGIT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Berawal dari pesanan untuk mengisi ilustrasi pada sebuah buku, Pius Sigit Kuncoro [kelahiran Jember, 17 April 1974] akhirnya kembali menekuni teknik cat air di atas kertas. Bagi seorang Pius Sigit, lulusan Desain Komunikasi Visual ISI Yogyakarta ini, bukan hal baru berkarya dengan cat air. Mengaku sudah lama meninggalkan media ini, namun, sekitar 2 tahun belakangan, dia kembali bekerja dengan media tersebut. Kita paham bahwa melukis dengan cat air memiliki tingkat kesulitan tersendiri, sekali gores tidak boleh salah. Beberapa pendapat pun sepakat bahwa Pius Sigit lebih maksimal karyanya dengan cat air ini. Keahliannya melukis dengan cat air betul-betul bisa diandalkan. Mengapa saat ini sedang bereksplorasi dengan cat air pun, lebih karena merespon situasi studio yang dipakainya kini. Studio tempatnya bekerja saat ini di daerah Dongkelan, Bantul, lebih akomodatif ketika Pius Sigit bekerja dengan media cat air. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Pada kesempatan pameran tunggalnya yang ke 3&lt;span style="color:red"&gt; &lt;/span&gt;kali ini, Pius Sigit membawa kita kepada tema-tema Jawa modern yang mistis melalui karya-karya yang dihadirkannya. Tema pamerannya pun tak jauh dari figur-figur yang ditampilkan dalam karyanya, yakni JAWA ADOH PAPAN. Dipilihnya tema ini karena tergelitik oleh karakter kekinian orang Jawa, yang tidak luput dari pengaruh perkembangan teknologi dan modernitas, sehingga tinggal spirit Jawa-nya saja yang masih bisa kita rasakan. Pius Sigit, penulis mengenalnya memang sesosok orang yang menyukai dan memahami dunia Jawa. Dimana ia juga pernah ‘berguru’ bahkan menjadi ‘anak kesayangan’ dari almarhum Sigit Sukasman, seorang seniman wayang di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;. Disamping itu, Pius Sigit juga pernah bergabung dalam kelompok GEBER ModusOperandi [1999-2001], yang menampilkan karya-karya performance instalasi futuristik di kala itu. Maka tak heran buat penulis, dengan latar belakang hidupnya tersebut, Pius Sigit menampilkan tema Jawa dan modernitas pada karya-karyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Pada serinya terdahulu, karya-karyanya kelihatan sangat terinsipirasi oleh seniman Norman Rockwell, seorang pelukis dan illustrator asal Amerika di era abad ke-20. Pius Sigit pun mengakui bahwa dia berkiblat dari karya-karya Rockwell. Bisa kita lihat dari karakter atau figur-figur yang dia gambar hingga pemilihan warna yang cenderung ke warna pastel. Meski terlihat kentara pengaruh Rockwell, Pius Sigit tetap memasukkan unsur Jawa ke dalam karyanya. Sehingga pada seri karya terdahulunya, kita seperti berada dalam sebuah narasi yang berlatar Eropa dan Jawa. Sedikit aneh, tetapi sangat menggelitik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Saat presentasi seri karya terdahulunya, kami [Mixed Art Management | MAM] dibuatnya terkesima karena kemampuannya mengolah cat air dan tema pada karya yang ia hadirkan. Hal itu pula yang membuat kami terbersit niat untuk menghadirkan karya-karya dalam sebuah pameran agar bisa direspon publik lebih luas di Via Via Café, 6 hingga 25 Juni 2011.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Kini, Pius Sigit menampilkan seri karya terbarunya. Seri karya terbarunya ini pun hadir tidak dengan sendirinya. Pius Sigit mengaku sempat stagnan dengan seri karya terdahulunya. Tentu hal yang sulit ketika seorang seniman harus kembali memunculkan &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; berkarya. Seiring perjalanan waktu, akhirnya ia menemukan seri tema karya terbarunya ini. Pada seri karya terbarunya ini, Pius Sigit menggunakan peribahasa-peribahasa Jawa untuk judul, tema mau pun figur untuk karyanya lengkap dengan huruf Jawa kuno. Misal, &lt;i&gt;Anak Polah Bapa Kepradah&lt;/i&gt;, dimana kurang lebih artinya jika si anak bertingkah laku nakal atau menyimpang, orang tua terkena getahnya juga dan ikut bertanggung jawab juga repot. Peribahasa-peribahasa Jawa tersebut oleh Pius Sigit dijabarkan artinya ke dalam karya-karya yang ditampilkannya. Sedikit banyak kita menjadi mengerti perihal arti dari peribahasa Jawa yang tersebut lewat sebuah gambar yang menggelitik. Unik sekali. Selamat menikmati….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;Yogyakarta, Mei 2011&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;Nunuk Ambarwati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;Mixed Art Management | MAM&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-latin;mso-hansi-theme-font:major-latin"&gt;PIUS SIGIT’S STYLE OF JAVANESE CONCEPTION &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px;"&gt;Due to an order of creating illustrations for a book, Pius Sigit Kuncoro [Born: Jember, 17 April 1974] finally works again with watercolor on paper. For Pius, who was an alumnus of Visual Communication Design Department of the Indonesian Institute of Arts – Yogyakarta, it is not a new thing. He used to work a lot with these media. About two years recently he has worked again with watercolor and paper. We realize that painting with watercolor has its own degree of difficulty. Once a stroke is put, it cannot be mistaken. Some critics agree that Pius Sigit can work more optimal with watercolor. His capacity in painting with watercolor is not questionable. The reason why he does explorations with watercolor is that he tries to make response to the situations of the studio where he works at present. It is situated in Dongkelan, Bantul. It is more accommodating for him to work with watercolor.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;  &lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;In his third solo exhibition, Pius Sigit takes us to themes concerning the mystical modern Java through his works. The exhibition’s theme, “Jawa Adoh Papan”, is also not far from the figures appearing in his paintings. This theme is raised because he is tickled by the contemporary Javanese people, who cannot escape from the influences of technological progress and modernity. However, the Javanese spirit still remains. The writer knows him indeed as a person who is interested in Javanese culture. He somewhat understands much about it. This certainly is not apart from his time when he became a student, and event the “favorite son” of the late Sigit Sukasman, an artist of Javanese wayang tradition, living in Yogyakarta. In addition, Pius Sigit also joined a group called GEBER ModusOperandi (1999-2001), which created works of futuristic performing installations. Therefore, it is not so surprising for the writer that he brings themes of Javanese culture and modernity in his works.&lt;span style="font-size: 15px; "&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px; "&gt;In his previous series of works, it is obvious that he is inspired so much by Norman Rockwell, a painter and illustrator from United Stated. Pius Sigit admits that he does look up to Rockwell’s works. The influences can be found in the characters or figures becoming the subjects of his paintings and the tendency of using pastel colors.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Although Rockwell’s characteristics are quite noticeable, he always puts into his works Javanese elements. Therefore, observing his old works, as if we entered into a narration with European and Javanese backgrounds. It is a bit weird but very witty.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px; "&gt;When through his previous series of works, his ability of cultivating watercolor and themes have made us (Mixed Art Management | MAM) amazed. Hence, we intend to present his works to wider public in an exhibition at Via Via Café from 6 to 25 June 2011.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;  &lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px; "&gt;Now Pius Sigit is presenting his new series of works. He admitted that after the era of his previous works, he happened to go through stagnancy. It is certainly difficult for an artist to resume his mood to create the same artworks again. However, he finally has found this theme for his new works. Now he uses Javanese proverbs for the titles and themes. He also makes appear the Javanese figures and Javanese old letters. For example, he entitles one of his works with the proverb “&lt;i&gt;Anak Polah Bapa Kepradah”&lt;/i&gt;. It means more or less that if a child behaves badly, the parents also take the responsibility. He describes the meanings of the proverbs with his paintings. To some extent we becomes more aware of the meanings of the Javanese proverbs through his amusing paintings. They are really unique.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Enjoy the show.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 15px;"&gt;Yogyakarta, May 2011&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; font-size: 15px; "&gt;Mixed Art Management | MAM&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="font-size:11.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font:major-latin;mso-hansi-theme-font: major-latin"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-1846982593389800082?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/1846982593389800082/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=1846982593389800082&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/1846982593389800082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/1846982593389800082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2011/09/jowo-adoh-papan.html' title='JOWO ADOH PAPAN'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-HQCs-FyYUKg/ToVI6G3ACuI/AAAAAAAAAOo/IEZ2AhrKTcE/s72-c/posterOK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-1501094613640188745</id><published>2011-09-29T19:59:00.005+07:00</published><updated>2011-09-30T11:27:54.002+07:00</updated><title type='text'>Mixed Art Management</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-duIV2N6O2IM/ToRy1UeaacI/AAAAAAAAAOM/7N0uSPqr50k/s1600/Copy%2Bof%2BlogoMAMbulat.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="text-align: left;display: block; margin-top: 0px; margin-right: auto; margin-bottom: 10px; margin-left: auto; cursor: pointer; width: 320px; height: 320px; " src="http://2.bp.blogspot.com/-duIV2N6O2IM/ToRy1UeaacI/AAAAAAAAAOM/7N0uSPqr50k/s320/Copy%2Bof%2BlogoMAMbulat.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657773292239088066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;MIXED ART MANAGEMENT | MAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Kebutuhan akan manajemen seni rupa yang terorganisir rapi, terbuka, praktis, cepat dan sesuai dengan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;anggaran yang tersedia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;, merupakan hal penting guna mendukung suksesnya sebuah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;kegiatan kesenian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; mau pun perkembangan positif karir seorang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;seniman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Mixed Art Management | &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;MAM bediri sejak tahun 2009 dan berbasis di &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Y&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;og&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;y&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;akarta,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;ami&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; terdiri dari individu-individu yang berpengalaman&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; dalam&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; mengelola &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt;kegiatan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;kesenian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; dan profesional di bidangnya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; Kami&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; bekerja dengan efektif, tepat waktu dan efisien. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;Dan kami siap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; membantu kebutuhan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt;seniman &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;untuk menyelenggarakan dan mengorganisir event-event kesenian&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;, khususnya seni rupa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; dengan mengutamakan dialog yang terbuka dan mencari solusi bersama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;Salah satu tujuan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;MAM&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;yaitu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt; berharap seniman dapat bekerja &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;fokus pada wilayah penciptaan karya dan membangun &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;perkembangan karir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; &lt;span lang="IN"&gt;seniman dengan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kesenian di dalam ataupun di luar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;negeri.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;MAM &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;melakukan kerjasama profesional bagi para seniman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; perseorangan mau pun&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt; bekerja &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; tim dan tidak membedakan seniman secara usia&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;, etnis atau level kesenimannya. Namun demikian, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;AM tetap&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt; melakukan seleksi atas permintaan jasa manajemen dalam penyelenggarakan kegiatan kesenian&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;, semata-mata demi kualitas kerja yang maksimal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;MAM&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; selalu berusaha menjadi salah satu manajemen&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; seni&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; yang baik dan ideal bagi seniman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt; dan dunia seni di Indonesia dan Yogyakarta khususnya,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; serta menciptakan pembaharuan strategi yang dinamis dengan presentasi penyelenggaraan dan manajemen profesional. M&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;AM &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;memiliki kemampuan untuk menjadi partner dalam membangun karir seniman dan bekerjasama bersama dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;jujur dan mengedepankan etika profesionalisme yang tinggi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt; dalam penyelenggaraa&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;nnya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;AM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; menawarkan spesifikasi pekerjaan meliputi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;; &lt;i&gt;Event Organizing &lt;/i&gt;[penyelenggaraan event kesenian], &lt;i&gt;Media Relation&lt;/i&gt; [&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;engorganisir konferensi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;ers dan bekerjasama dengan media massa cetak&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;, online&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt; dan elektronik untuk promosi dan publikasi event], Promosi Karya [&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family: &amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language: IN"&gt;emasarkan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;arya] dan &lt;i&gt;Artist Mana&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;gement &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;bekerja bersama &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;mso-ansi-language:IN"&gt;senima&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;n untuk mengatur manajemen dalam karir berkesenian].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;ontak person:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Nunuk Ambarwati +62 81 827 7073 dan atau&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;Devie Triasari +62 817 548 7538&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; "&gt;&lt;b style="line-height: normal; "&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language:IN"&gt;Alamat surat :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: normal; font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;Jl. Gamelan Kidul &lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;N&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: normal; font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;o 22, Yogyakarta 55131. Indonesia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: normal; font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;/&lt;span&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;a href="mailto:mixedart.management@gmail.com"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; text-decoration: none; "&gt;mixedart.management@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;, info@mixedartmanagement.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; text-decoration: none; "&gt;&lt;a href="mailto:qnansha@yahoo.com" target="_blank"&gt;qnansha@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Cambria, serif; "&gt;, devdiet@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Cambria, serif; "&gt;web/ &lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-family: Cambria, serif; "&gt;&lt;a href="http://www.mixedartmanagement.com/"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-decoration: none; "&gt;www.mixedartmanagement.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:150%; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;MIXED ART MANAGEMENT | MAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:150%"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height:150%;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;‘Small But Sharp’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;The need of a well-organized management for supporting the development of the career of an artist and the success of every activity related to art is very important. It must be open, practical, quick and pro-budget.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;MAM was founded in 2009 in Yogyakarta. It consists of individuals who are experienced in managing art activities and professional in their respective fields. We hold the principle of effective, punctual and efficient working. We are ready to assist artists to organize and carry out their art activities, especially related to visual art. In doing so, we put forward open dialog for reaching mutual solution.&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;One of our goals is to make artists able to focus on their process of creating artworks and to develop their career by carrying out art activities both in home and abroad. We make professional collaboration with artists both as individual and team. We do not discriminate artists based on age, ethnicity or artistic level. However, we do selection at the requests for service of organizing art activities to achieve optimal quality of work.&lt;span&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;We always try to be the best art management ideal for artists and art world in Indonesia and especially in Yogyakarta through implementing new dynamic strategy of professional art management. We put forward integrity, transparency and professionalism as partner for artists in organizing their activities and in developing their career.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;The specification of our works consist &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;of Event Organizer [organizing art activities], Media Relation [organizing press conference and collaborating with mass media both print and electronic to promote and publicize an event], Artwork Promotion [offering artworks to public] and Artist Management [working together with artists to manage their career].&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt; font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family:&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Contact persons:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;Nunuk Ambarwati +62 81 827 7073&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;Devie Triasari +62 817 548 7538&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0in;margin-bottom:.0001pt;line-height: normal"&gt;&lt;span style="font-size:12.0pt;font-family:&amp;quot;Cambria&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;"&gt;Postal address: Jl. Gamelan Kidul no 22, Yogyakarta 55131. Indonesia&lt;br /&gt;e-mail&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;:&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;mixedart.management@gmail.com, &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;qnansha@yahoo.com, devdiet@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Cambria, serif; "&gt;website&lt;span&gt;           &lt;/span&gt;:&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;www.mixedartmanagement.com&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"&gt;&lt;u&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left;margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-1501094613640188745?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/1501094613640188745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=1501094613640188745&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/1501094613640188745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/1501094613640188745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2011/09/mixed-art-management.html' title='Mixed Art Management'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-duIV2N6O2IM/ToRy1UeaacI/AAAAAAAAAOM/7N0uSPqr50k/s72-c/Copy%2Bof%2BlogoMAMbulat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-694387613205753998</id><published>2009-09-08T12:47:00.002+07:00</published><updated>2009-09-08T12:55:46.891+07:00</updated><title type='text'>September Ceria</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SqXxTy9LnlI/AAAAAAAAAMU/VIsNClkH0oE/s1600-h/Afdhal,+Wake+Up,+iron,+cable,+210+x+90+x+115+cm,+2009,+Rp+40+Jt.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 350px; height: 258px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SqXxTy9LnlI/AAAAAAAAAMU/VIsNClkH0oE/s400/Afdhal,+Wake+Up,+iron,+cable,+210+x+90+x+115+cm,+2009,+Rp+40+Jt.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5378970652362120786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGANTAR PAMERAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘SEPTEMBER CERIA’&lt;br /&gt;Pameran seni visual yang mengedepankan karya patung, instalasi dan toys &lt;br /&gt;Dalam rangka memperingati tahun ke-3 eksisnya Jogja Gallery&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta | 8 September – 18 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas tentang Jogja Gallery&lt;br /&gt;Di bulan September, tepatnya tanggal 19, Jogja Gallery [JG] telah memasuki usia 3 tahun. Usia yang terbilang muda. Meski demikian, sebagai sebuah representasi ruang pamer dan promosi seniman-seniman Indonesia, kami telah menyelenggarakan 48 event pameran seni sejak kami berdiri. Tentunya bukan perkara yang mudah, di saat menggagas hingga tetap eksisnya galeri ini dengan berbagai pasang surutnya masalah internal dan eksternal yang menyertainya. Mengingat awal galeri ini diresmikan banjir kritik hingga respon sebelah mata menyambut berdirinya Jogja Gallery kala itu. Mulai dari untuk apa sebuah galeri baru berdiri di tengah kondisi stagnannya seni visual Indonesia dari pengaruh pasar atas gencarnya karya-karya seniman China kala itu. Juga perihal tanda tanya publik mengenai siapa saja ‘oknum’ di balik berdirinya Jogja Gallery, akankah menjadi jaminan sebuah galeri bisa diandalkan dan dibanggakan, apalagi menggunakan nama kota sebagai brand-nya. Jogja Gallery merupakan Galeri swasta murni yang dibangun atas dukungan para investor. Seperti sudah jamak kita diketahui, dimana rata-rata pendiri galeri di Indonesia adalah orang asing, tetapi tidak dengan Jogja Gallery. Para pendiri Jogja Gallery yang kesemuanya berasal dari Yogyakarta tersebut adalah KGPH Hadiwinoto, Sugiharto Soeleman, Bambang Sukmonohadi, Soekeno dan KRMT Indro ‘Kimpling’ Suseno. Mereka hadir ditengah-tengah masyarakat Jogyakarta tentunya dengan kepedulian tinggi terhadap seni, khususnya seni rupa. Terwujudnya Jogja Gallery ini selain dari kepedulian mereka juga dukungan dari berbagai pihak yang secara langsung mau pun tidak langsung ikut andil dan support di berbagai event yang diprogramkan hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen yang berbenah&lt;br /&gt;Terus-menerus menciptakan inovasi merupakan salah satu bagian dari bentuk survive yang dilakukan Jogja Gallery. Untuk sekadar bisa hidup, merupakan misi awal yang tak terlalu muluk di tengah kompetisi pasar seni rupa Indonesia. Pasar yang penulis nilai sebenarnya tidak cukup sehat baik di Indonesia mau pun global. Pembenahan pada level manajerial terus dilakukan berdasarkan berbagai ‘benturan’ yang ditemui langsung di lapangan. Pujian mau pun komplain diubah menjadi siasat dan strategi yang tak henti dibenahi untuk terus bisa bertahan. Maka manajemen Jogja Gallery sepakat untuk memaknainya sebagai manajemen yang terus berbenah. Suatu kebijakan atau ketentuan bahkan bisa terus diupdate per minggu guna mendapatkan kinerja yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring meningkatnya aktivitas dan keberhasilan tiap penyelenggaraan pameran di Jogja Gallery, sorotan publik pun semakin kuat. Sorotan tersebut dirasakan menyeluruh, tidak melulu pada tema, muatan mau pun karya dalam tiap kali pameran yang diselenggarakan, juga kepada manajemen internal hingga tiap person yang terlibat di dalamnya. Hal tersebut jelas menyemangati manajemen Jogja Gallery untuk terus meningkatkan kualitas tiap event yang digelarnya dengan dibarengi niatan positif untuk turut memajukan infrastruktur seni rupa Indonesia. Dalam hal ini penulis lebih fokus pada sistem manajemen dan pasar yang berkembang dengan luar biasa mengejutkan dan kadang sangat sulit diprediksi. Di saat lukisan memasuki dunia bisnis yang sebenar-benarnya, maka mungkin kita harus menanggalkan ‘pesan’ dari lukisan tersebut. Siapa yang bermodal besar dia yang menguasai pasar. Modal bahkan bisa membentuk selera. Kita pun terseret berlaku dalam pasar yang sesungguhnya tersebut. Perilaku para pelaku pasar ini kadang membuat penulis gerah. Bahkan ketika seniman ikut terjun di dalam pasar itu sendiri. ‘Permainan-permainan’ dilancarkan para pelaku pasar. Jogja Gallery menyadari hal tersebut dan sebagai salah satu pelaku pasar kita harus jeli dan tidak terjebak dalam ‘permainan’ tersebut. Berani menentukan sikap dan berlaku tegas dengan ketentuan yang disepakati dalam manajemen, menjadi modal untuk menentukan arah misi dan visi galeri di tahun-tahun mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga selama kurun waktu 2 tahun [sejak 2006-2008], Jogja Gallery bekerja sama dengan kurator tetap [in-house curator]; tercatat pernah bekerja sama dengan kami adalah M. Dwi Marianto [meski kurang lebih 2 bulan setelah Jogja Gallery berdiri, beliau mengundurkan diri] dan Mikke Susanto. Bersama beliau, Jogja Gallery tumbuh, berkembang dan mencatatkan diri dalam konstelasi peta seni rupa Indonesia. Berbagai event penting menjadi tanda sejarah Jogjakarta, seperti: Pada pameran perdana dan launching galeri, dipamerkan karya seniman “perekam sejarah” seni rupa Jogja mulai tahun 1970-2000 an yaitu ICON: Retrospective. Kompetisi Seni Visual The Thousand Mysteries of Borobudur dan Shadows of Prambanan kerjasama dengan UNESCO dan PT. Taman Wisata Candi Borobudur-Prambanan dan Ratu Boko. Di mana pada event ini banyak melibatkan para pelajar dan guru untuk mengikuti berbagai macam kegiatan untuk menambah wawasan dan ilmu bagi mereka, serta menambah nilai apresiasi yang tinggi khusunya dengan sekolah. Yang penting dan selalu dilakukan dalam setiap pameran yang digelar oleh Jogja Gallery adalah selalu menawarkan nilai visual kreatif dan inovatif. Untuk itu, dalam kesempatan yang berbahagia ini, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas kerja sama yang saling melengkapi, membangun dan membagi ilmu yang tak terbayarkan oleh apa pun selama bekerja dengan beliau berdua, terutama dengan Mikke Susanto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya, sejak awal 2009, Jogja Gallery kemudian menerapkan konsep yang lebih terbuka perihal kurasi dan kuratorial. Jogja Gallery mengundang dan membuka peluang kepada konseptor, kurator, galeri dan seniman tanah air untuk bekerja sama memajukan seni rupa kita. Sebagai sebuah penanda atas keberlangsungan cita-cita kami sebagai sebuah ikon budaya, sekaligus sebagai sebuah dedikasi kami, atas segala dukungan, kerja sama, perhatian dan kritik membangun dari rekan, kolega, sahabat dan mitra kerja kami yang turut membentuk dan membangun Jogja Gallery hingga saat ini, sebuah pameran yang berbeda kami hadirkan. Jogja Gallery dengan bangga mempersembahkan presentasi seni dengan kurasi dari tim pameran internal Jogja Gallery sendiri, yakni pameran patung, instalasi dan toys ‘September Ceria’ yang digelar sejak 8 September hingga 18 Oktober 2009. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran 3 dimensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘September Ceria’, adalah sebuah pameran yang secara khusus mengetengahkan karya-karya 3 dimensi, berupa patung, instalasi dan toys. Tercatat di Jogja Gallery, pameran seni visual khusus karya 3 dimensi baru kami selenggarakan satu kali, yakni pameran bertajuk ‘Domestic Art Object | D.A.O [kurator: Mikke Susanto], tepatnya Februari 2007 yang lalu. Di luar itu, karya-karya 3 dimensi berbaur bersama dominasi karya 2 dimensi di setiap event pameran di Jogja Gallery. Kenapa September, jelas, karena pameran sebagai kaitan atas bulan berdirinya Jogja Gallery, disamping pameran ini juga diselenggarakan di bulan yang sama. Unsur ‘nakal’, ‘bermain-main’, bersenang-senang, dan happy ingin kami bawa dalam atmosfer pameran ini, untuk itulah kami tambahkan kata ceria pada tajuk pameran. Berharap, para seniman yang kami undang, terangsang untuk menciptakan karya-karya 3 dimensi yang menarik dan seinteraktif mungkin. Jogja Gallery tidak memberikan batasan terhadap ide karya atau pun tema. Karya-karya yang hadir diharapkan dapat memberikan rangsangan untuk terus menggulirkan ide-ide segar, belum pernah di buat karena adanya keterbatasan ruang pamer; namun tentunya tetap berkualitas dalam proses pengerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih penting dari itu adalah, gagasan pameran ini juga tercetus dari masukan dari beberapa rekan seniman, ketika mereka melihat ruang pamer Jogja Gallery. Sebuah ruang yang megah dan lapang, serasa mengundang untuk direspon, juga untuk ditaklukkan. Ketika kami gulirkan gagasan ini kepada para seniman undangan, mereka dengan antusias merespon setiap sudut di ruang pamer kami mulai dari lantai, tangga hingga langit-langit. Pameran ini sekaligus memberikan ruang untuk karya-karya 3 dimensi untuk lebih bebas dan dominan tampil di ruang pamer Jogja Gallery. Besar harapan kami karya – karya yang di hasilkan dapat memberikan warna dan nuansa yang lain dari pameran-pameran kami sebelumnya. Karya-karya hadir dengan beda, segar, dan memberikan tantangan dalam  ‘kecerdasannya’, ‘kenakalannya’, dan ‘sensitivitasnya’ dapat menemukan ‘bahasa dan bentuk’ yang menggugah dan memberikan pencerahan bagi banyak orang terutama untuk karya-karya 3 dimensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ke-39 seniman yang terlibat dalam pameran ini, sebagian besar merespon dengan cerdas melalui karya-karya mereka atas inovasi dan persepsi masing-masing mengenai tajuk ‘September Ceria’. Ada yang bersifat protagonis mau pun antagonis atas bulan September itu sendiri. Meski pun demikian, karya-karya dalam pameran ini ingin kami kategorikan dalam 3 bagian media berkarya. Pertama, yakni karya-karya patung, seperti yang ditampilkan oleh Adi Gunawan, Ali Umar, Arlan Kamil, Candra Eko Winarno, Caroline Rika Winata, Dwita Anja Asmara, Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati, Endang Lestari, Erica Hestu Wahyuni, Fransgupita, Grace Tjondronimpuno, Hariadi Nugroho, Hedi Hariyanto, Hendra 'He He' Harsono, Ismanto, I Wayan Upadana, Khusna Hardiyanto, Komroden Haro, M.Rain Rosidi, Rennie 'Emonk' Agustine, Saroni, Timbul Raharjo, Wahyu Santosa, Win Dwi Laksono. Kemudian karya instalasi, sebagai misal adalah karya Afdhal, Agustina Tri Wahyuningsih dan Edo Pillu, Eddi Prabandono, Hestu &lt;br /&gt;(Setu Legi), I Made W. Valasara, I Made Widya Diputra, I Putu Aan Juniartha, Iwan Effendi, Lenny Ratnasari, Trie ‘Iien’ dan Gandhi Eka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terakhir adalah kategori toys, dimana dalam definisi yang kami dapatkan dari Wikipedia; mainan [toy] merupakan suatu obyek untuk dimainkan [play]. Bermain [play] sendiri dapat diartikan sebagai interaksi dengan orang, hewan, atau barang [mainan] dalam konteks pembelajaran [learning] atau rekreasi. Kategori terakhir ini, dalam karya yang dihadirkan kali ini belum cukup banyak direspon oleh seniman kita, terkecuali karya Cahyo Basuki Yopi, Samuel Indratma dan Studio Grafis Minggiran, yang bisa berinteraksi langsung dengan pengunjung dan penikmat pameran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apabila kita amati kembali, sebagian besar seniman ini telah mengadopsi definisi kata toys itu sendiri dan menerapkannya untuk mencipta karya, sehingga kita bisa melihat aura ‘bermain’ dalam masing-masing karya yang terpajang di sini. Seperti jelas terlihat dari karya Eddi Prabandono, ‘After Party’  yang terinspirasi hobinya mengayuh sepeda kemana-mana. Sepeda yang bisa diatur ketinggian sadel juga kemudinya hingga ke langit-langit ruang pamer, atau bisa mau diatur semau kita. Sungguh menarik! Demikian halnya dengan karya I Made Wiguna Valasara, yang mengaplikasikan detail motif pada karya lukisnya di t-shirt yang diproduksi terbatas. Ketika gagasan aplikasi ini diusulkan kepada kami, belum terbayangkan sedemikian uniknya. Setelah menikmati bahkan ‘meraba’nya, karya ini sangat terkesan ‘Valasara banget’!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lihat karya Afdhal yang tampil mengesankan ‘Wake Up’, mengaku karya ini merupakan karya ke empat dari karya tiga dimensi yang pernah dikerjakannya sepanjang karier berkeseniannya. Afdhal memang sedang ‘bermain-main’ di ranah 3 dimensi untuk lebih bisa mengaplikasikan gagasannya secara lebih mantap. Karya ini mengingatkan kita tentang spirit bahwa manusia harus mempunyai peran penting dan mempunyai keyakinan hidup yang kuat, harus selalu bangkit … bangkit … dan terus bangkit. I Nyoman Agus Wijaya dengan pernyataannya ‘banyak hal yang bisa membuat senang, tergantung kita bisa mengolahnya menjadi sesuatu yang menyenangkan dan janganlah pernah melakukan sesuatu dengan terpaksa’; mampu menghadirkan karya ‘Masih Seneng Bermain’ dengan jenaka, meski menggunakan media plat besi yang terkesan ‘berat’. Tak kalah menariknya dengan karya I Made Widya Diputra atau lebih dikenal dengan panggilan Lampung. Karya ‘Bukan yang Terakhir’’, menggambarkan sebuah antrian ruang tunggu. Menunggu apa pun itu, entah… yang jelas menunggu sebuah harapan bukanlah suatu jalan mati dan terakhir. Akan selalu ada harapan dan harapan berikutnya. Maka karya ini sungguh menghenyakkan dan pantas menempatkan Lampung sebagai jajaran seniman yang berdedikasi, mampu memberikan ‘roh’ kuat pada setiap karya yang dihasilkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan seniman-seniman yang diundang kali ini, memang tidak saja ditujukan bagi seniman dengan latar belakang minat utama seni patung, seniman senior mau pun promising artist. Terlebih bagi seniman-seniman yang mencatatkan dedikasi mereka atas karya-karya 3 dimensi dalam berbagai misi, kecintaan dan imajinasi mereka. Tak salah memberi ruang dan kesempatan mereka untuk mengajak kita ikut ‘bermain’ dan berkelana dalam persepsi yang bebas. Meski sebagian besar dari sekitar 70 calon seniman yang kami undang tak sempat terlibat dalam pameran kali ini karena alasan padatnya jadual, toh ke-39 seniman yang konfirmasi saat ini bisa memberikan gambaran global perkembangan seni 3 dimensi di Indonesia. Maka kita bisa melihat bagaimana kecenderungan dan pengaruh globalisasi atas batas karya konvensional dan non konvensional, modern mau pun post-modern dalam pameran ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal seniman patung yang terbilang senior seperti Timbul Raharjo, Win Dwi Laksono dan Komroden Haro. Karya-karya yang mereka tampilkan meski terkesan karya konvensional tetapi eksistensi dan gagasannya selalu mampu menunjukkan kekiniannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pameran ini dihasratkan sebagai media retrospektif kami sendiri sebagai representasi ruang pamer selama 3 tahun telah berjalan dan terlebih sebagai rangsangan bagi para seniman yang diundang untuk merespon ruang pamer kami. Ini adalah tantangan baru buat mereka, selain ruang, juga media baru yang harus diolah untuk menjanjikan karya kreatif mereka yang memang layak dan patut diacungi jempol. Bagi para penikmat seni, pameran ini diharapkan bisa memberikan referensi visual, opsi koleksi dan oase di tengah dominasinya karya 2 dimensi. Penuh harap dan optimis ke depan, Jogja Gallery tetap dapat memberikan kontribusi dan warna baru dalam perkembangan seni rupa  khususnya karya-karya 3 dimensi melalui pameran ini dan seterusnya. Pameran ini tidak akan berhasil tanpa ada  dukungan para seniman yang terlibat di dalamnya, untuk itu kami ucapkan terima kasih tak terhingga atas kerja keras dan kerjasamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diandaikan sebagai anak-anak yang sedang bertumbuh, Jogja Gallery di usia belia saat ini, menyadari bahwa mainan [toy] dan bermain [play] merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran mengenai dunia dan tumbuh dewasa. Seperti seorang anak yang menggunakan mainan untuk menemukan identitas, membantu tubuh menjadi kuat, mempelajari sebab dan akibat, mengembangkan hubungan, dan mempraktekkan kemampuan mereka. Mainan lebih dari sekadar bersenang-senang, karena mainan dapat digunakan untuk mempengaruhi aspek kehidupan [sumber: www.plazaanak.com]. Teruslah ‘bermain’ untuk menjadi dewasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, Mei - September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konseptor:&lt;br /&gt;Nunuk Ambarwati&lt;br /&gt;Mewakili tim pameran Jogja Gallery&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-694387613205753998?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/694387613205753998/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=694387613205753998&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/694387613205753998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/694387613205753998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/09/september-ceria.html' title='September Ceria'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SqXxTy9LnlI/AAAAAAAAAMU/VIsNClkH0oE/s72-c/Afdhal,+Wake+Up,+iron,+cable,+210+x+90+x+115+cm,+2009,+Rp+40+Jt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-7393599362339017525</id><published>2009-07-09T12:13:00.003+07:00</published><updated>2009-07-09T12:17:24.802+07:00</updated><title type='text'>Heri-Donology | Jogja Gallery, 15 Juli - 2 Agustus 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SlV9Pc07CJI/AAAAAAAAAL8/vvaaeqOx-lw/s1600-h/BRAND+5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SlV9Pc07CJI/AAAAAAAAAL8/vvaaeqOx-lw/s320/BRAND+5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356325036216748178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-7393599362339017525?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/7393599362339017525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=7393599362339017525&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/7393599362339017525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/7393599362339017525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/07/heri-donology-jogja-gallery-15-juli-2.html' title='Heri-Donology | Jogja Gallery, 15 Juli - 2 Agustus 2009'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SlV9Pc07CJI/AAAAAAAAAL8/vvaaeqOx-lw/s72-c/BRAND+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-6241223056059822045</id><published>2009-06-18T11:23:00.003+07:00</published><updated>2009-06-18T11:26:36.831+07:00</updated><title type='text'>Decorate the Era</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SjnBhzw0lkI/AAAAAAAAALk/6uTX9T8_D6I/s1600-h/21_Figur+Wanita+Jawa,+120+x+140+cm,+acrylic+on+canvas,+2009,+Rp+20+jt.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 278px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SjnBhzw0lkI/AAAAAAAAALk/6uTX9T8_D6I/s320/21_Figur+Wanita+Jawa,+120+x+140+cm,+acrylic+on+canvas,+2009,+Rp+20+jt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348518819053999682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pameran tunggal lukisan karya Anang Asmara&lt;br /&gt;Kurator Mikke Susanto&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta | 20 Juni - 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Kekuatan Batik dan Sosok Perempuan dalam Imajinasi Anang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sejak berdiri&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;pada bulan September 2006, ini merupakan kali ke-8 Jogja Gallery menyelenggarakan pameran tunggal, tercatat diantaranya: Hanafi, AT. Sitompul, Husin, Sujiwo Tejo, Mulyo Gunarso, Soeprapto Soedjono, Solichin dan sekarang Anang Asmara. Dengan berbagai kelebihannya mereka tampil berpameran solo. Bersama Sri Sasanti Gallery sebagai partner kerjasama dan Mikke Susanto sebagai kurator, Jogja Gallery kali ini menggelar karya-karya Anang Asmara dalam pameran tunggalnya yang menampilkan tema &lt;b style=""&gt;‘Decorate the Era’, &lt;/b&gt;20 Juni – 5 Juli 2009&lt;b style=""&gt;.&lt;/b&gt; Anang merupakan seniman yang konsisten dengan karya-karyanya hingga sekarang, bahkan tak jarang kami mengundangnya untuk mengikuti beberapa &lt;i style=""&gt;event&lt;/i&gt; pameran di Jogja Gallery.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busana Jawa terutama batik dan sosok perempuan menjadi ciri khas karyanya. Kebaya, selendang dan aksesorisnya begitu indah melekat pada sosok yang dikaguminya. Melalui kekuatan imajinasi dan kreativitasnya Anang mengabadikannya dalam lukisan. Sebuah perjalanan dan pemikiran panjang tentunya untuk mengungkapnya ke bidang dua dimensional dengan teknik mixed media dan realisnya. Butuh waktu sekitar 2 tahun dia mempersiapkan pameran ini. Semua dilandasi atas kegelisahannya tentang perempuan desa yang hampir ditemuinya setiap saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan RA. Kartini atas kesetaraan hak bagi perempuan, menurutnya jauh dari harapan mereka. Masih banyak ternyata perempuan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang tidak mengenyam dunia pendidikan, bahkan sebagai seorang ibu rumah tangga pun masih banyak yang terabaikan. Sosok ini diungkapkan apa adanya, meski selalu ada kesan yang ditonjolkan pada setiap karya. Potongan figur dalam tampilannya memberikan pesan khusus dengan balutan kain batik khas busana Jawa. Keuletannya dalam tiap ungkap detail baik pada motif batik, draperi (lipatan kain), menjadi daya tarik karya-karyanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melestarikan budaya Jawa adalah salah satu keinginan Anang. Keinginan ini dia padukan dengan keprihatinan perempuan desa yang ditemuinya. Maka terwujudlah karya kombinasi yang sebenarnya sudah awam kita lihat. Dimana biasanya perempuan Jawa yang sudah uzur selalu memakai kebaya, kain panjang [jarik], dan selendang untuk ke pasar, bepergian, bahkan dalam kesehariannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran dan ancaman atas lestarinya budaya batik ini selalu terbias di benak Anang. Sama halnya dengan pudarnya makna dan fungsi atas sosok perempuan tua dan batik pada karyanya. Melalui karya-karyanya, Anang ingin mengusik hati dan pikiran kita, masihkah kita memiliki rasa cinta terhadap apa yang kita miliki dan kita banggakan selama ini? Tak ada kata terlambat tentunya, mari kita apresiasi karya ini dengan penuh cinta dan rasa memiliki apa yang patut kita miliki, sebelum semua pudar, sebelum semua hilang. Melalui pameran ini, semoga kehadiran karya-karya yang di pamerkan di Jogja Gallery bisa di apresiasi dengan baik oleh sesama perupa, pecinta seni, sahabat, kolega dan masyarakat pada umumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sukses dan selamat berpameran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;, April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Manajemen Jogja Gallery&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-6241223056059822045?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/6241223056059822045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=6241223056059822045&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6241223056059822045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6241223056059822045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/06/decorate-era.html' title='Decorate the Era'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SjnBhzw0lkI/AAAAAAAAALk/6uTX9T8_D6I/s72-c/21_Figur+Wanita+Jawa,+120+x+140+cm,+acrylic+on+canvas,+2009,+Rp+20+jt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-4031833850088570340</id><published>2009-06-13T10:38:00.005+07:00</published><updated>2009-06-18T13:32:50.824+07:00</updated><title type='text'>Ayo ke Pasar Sobo Alor!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SjnfP8NqnqI/AAAAAAAAALs/8XdOqdsxxtw/s1600-h/alor+1+edit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SjnfP8NqnqI/AAAAAAAAALs/8XdOqdsxxtw/s320/alor+1+edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348551497433652898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;PASAR SETIAP SABTU DI JOGJA GALLERY&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Jogja Gallery [JG],&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; sebuah galeri seni rupa terletak di lokasi strategis, yakni di nol kilometer &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; [tepatnya Alun-alun Utara] terinspirasi membuat pasar kaget, dimana kemudian kami juduli dengan &lt;b&gt;‘PASAR SOBO ALOR’.&lt;/b&gt; Pasar ini hanya berlangsung &lt;b&gt;setiap Sabtu, mulai pukul 15.00 - 21.00 WIB.&lt;/b&gt; Rencananya kami akan menggunakan areal selasar, lobby, gazebo dan halaman depan kompleks Jogja Gallery, yang memuat 20 stand yang akan kami sediakan[baik untuk stand kuliner maupun non-kuliner] .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Nama pasar tiap Sabtu ini sendiri diilhami dari lokasi dimana kami berdiri, yakni &lt;b&gt;Sobo&lt;/b&gt;, karena gedung yang ditempati Jogja Gallery saat ini merupakan bekas gedung bioskop Soboharsono. Gedung bioskop Soboharsono sangat familiar dengan penduduk kota Yogyakarta, berdiri dan berfungsi sejak jaman penjajahan Belanda [tahun 1929]. Arti kata 'Sobo' dalam bahasa Jawa adalah &lt;i&gt;berkunjung, mengunjungi, &lt;/i&gt;atau bisa juga &lt;i&gt;pergi ke suatu tempat. &lt;/i&gt;Maka diharapkan pasar ini nanti juga menjadi daya tarik dan tujuan utama masyarakat tiap akhir pekan untuk &lt;i&gt;refreshing&lt;/i&gt;, belanja sekaligus mengapresiasi pameran di Jogja Gallery. Dengan penggunaan kata 'Sobo' itu sendiri, Jogja Gallery tidak ingin melupakan sejarah dan kenangan atas gedung bioskop Soboharsono. Sedangkan kata &lt;b&gt;Alor&lt;/b&gt;, merupakan akronim dari Alun-alun Lor atau Alun-alun Utara, yang menjadi salah satu ikon kota Yogyakarta dan berdekatan dengan kompleks Alun-alun Utara itu pulalah pasar tersebut terselenggara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Kami akan memulai event ini hari Sabtu, tanggal 20 Juni nanti bersamaan dengan acara pembukaan pameran tunggal seni lukis Anang Asmara, bertema 'Decorate the Era'. Sebagai penanda penyelenggaraan perdana, kami hanya akan menarik &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;iuran Rp. 30.000,-/Stand/ Minggu&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Dengan &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;fasilitas yang akan kami sediakan sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Georgia;" &gt;- Air&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Georgia;" &gt;- Listrik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Georgia;" &gt;- Space 2 x 3 m&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Georgia;" &gt;- 2 Kursi dan 2 Meja&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Georgia;" &gt;- Promosi/publikasi [brosur dan media online]&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Georgia;" &gt;- Keamanan &amp;amp; Parkir&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pendaftaran Stand&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, kami mengundang rekan dan kolega yang memiliki usaha yang unik, berbeda dari yang lainnya dan original untuk mengisi lowongan stand yang kami tawarkan. &lt;b&gt;Pendaftaran lowongan stand kami buka selalu.&lt;/b&gt; Formulir pendaftaran dapat diambil di Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta pada hari dan jam kerja [[Selasa-Sabtu, jam 09.00 – 17.00 WIB]. Hubungi Saudara Aji atau Saudari Atik. [Apabila melebihi quota, Jogja Gallery akan menyeleksi stand untuk mendapatkan kesempatan di lain waktu].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;b&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Informasi lebih lanjut, silakan hubungi:&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery [JG]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-Alun Utara, Yogyakarta 55000, Indonesia&lt;br /&gt;Phone +62 274 419999, 412021, 7161188&lt;br /&gt;Phone/Fax +62 274 412023&lt;br /&gt;Email [1] jogjagallery@ yahoo.co. id | [2] info@jogja-gallery. com&lt;a href="http://www.jogja-gallery.com/" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;br /&gt;www.jogja-gallery. com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-4031833850088570340?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/4031833850088570340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=4031833850088570340&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4031833850088570340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4031833850088570340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/06/ayo-ke-pasar-sobo-alor.html' title='Ayo ke Pasar Sobo Alor!'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SjnfP8NqnqI/AAAAAAAAALs/8XdOqdsxxtw/s72-c/alor+1+edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3144586644028993135</id><published>2009-05-16T18:41:00.004+07:00</published><updated>2009-05-16T18:46:02.724+07:00</updated><title type='text'>Mixed Art Management</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sg6m2oQoKLI/AAAAAAAAALc/js7UNhUNF6s/s1600-h/LOGO.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 157px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sg6m2oQoKLI/AAAAAAAAALc/js7UNhUNF6s/s320/LOGO.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5336386065930922162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sebuah manajemen seni yang terorganisir rapi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;open&lt;/span&gt;, praktis, cepat dan sesuai dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;budget&lt;/span&gt; sangat dibutuhkan setiap saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Berdasar itulah dengan kerendahan hati, kami mendirikan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mixed Art Management [MAM]&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAM&lt;/span&gt; merupakan manajemen seni [berdiri April 2009] yang dikelola secara independen berbasis di &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Meski terhitung baru berdiri, tetapi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAM&lt;/span&gt; terdiri dari individu-individu yang berpengalaman mengelola event seni dan profesional di bidangnya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Untuk itu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAM&lt;/span&gt; berupaya bekerja dengan efektif, tepat waktu dan efisien. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MAM&lt;/span&gt; akan membantu kebutuhan Anda untuk menyelenggarakan dan mengorganisir &lt;span style="font-style: italic;"&gt;event-event&lt;/span&gt; kesenian dengan spesifikasi jasa:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;DISPLAY&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;PACKING [Karya dan Non Karya Seni]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;MEDIA RELATION [Mengorganisir konferensi pers, promosu dan publikasi event].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan segan segera hubungi kami untuk keperluan event Anda, kontak person:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Nunuk Ambarwati +62 81 827 7073&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;R. Daru Artono +62 856 4389 8779&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;email: mixed_artmanagement@yahoo.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3144586644028993135?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3144586644028993135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3144586644028993135&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3144586644028993135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3144586644028993135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/05/mixed-art-management.html' title='Mixed Art Management'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sg6m2oQoKLI/AAAAAAAAALc/js7UNhUNF6s/s72-c/LOGO.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-4349304499929796106</id><published>2009-04-16T20:09:00.002+07:00</published><updated>2009-04-16T20:17:48.619+07:00</updated><title type='text'>Kisah di Balik Koleksi</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Secv2UUH18I/AAAAAAAAALM/2oOlYbuG01s/s1600-h/IMG_4072.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325277694601451458" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 214px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Secv2UUH18I/AAAAAAAAALM/2oOlYbuG01s/s320/IMG_4072.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;70 Tahun OHD&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;‘Kisah di Balik Koleksi’&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pameran seni visual yang mengetengahkan sebagian koleksi dari dr. Oei Hong Djien OHD&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta  12 April – 3 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bilang, kalau kamu tidak pernah dapat lukisan palsu, lukisan keliru, kamu belum bisa disebut kolektor. Karena belum membayar uang kuliah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi yang akan ditampilkan dalam pameran ini merupakan karya-karya dari para perupa berikut ini:&lt;br /&gt;Abas Alibasyah, Affandi, Agus Kamal, Ahmad Sadali, Amrus Natalsya, Arlan Kamil, Andrew Kenneth Jack, Bambang Soegeng, Djoko Pekik, Donald Friend, Earl Lu, Edi Sunaryo, Entang Wiharsa, G. Sidharta Soegijo, H. Widayat, Hendra Gunawan, I Made Wiradana, I Nyoman Gunarsa, I Nyoman Masriadi, Ivan Sagito, Kartika Affandi, Koentjoro, Kwee Ing Tjiong, Mochtar Apin, Nasirun, Pletser, Pupuk Daru Purnomo, Picasso [poster], Raden ‘Salah’, Rudi Mantofani, S. Sudjojono, Santoso, Sidik W. Martowidjojo, Srihadi Soedarsono, Suraji, Sutopo, Syahrizal Koto, Trubus Soedarsono, Ugo Untoro, Yunizar, Yuswantoro Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini sebagai penanda kecintaan dr. Oei Hong Djien/ OHD mengoleksi karya-karya perupa Indonesia, juga sebagai upaya sosialisasi akan dibangunnya museum koleksi OHD dan memperingati usia beliau yang ke 70 di tahun ini, Jogja Gallery bersama dr. Oei Hong Djien dan Museum OHD akan menggelar pameran koleksi dr. Oei Hong Djien, di Jogja Gallery, Yogyakarta, 12 April – 3 Mei 2009 dengan tajuk &lt;strong&gt;‘Kisah di Balik Koleksi’.&lt;/strong&gt; Untuk itu pembukaan pameran akan dibuka bersama-sama oleh beberapa perupa antara lain Djoko Pekik, Nasirun, Heri Dono, Putu Sutawijaya dan Yuswantoro Adi, Samuel Indratma dan Bambang Herras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini merupakan kebanggaan dan kesempatan luar biasa bagi Jogja Gallery, dimana untuk kali pertamanya di Indonesia, pameran yang mengkhususkan koleksi dr. Oei Hong Djien. Pameran koleksi ini nantinya akan lebih mengedepankan perihal kisah-kisah di balik proses mengoleksi dan karya itu sendiri. Kisahnya tentu beragam, publik akan mendapati kisah-kisah unik, kisah sedih, kisah lucu, bahkan tragis atas upaya pengkoleksian, merawat karya, bertransaksi dan seterusnya. Sehingga pemilihan karya untuk pameran ini berdasarkan keunikan-keunikan masing-masing karya, tidak semata berdasarkan kualitas, penanda jaman [dekade] atau aliran seni. Publik akan disuguhi 47 karya yang terdiri dari 6 karya patung dan 41 karya lukis. Ke-47 karya tersebut dipilih sendiri oleh OHD khusus untuk pameran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pameran ini diharapkan publik akan lebih memahami bagaimana sebuah hubungan sosial, psikologis hingga ekonomi terjalin antara seorang kolektor dengan koleksi mau pun dengan perupanya sendiri; dengan mengambil contoh kasus-kasus/kisah-kisah unik yang berhubungan dengan proses mengoleksi karya. Publik juga bisa membaca dan mengambil hal positif perihal bagaimana mengoleksi karya seni. Dan terlebih adalah kecintaan yang sesungguhnya dari seorang yang disebut kolektor seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut salah satu petikan kisah uniknya, dimana OHD saat itu ingin sekali mendapatkan karya Affandi berjudul ‘Adu Ayam, oil on canvas, 100 x 160 cm tahun 1982.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mencicil 1 tahun&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kala itu OHD sudah memiliki cukup uang untuk bisa membeli karya. OHD pun ingin memiliki karya Affandi. Bersama Kwee Ing Tjiong, OHD dan istri, bertandang ke rumah Affandi yang saat itu hendak pameran tunggal. Pada akhirnya ada 3 lukisan Affandi yang hendak dibeli, namun OHD tidak cukup uang. Affandi menyarankan OHD untuk mencicil pembayaran. ‘Berapa lama?’, tanya OHD. ‘&lt;em&gt;Sakgeleme &lt;/em&gt;[semaumu, red.]’, timpal Affandi. ‘Kalau mau mencicil, malah saya kasih korting [diskon, red.] 10 persen’, tambah Affandi. Karena dengan cara mencicil tersebut, Affandi sudah tidak pusing memikirkan biaya kebutuhan rumah per bulannya. Dan akhirnya ketiga lukisan tersebut, merupakan lukisan Affandi yang pertama kali dibeli OHD di tahun 1982 dengan cara mencicil pembayaran selama 1 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Profil dr. Oei Hong Djien&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dr. Oei Hong Djien/OHD lahir di Magelang, Jawa Tengah 5 April 1939, adalah seorang pensiunan dokter. Ia lulus dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia tahun 1964 dan, menempuh pendidikan magister Pathological Anatomy di Universitas Katholik Nijmegen, Netherlands [1966-1968]. Menikah dengan Wilowati Soerjanto di tahun 1977 dan dikaruniai 2 putra, yakni Igor [lahir tahun 1978] dan Omar [1980]. Istrinya telah meninggal dunia di tahun 1992. OHD pernah bekerja sebagai dokter sukarelawan di Magelang dan Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia [1964-1966, 1968-1991]. Ia juga seorang ahli tembakau dan sebagai mitra bisnisnya sejak tahun 1979, Djarum, salah satu perusahaan rokok kretek terkemuka di Indonesia. Dalam mengkoleksi karya seni sesungguhnya lebih banyak dibiayai dari bisnisnya tembakau dibandingkan dari profesinya sebagai dokter. Ia mulai mengkoleksi lukisan lebih dari dua puluh tahun lalu, dan baru kemudian meluaskan minatnya pada patung. Dr. Oei pernah menjalankan perannya sebagai kurator Museum H. Widayat dalam peresmiannya tahun 1994 meski pun sekarang telah resmi mengundurkan diri. Hingga saat ini masih tercatat sebagai honorary adviser di Singapore Art Museum, Singapura dan anggota dewan penasehat Jogja Gallery, Yogyakarta sejak 2006. Ia juga banyak menulis pengantar dan esai untuk katalog pameran dan buku-buku seni rupa, menjadi juri dalam berbagai kompetisi seni visual dan sering diminta untuk membuka pameran di berbagai tempat. Pada tahun 1997, Dr. Oei membuka sebuah museum milik pribadi di Magelang yang digunakan untuk memajang koleksi-koleksi karya seninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;- Wawancara dengan dr. Oei Hong Djien, di kediaman beliau, Magelang, Jawa Tengah, tanggal 10 Maret 2009.&lt;br /&gt;- Exploring Modern Indonesian Art: The Collection of dr. Oei Hong Djien, penulis Dr. Helena Spanjaard, penerbit dr. Oei Hong Djien, terbit tahun 2004.&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://www.ohd-artmuseum.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;www.ohd-artmuseum.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;In Memoriam Andrew Kenneth Jack&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbarengan dengan digelarnya pameran koleksi OHD, Jogja Gallery bersama Arwinda Hurip bermaksud memperkenalkan kembali sosok Andrew Kenneth Jack, yang selanjutnya lebih sering dipanggil Andrew Jack atau AJ saja. AJ merupakan perupa kelahiran New Zealand [1963] dan lebih banyak berkarya di Australia. Memang baru pertama kali menggelar beberapa karyanya di pameran bersama Jogja Gallery bulan Januari lalu dengan tema ‘Fresh 4 U’. AJ bahkan tertantang untuk menggelar pameran tunggal di ruang pamer Jogja Gallery suatu hari nanti. Di saat rencana sedang ditata dan pameran ‘Fresh 4 U’ masih berlangsung, kami mendengar kabar meninggalnya AJ di Byron Bay, Australia, tepatnya tanggal 17 Februari 2009. Kabar itu tentu membuat kaget banyak pihak, terutama Arwinda Hurip sebagai istri. Untuk itu, tak ada salahnya kiranya, sebuah gelar sederhana kami hadirkan, untuk mengenang sosok AJ. Berikut petikan kenangan salah satu rekan AJ yang sempat dikirimkan melalui email kepada Arwinda Hurip.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Saya bertemu dengan Andrew Jack dua kali sewaktu ia berkunjung ke Solo sekitar tahun 2006. Sebelumnya saya hanya mengenal dia lewat lukisan, ceritera konyol dan penyakit yang dideritanya. Ketika bertemu, saya punya kesan bahwa ia adalah orang yang rendah hati, peka terhadap keadaan sekitar dan amat mudah memberi apa yang dimilikinya. Kesadaran akan penyakit yang dideritanya, membuat ia menjadi disiplin dalam mengatur ritme hidup. Ia dengan ketat mentaati aturan kapan harus minum obat, makan maupun istirahat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Tentang lukisannya, saya tidak bisa bicara banyak. Pengetahuan saya hanya sebatas lukisan yang dipasang di kamar tamu Arwinda, album dan lukisan yang dipamerkan di Balai Sujatmaka. Dari apa yang saya lihat, saya mengagumi keberanian dan kehebatannya dalam memilih warna, gaya ke"kanak-kanak"annya dalam menuangkan ide.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Meski baru bertemu dua kali, saya merasa seperti telah bersahabat lama. Saya begitu terkejut dan merasa sangat kehilangan sewaktu Arwinda memberi tahu bahwa Andrew K Jack meninggal. Semoga arwahnya beristirahat dalam damai setelah ia menderita sakit yang cukup lama di muka bumi ini. Semoga karya-karya yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi terus memancarkan sumbangannya dalam dalam dunia seni.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Andrew, selamat jalan.&lt;br /&gt;Cambodia, 2 April 2009&lt;br /&gt;J. Mardiwidayat SJ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Profil Andrew Kenneth Jack&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lahir: New Zealand, 25 Maret 1963&lt;br /&gt;Pendidikan: 1978 – School of Certificate Art. 1979 – University Entrance, Art, New Zealand&lt;br /&gt;Aktifitas pameran: 2009 – ‘Fresh 4U’, Jogja Gallery, Yogyakarta. 2007 – Pameran tetap, 4/15 Grevillea St. Arts and Industry Estate, Byron Bay, Australia 2006 – Mendirikan Andrew K. Jack Fine Art Gallery 2005 – Melbourne Art Show  Sydney Art Show  Singapore Art Show&lt;br /&gt;Pameran tunggal : 2006 – Art Gallery Collections, Gold Coast Melbourne Art Show. 2005 – Galleries Dauphin / Om Goddess&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Terima kasih kami sampaikan kepada:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;- Bapak dr. Oei Hong Djien dan keluarga besar.&lt;br /&gt;- Museum Oei Hong Djien, Bapak Aryo Pinandoyo beserta seluruh staf.&lt;br /&gt;- Ibu Arwinda Hurip dan keluarga besar.&lt;br /&gt;- Mr. Sean Flakelar [General Manager Amanjiwo].&lt;br /&gt;- Ibu Andonowati&lt;br /&gt;- Bapak Soekeno&lt;br /&gt;- Perupa yang membuka pameran&lt;br /&gt;- Rekan-rekan jurnalis dan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Release ini dipublikasikan oleh:&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Jogja Gallery [JG]&lt;br /&gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000&lt;br /&gt;Phone +62 274 419999, 412021&lt;br /&gt;Phone/Fax +62 274 412023&lt;br /&gt;Email &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt; / &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://jogja-gallery.com/"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;http://jogja-gallery.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-4349304499929796106?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/4349304499929796106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=4349304499929796106&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4349304499929796106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4349304499929796106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/04/kisah-di-balik-koleksi.html' title='Kisah di Balik Koleksi'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Secv2UUH18I/AAAAAAAAALM/2oOlYbuG01s/s72-c/IMG_4072.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3120410882033923210</id><published>2009-03-25T22:47:00.003+07:00</published><updated>2009-04-16T20:21:19.949+07:00</updated><title type='text'>up:DATE 2009</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;PERS RELEASE&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;up:DATE 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;ACARA&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: up:DATE 2009, HONF Europe tour 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;TANGGAL&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: 1 April – 8 Mei 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;PERUPA&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;: HONF artist&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 97pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;1.&lt;span style="font-family:';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Venzha&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 97pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;2.&lt;span style="font-family:';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Irene ‘Ira’ Agrivina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 97pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;3.&lt;span style="font-family:';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Tommy Surya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 97pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;4.&lt;span style="font-family:';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Jullian ‘Togar’ Abraham&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 97pt; TEXT-INDENT: -18pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;5.&lt;span style="font-family:';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Andreas Siagian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Up:DATE merupakan sebuah proyek seni yang diprakarsai oleh HONF , the house of natural fiber, Yogyakarta Media&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Art Laboratory. Dalam rangka kiprah 10 tahun HONF berdiri dan berkarya di bidang new media art, HONF membuat serangkaian program dan acara baik scara lokal maupun internasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF sendiri sebuah bentuk lembaga non profit yang bekerja dengan berbasis komunitas. Pada awal didirikan pada tahun 1999, HONF memulai mencoba menggabungkan seni dan teknologi, yang disebut &lt;b&gt;juga &lt;/b&gt;sebagai&lt;b&gt; &lt;i&gt;new media art&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Setelah &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; melintang, keberadaannya diterima dengan baik, secara lokal maupun internasional. HONF telah mengikuti beberapa festival bergengsi yang diadakan di seluruh dunia, sedangkan HONF sendiri juga memiliki dua buah festival yang bertaraf Internasional yang diadakan secara berkala setiap tahunnya di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Pada tahun 2009 HONF menerima berbagai undangan dan dukungan untuk melakukan serangkaian festival dan kegiatan di sejumlah negara. Dan HONF juga akan melakukan serangkaian kegiatan yang tercakup dalam CELLSBUTTON #3 Yogyakarta International Media Art Festival yang akan diikuti sejumlah artis berskala internasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Up:DATE sendiri adalah sebuah proyek yang merupakan perpanjangan dari Education Focus Program ( EFP), yaitu sebuah program yang dicanangkan oleh HONF sebagai program utama untuk menyikapi situasi yang terjadi di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang. Tujuan utama dari EFP adalah untuk membangun sebuah pola pikir moderen akan masa depan teknologi yang berbasis pada&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;kegunaan, kebutuhan dan pengetahuan. EFP melewati berbagai batasan, strata ataupun golongan untuk mendapatkan hasil yang maksimal di bidang pengetahuan, dengan latar belakang berbagai macam lintas disipliner.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Selaras dengan EFP maka proyek up:DATE ini mengambil moto dan pepatah dari Kerajaan Majapahit untuk diteruskan pada masa kini : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;up:DATE obyektif adalah untuk memperkuat kolaborasi antara institusi independen. Mengacu pada hal ini, kolaborasi yang kuat dalam praktisi edukasi di bidang &lt;i&gt;New Media Art&lt;/i&gt; antara Eropa dan Asia, Indonesia pada khususnya akan dapat diraih dan memperkaya perkembangan jaringan kerja dalam bidang &lt;i&gt;New Media Art.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Pertukaran pengetahuan dan budaya yang mendasari kerjasama ini sebagai satu komunitas antar seniman di up:DATE, akan membuat sebuah pemahaman yang saling menguntungkan dan perasaan saling memiliki, baik antar personal maupun tingkat institusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF akan terlibat&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;dan memprakarsai&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;sejumlah kegiatan di beberapa institusi dan festival, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;Pixelache Festival of Electronic Arts and Subculture – &lt;st1:city st="on"&gt;Helsinki&lt;/st1:city&gt; (&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Finland&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Pixel Ache merupakan sebuah festival berskala Internasional .Disini HONF akan melakukan sejumlah performance dan pameran sound instalasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="2"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;HONF-Son:da / Slovenia Universities Tour – &lt;st1:city st="on"&gt;Maribor&lt;/st1:city&gt;, Lljuabna (&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Slovenia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF bersama sama dengan Son:da akan melakukan workshop dan presentasi pada beberapa universitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="3"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;HONF – Avmotional – &lt;st1:city st="on"&gt;Bucharest&lt;/st1:city&gt; (&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Romania&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF akan melakukan residesi dan open studio, serta melakukan workshop dan performance, dimana warga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Romania&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dapat melakukan interaksi secara langsung terhadap karya dan perupa HONF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="4"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;HONF – Kitchen &lt;st1:city st="on"&gt;Budapest&lt;/st1:city&gt; – &lt;st1:city st="on"&gt;Budapest&lt;/st1:city&gt; (&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Hungary&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF akan melakukan artist talk, presentasi dan research selama kunjungan di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Budapest&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang akan dilakukan di Kitchen Budapest.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="5"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;Enter Festival -&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Ciant – &lt;st1:city st="on"&gt;Prague&lt;/st1:city&gt; ( &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Czech Republic&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF akan melakukan presentasi dan performance selama mengikuti festival ini. Enter Festival adalah salah satu festival bergengsi di Eropa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="6"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;HONF-Upgrade Paris – Paris ( &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;France&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Di Paris HONF akan menjadi salah satu pembicara pada acara diskusi yang diadakan oleh Upgrade Paris. Upgrade adalah sebuah open platform yang keberadaannya tersebar di beberapa negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="7"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;HONF – Fablab Amsterdam –&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Amsterdam&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; ( Netherland)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-LEFT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;HONF akan melakukan research dan workshop bekerjasama dengan Fablab Amsterdam. Research ini akan mencoba untuk membuat sebuah inovasi pada kaki palsu, yang nantinya akan diterapkan di YAKKUM rehabilitation centre &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Untuk kali ini HONF mendapat dukungan dan support dari &lt;b&gt;ASEF Asean Europe Fondation, British Council dan Slovenian Ministry of Culture&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt; perupa yang terlibat pada proyek up:Date ini akan berkolaborasi dengan beberapa perupa dari masing – masing negara yang dituju untuk memaksimalkan kerja kolaborasi dan lebih membuka hubungan mutualisme di masa mendatang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Adapun perupa-perupa yang terlibat dari HONF adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Venzha, &lt;i&gt;sound dan installation artist&lt;/i&gt;, salah satu founder dari HONF .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Irene Agrivina, &lt;i&gt;Artist and independent curator&lt;/i&gt;, salah satu fonder dari HONF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Tommy Surya,&lt;i&gt; Video Artist&lt;/i&gt;, salah satu founder dari HONF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Jullian’Togar’ Abraham&lt;i&gt;, Artist and Media Activist&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Andreas Siagian, &lt;i&gt;Artist dan Environment Activist&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Demikian &lt;i&gt;pers release&lt;/i&gt; kami,, semoga program ini dapat berkelanjutan dan berjalan dengan baik. Diharapkan proyek ini dapat membawa hasil yang berguna bagi kemajuan bangsa dan negara &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, dan menempatkan bangsa kita pada kedudukan yang terhormat di mata dunia. Kami mengucapkan terimakasih&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;atas dukungan dan kerjasama rekan –rekan pers dan wartawan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi saudara/I &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Tommy Surya R. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;+62 818469445&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;a href="mailto:timotius.one@gmail.com"&gt;&lt;br /&gt;timotius.one@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol style="MARGIN-TOP: 0cm" type="1" start="2"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Irene Agrivina&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;+62 81915561921&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;a href="mailto:agrivine@yahoo.com"&gt;&lt;br /&gt;agrivine@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Untuk keterangan lebih lanjut dapat mengunjungi situs kami &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.natural-fiber.com/"&gt;http://www.natural-fiber.com/&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt;Salam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;HONF the house of natural fiber&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;" &gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:Georgia;font-size:100%;"  &gt; Media Art Laboratory&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jl. Wora-wari no A6/80&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Baciro Yogyakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3120410882033923210?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3120410882033923210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3120410882033923210&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3120410882033923210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3120410882033923210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/03/update-2009.html' title='up:DATE 2009'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-4096544304855173963</id><published>2009-03-14T11:38:00.003+07:00</published><updated>2009-03-14T11:44:13.111+07:00</updated><title type='text'>Z.z..z... Photography</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sbs10n8xXnI/AAAAAAAAALE/8fCJ5VerqBc/s1600-h/poster+edit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 265px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sbs10n8xXnI/AAAAAAAAALE/8fCJ5VerqBc/s400/poster+edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312899363606978162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:16;"  &gt;Pameran tunggal fotografi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;‘Z.Z..Z…PHOTOGRAPHY’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Karya Soeprapto Soedjono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Jogja Gallery, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; | 21 Maret – 5 April 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pembukaan hari Sabtu, 21 Maret 2009, pkl 19.00 WIB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pameran akan dibuka oleh Arbain Rambey [fotografer senior SKH Kompas]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Genre karya-karya fotografi &lt;i style=""&gt;‘human interest’&lt;/i&gt; biasanya menampilkan subjek dengan berbagai aspek tentang manusia dalam beragam aktifitas kehidupan sehari-harinya. Baik itu yang menyangkut kegiatan yang dilakukannya secara sadar sebagai manifestasi sikap, gerak-gerik, dan tingkah lakunya untuk tujuan tertentu maupun yang merefleksikan hal-hal yang dilakukan sebagai kegiatan yang tidak disadari atau ‘ketidaksengajaan’. Namun tidak semua yang terekam oleh kamera karena bersubjek manusia selalu dapat dikategorikan sebagai karya foto &lt;i style=""&gt;‘human interest’&lt;/i&gt;. Hanya yang memiliki nilai &lt;i style=""&gt;‘interest’&lt;/i&gt; sajalah yang layak dapat dikategorikan sebagai karya foto dalam genre tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Hal ini juga mendukung pernyataan bahwa ‘manusia suka melihat manusia’ sehingga apapun yang menampilkan manusia dalam berbagai kehidupannya selalu akan menarik untuk dilihat dan diamati karena sebetulnya ‘ia sedang mengamati dirinya juga’. Apalagi bila yang dilihatnya tadi memiliki daya tarik yang unik dan tidak biasanya, ataupun juga karena sering terlihat disekitarnya sebagai sesuatu yang &lt;i style=""&gt;‘given’&lt;/i&gt; dan setelah ditampilkan kembali dalam lingkup konteks yang berbeda maka tampilannya menjadi lebih &lt;i style=""&gt;‘appealing’&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Salah satu dari banyak karya foto yang dapat disebut dalam genre tersebut adalah yang menampilkan manusia sedang tidur, namun menampilkan manusia sedang tidur pada saat yang bukan waktunya tidur. Yaitu pada waktu dia sedang melakukan pekerjaan rutinnya dan sempat terlelap sambil berada di tempat yang bukan semestinya untuk tidur. Mereka terekam ‘sedang tidur’ dengan sikapnya yang apa adanya sebagai suatu tampilan &lt;i style=""&gt;‘snapshot’&lt;/i&gt; tanpa ada upaya rekayasa dan dengan sikap &lt;i style=""&gt;gesture&lt;/i&gt; yang alami. Di sinilah daya tarik atau nilai &lt;i style=""&gt;‘appeal’&lt;/i&gt; dari karya-karya foto tersebut yang menampilkan subjeknya secara alami apa adanya dengan lingkup konteks &lt;i style=""&gt;‘human interest’&lt;/i&gt;. Itulah mengapa tampilan karya-karya foto manusia yang sedang tidur dengan sikap yang berbagai tersebut diberi tajuk “Z.z..z… PHOTOGRAPHY.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:14;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; Informasi dan kontak selanjutnya:&lt;br /&gt;Jogja Gallery [JG]&lt;br /&gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta&lt;br /&gt;Tel. +62 274 419999, 412021&lt;br /&gt;Tel/fax +62 274 412023&lt;br /&gt;email jogjagallery@yahoo.co.id | info@jogja-gallery.com&lt;br /&gt;http://jogja-gallery.com&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-4096544304855173963?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/4096544304855173963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=4096544304855173963&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4096544304855173963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4096544304855173963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/03/zzz-photography.html' title='Z.z..z... Photography'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sbs10n8xXnI/AAAAAAAAALE/8fCJ5VerqBc/s72-c/poster+edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-4175625076678181910</id><published>2009-03-12T16:23:00.004+07:00</published><updated>2009-03-12T17:03:36.228+07:00</updated><title type='text'>Menyelami Jiwa yang Nyeni</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SbjcqrS7peI/AAAAAAAAAK0/gzbSuzUZmQs/s1600-h/edit_02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 372px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SbjcqrS7peI/AAAAAAAAAK0/gzbSuzUZmQs/s400/edit_02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312238386218247650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Femina no 11/XXXVII | 14-20 Maret 2009 | halaman 53-54&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nunuk Ambarwati [32]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Profesi: Manajer Galeri&lt;br /&gt;Pengalaman: 5 Tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Job Desk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tugas utama manajer galeri adalah mengelola program pameran di sebuah galeri secara berkala. Program-program tersebut diharapkan bisa mendukung kelangsungan galeri. Ia juga bertanggung jawab atas pencitraan galeri di mata masyarakat luar. Salah satu caranya adalah dengan konsisten menjalankan visi dan misi galerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada latar belakang khusus yang dibutuhkan untuk profesi ini. Memang ada bidang pendidikan khusus yang berkaitan, yakni manajemen seni. Sayangnya, bidang itu masih merupakan salah satu mata kuliah pilihan di jurusan seni rupa, belum menjadi sebuah jurusan tersendiri. Tapi, yang pasti, kemampuan manajerial sangat dibutuhkan dalam profesi ini agar bisa menjalankan tugas manajemen dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan dan minat seni juga menjadi modal penting. Kalau pun ia tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia seni, minimal ia punya minat di bidang tersebut dan memiliki kemauan untuk belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Tantangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, tidak sedikit galeri yang terpaksa tutup di tengah jalan karena kehabisan dana. Untuk itu, upaya membuat galeri bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama, menjadi tantangan tersendiri. Agar hal itu terwujud, kombinasi antara ambisi idealisme dan bisnis harus seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan lain adalah melakukan edukasi kepada komunitas pecinta seni baru dengan cara menggelar berbagai program menarik. Selain itu, saya pribadi juga masih tertantang untuk menggelar pameran berskala besar atau bahkan internasional, dengan membawa bendera galeri tempat saya bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Hambatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari internal perusahaan, saya sering ketiban pekerjaan tambahan yang cukup menyita waktu, yaitu memberi edukasi seni kepada rekan kerja baru yang umumnya tidak berlatar belakang pendidikan seni. Sebaliknya, jika rekan yang saya ajak kerja sama berasal dari dunia seni, masalah lain muncul. Saya justru kesulitan menerapkan aturan kerja, karena jiwa mereka yang terlalu nyeni. Hambatan eksternal, salah satunya menyangkut kesulitan akses ketika akan menjalin hubungan dengan pihak pemerintah. Akses yang relatif ribet dan memakan biaya, membuat kami sering merasa frustasi saat bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Peluang Karier&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terbuka cukup lebar. Banyak pemilik atau pengelola galeri yang mengaku kesulitan mencari tenaga kerja untuk mengisi posisi sebagai manajer galeri. Saya sendiri kerap kesulitan jika diminta merekomendasikan seseorang untuk mengisi posisi itu. Karena, sumber dayanya masih sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Penghasilan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Cukup baik, meski jumlahnya biasanya memang masih lebih rendah dibandingkan penghasilan manajer sebuah perusahaan swasta. Tapi, dengan jam kerja fleksibel yang diterapkan di tempat kerja saya, saya masih bisa menambah penghasilan dari beberapa pekerjaan sampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Keunggulan Wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Umumnya posisi manajer galeri ditempati seorang wanita. Pasalnya, sisi-sisi kewanitaan [misalnya, kesabaran, kegigihan, ketekunan hingga keluwesan] menjadi nilai lebih dalam melakukan pekerjaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ikrima Nurfikria [Redaktur Majalah Femina].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-4175625076678181910?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/4175625076678181910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=4175625076678181910&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4175625076678181910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/4175625076678181910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/03/menyelami-jiwa-yang-nyeni.html' title='Menyelami Jiwa yang Nyeni'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SbjcqrS7peI/AAAAAAAAAK0/gzbSuzUZmQs/s72-c/edit_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2634610741057759911</id><published>2009-03-04T16:04:00.002+07:00</published><updated>2009-03-04T16:17:04.559+07:00</updated><title type='text'>Thanks Dani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sa5GoM_qSyI/AAAAAAAAAKs/nIqygU2UM7E/s1600-h/Gambar+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 359px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sa5GoM_qSyI/AAAAAAAAAKs/nIqygU2UM7E/s400/Gambar+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309258667213343522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2634610741057759911?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2634610741057759911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2634610741057759911&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2634610741057759911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2634610741057759911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/03/thanks-dani.html' title='Thanks Dani'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Sa5GoM_qSyI/AAAAAAAAAKs/nIqygU2UM7E/s72-c/Gambar+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2904575352296356306</id><published>2009-02-19T14:53:00.005+07:00</published><updated>2009-02-20T16:39:16.167+07:00</updated><title type='text'>Nc Dream Mb...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZ0Qri3vRuI/AAAAAAAAAKU/Gn8q9Lf2EWU/s1600-h/08_02_2008_0330748001202465344_gary_engel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZ0Qri3vRuI/AAAAAAAAAKU/Gn8q9Lf2EWU/s400/08_02_2008_0330748001202465344_gary_engel.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304414276393322210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perhiasan terindah adalah kerendahan hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kasih yang terpuji adalah kesetiaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kekayaan terbesar adalah kejujuran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Senjata terkuat adalah kesabaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengaman terpenting adalah iman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Obat termanjur adalah doa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[SMS dari H. Oktya Dewi, 18 Februari 2009, 22:48 WIB]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2904575352296356306?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2904575352296356306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2904575352296356306&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2904575352296356306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2904575352296356306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/02/nc-dream-mb.html' title='Nc Dream Mb...'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZ0Qri3vRuI/AAAAAAAAAKU/Gn8q9Lf2EWU/s72-c/08_02_2008_0330748001202465344_gary_engel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5702728213501470834</id><published>2009-02-19T12:03:00.010+07:00</published><updated>2009-03-04T15:51:10.247+07:00</updated><title type='text'>AYI 2: Asian Youth Imagination</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZzooCVGAJI/AAAAAAAAAKM/noqvPbrg1FI/s1600-h/AYI+2-edit.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 288px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZzooCVGAJI/AAAAAAAAAKM/noqvPbrg1FI/s400/AYI+2-edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304370235653357714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 204);" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pameran Seni Visual Berbasis &lt;i&gt;Performance Art&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Jogja Gallery, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt; | 28 Februari – 11 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;  &lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Peserta &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Menampilkan 15 orang &lt;i&gt;performer&lt;/i&gt; yang berasal dari negara di Asia, yaitu&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Korea&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;                  &lt;/span&gt;: Kim Ji Hee &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sri Lanka&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;: &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Janani Coornay&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Myanmar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Moe Satt&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Taiwan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;              &lt;/span&gt;: Che Shih Sun a.k.a REDCAT&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;India&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Sapna H.S, Mangala Anobermath&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Jepang&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Kana Fukushima, Sohei Nomoto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -72pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;: Arif Darmawan, kelompok Harmoni Kota, Angga Wedaswhara, Citra Pratiwi, &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Rennie “emonk” Agustine, M. Lugas Sylabus, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;I Made Suryadarma&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;PENGANTAR PAMERAN ASIAN YOUTH IMAGINATION 2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;[AYI 2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Asian Youth Imagination 2 (AYI 2), adalah lanjutan dari even &lt;i&gt;performance art&lt;/i&gt; serupa yang diadakan Desember 2008 lalu di Jepang. Pada even kedua ini, sifat acara dibedakan dari sebelumnya meskipun mempertahankan elemen utama, penyajian karya-karya &lt;i&gt;performer &lt;/i&gt;muda usia yang tinggal di Asia. Muda disini dibatasi dengan rentang umur 33-19 tahun. AYI 2 diinisiasi oleh tim produksi yang anggotanya juga berusia muda, bernama &lt;b&gt;“We Are Imagining”.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;AYI 2 menampilkan semua elemen yang ada dalam wacana  &lt;i&gt;performance art&lt;/i&gt;, kemudian mengumpulkannya menjadi suatu kesatuan yang sama kuat untuk diapresiasi. Yakni, video &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt;, dokumentasi &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt;, penampilan langsung (&lt;i&gt;live performance&lt;/i&gt;), dan segala kemungkinan ekstensi dari bentuk &lt;i&gt;performance art &lt;/i&gt;dalam bentuk bekunya. Seluruh elemen tersebut akan disajikan layaknya pameran visual yang sering diadakan di Yogyakarta dan Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Istilah &lt;i&gt;Performance Art&lt;/i&gt; dalam kajian seni rupa dicatat sebagai seni penampilan atau seni performa, dimana tubuh menjadi media utama dalam menampilkan pesan atau konsep ingin disampaikan oleh perupa. &lt;i&gt;Performance art&lt;/i&gt; dalam pameran ini adalah aksi yang dilakukan seseorang atau kelompok dengan berbagai aspek yang dipersiapkan, direkayasa, kemudian dimanfaatkan. Aspek-aspek ini mencakup pemosisian tubuh &lt;i&gt;performer&lt;/i&gt; sebagai subyek yang menghubungkan dirinya dengan sekitar, dalam jangkauan ruang dan kurun waktu tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Dengan diselenggarakannya pameran ini diharapkan dapat membangun dan memperluas jaringan antar seniman muda Asia, melihat evolusi para &lt;i&gt;performer &lt;/i&gt;muda, forum untuk berbagi pengalaman proses kekaryaan, sekaligus sosialisasi penyajian &lt;i&gt;performance art&lt;/i&gt; selain melalui format festival.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Tanpa mengurangi rasa hormat kami, ini sekaligus menjadi undangan bagi Anda untuk dapat hadir pada acara pembukaan &lt;b&gt;Sabtu, 28 Februari 2009, pukul.14.00 WIB (2 siang).&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: green none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;KETERANGAN :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Tim Produksi pameran adalah &lt;b&gt;“WE ARE IMAGINING"&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pameran berlangsung hingga 11 Maret 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jam buka Jogja Gallery Selasa-Minggu, 09.00 – 21.00 WIB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;6 pendukung acara: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;performer&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; dan penyelenggara AYI 1, Jogja Gallery, Indonesian Visual Art Archive (IVAA), &lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;kotakhitam, YORC, Majalah GONG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;8 Partner : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Mall Galeria, Toko Buku Togamas, Novotel Hotel, Grand Mercure, PT Dakota Cargo,&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Royal Garden Restaurant, Mall Ambarrukmo Plaza dan Jogja Plaza Hotel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;7 Media Partner&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt; :&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Radio RRI Pro 2 102.5 FM,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jogja TV 48 UHF, Truly Jogja, Kabare Magazine, Kompas, Kedaulatan Rakyat &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;dan Bernas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: 18pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="background: green none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;PAMERAN SELANJUTNYA DI JOGJA GALLERY :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Pameran Tunggal Fotografi Karya Soeprapto Soedjono (Rektor Institut Seni Indonesia |ISI Yogyakarta)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0cm; margin-left: 27pt; text-align: center; text-indent: -27pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;“Z..Z…Z….Z….PHOTOGRAPHY”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;(21 Maret – 5 April 2009)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style="border-style: none none solid; padding: 0cm 0cm 1pt; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="border: medium none ; padding: 0cm; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Genre karya-karya fotografi &lt;i&gt;‘human interest’&lt;/i&gt; biasanya menampilkan subjek dengan berbagai aspek tentang manusia dalam beragam aktifitas kehidupan sehari-harinya. Baik itu yang menyangkut kegiatan yang dilakukannya secara sadar sebagai manifestasi sikap, gerak-gerik, dan tingkah lakunya untuk tujuan tertentu maupun yang merefleksikan hal-hal yang dilakukan sebagai kegiatan yang tidak disadari atau ‘ketidaksengajaan’. Namun tidak semua yang terekam oleh kamera karena bersubjek manusia selalu dapat dikategorikan sebagai karya foto &lt;i&gt;‘human interest’&lt;/i&gt;. Hanya yang memiliki nilai &lt;i&gt;‘interest’&lt;/i&gt; sajalah yang layak dapat dikategorikan sebagai karya foto dalam genre tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Informasi &amp;amp; kontak, silakan hubungi :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;JOGJA GALLERY [JG]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jalan Pekapalan No. 7, Alun-alun Utara 55000 Yogyakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telp. +62 274 419999, 412023&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telp/Fax. +62 274 412023&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telp/SMS. +62 274 7161188, +62 888 696 7227&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Email &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/a&gt; / &lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;http://jogja-gallery.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal; color: rgb(204, 255, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;WE ARE IMAGINING&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Email&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;:we.are.imagining@gmail.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Telp/SMS&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;: +62 888 682 1414 [Cp. Agni]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5702728213501470834?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5702728213501470834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5702728213501470834&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5702728213501470834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5702728213501470834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/02/ayi-2-asian-youth-imagination.html' title='AYI 2: Asian Youth Imagination'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZzooCVGAJI/AAAAAAAAAKM/noqvPbrg1FI/s72-c/AYI+2-edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2794059765719096711</id><published>2009-02-15T17:08:00.004+07:00</published><updated>2009-02-19T14:43:07.833+07:00</updated><title type='text'>Thank you Noris...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZfp7zp8daI/AAAAAAAAAJs/TQiJ89XvD3Q/s1600-h/14649646_20c7569e1e.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZfp7zp8daI/AAAAAAAAAJs/TQiJ89XvD3Q/s400/14649646_20c7569e1e.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302964299939739042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Hal yang paling penting dalam hidup ini adalah belajar mencintai&lt;br /&gt;dan membiarkan cinta itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;[Morris 'Morrie' Schwartz | pendidik asal AS | 1916 - 1995]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2794059765719096711?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2794059765719096711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2794059765719096711&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2794059765719096711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2794059765719096711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/02/thank-you-noris.html' title='Thank you Noris...'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZfp7zp8daI/AAAAAAAAAJs/TQiJ89XvD3Q/s72-c/14649646_20c7569e1e.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-6808484230642121108</id><published>2009-02-11T16:03:00.003+07:00</published><updated>2009-02-11T16:19:59.725+07:00</updated><title type='text'>Fresh Equals to Honest</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZKXzUMAJjI/AAAAAAAAAJk/K4mURE5hLIs/s1600-h/POSTER.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 305px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZKXzUMAJjI/AAAAAAAAAJk/K4mURE5hLIs/s400/POSTER.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5301466619216668210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Happy New Year 2009!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;New Year is always identified with reflection, contemplation and introspection on what we have achieved during the previous year. It always begins with new hope, dream and spirit, and so does the 39&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; visual art exhibition in Jogja Gallery. As a mark of our step to enter the beginning of 2009, this exhibition will raise a simple theme and free every artist to explore themselves on their works. What is going on today? Things concerning ourselves, our dreams and hopes, our closest neighborhood, our fine art issues up to the issues about the latest global discourses color the theme of every work that will be exhibited from 23 January to 22 February 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;This exhibition wants to start this New Year by exhibiting our artists’ new works, new ideas, new way of exposition and new technique. Theme that seems to be simple is seriously responded by the participating artists. Talking in term of technique, &lt;b style=""&gt;AT Sitompul&lt;/b&gt; presents his work that constitutes a revival of his painting work after for a long time he focused on printmaking technique. In his biodata, the last time he made painting exhibition was in 2003. According to him, one of ways to make our minds and souls refreshed is by doing something that is beyond our habits and works. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;It is different with &lt;b style=""&gt;Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna&lt;/b&gt; who still sticks to printmaking art and expects to be able to bring something new amid the affluence of painting works. Due to his consistence, recently he has been awarded as a young artist who is very dedicated to printmaking (Academic Art Award #2, 2008). It is also important to record the existence of &lt;b style=""&gt;Kelompok Simponi&lt;/b&gt;, which was formed in 2007, consisting of 4 female artists who were born in 1980s, and have set off from different backgrounds of art major interests. &lt;b style=""&gt;Simponi&lt;/b&gt;, which stands for &lt;b style=""&gt;Sindikat Monster Poni&lt;/b&gt; (Syndicate of Monsters with Bangs), explore media of textiles and fibers to create interesting and amusing works that seem not to have distance with the audience. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Similarly, the works of &lt;b style=""&gt;Antoni Eka Putra, Andrew K. Jack, Dedy Sufriadi, I Ketut Teja Astawa, Pramono Pinunggul &lt;/b&gt;and &lt;b style=""&gt;Yusron Mudhakir &lt;/b&gt;put forward the main elements of artworks, namely color, line, texture, shape, space and composition. &lt;b&gt;Antoni Eka Putra&lt;/b&gt; for this occasion is simpler in playing with line and color. Yet his work still looks impressive. Routine at times can imprison us; existence shall live without monotone but with mobility. That is &lt;b&gt;Antoni&lt;/b&gt;’s statement. Almost similar, as far as I know, &lt;b&gt;Yusron Mudhakir&lt;/b&gt; is consistent in emphasizing and discussing the quality of colors. However, he seems to put softer colors in his work titled &lt;i&gt;Risalah Warna #2&lt;/i&gt;. Meanwhile, &lt;b&gt;Dedy Sufriadi&lt;/b&gt; and &lt;b&gt;Agus ‘Baqul’ Purnomo&lt;/b&gt; put texts as main element in their works. &lt;b&gt;Andrew K. Jack&lt;/b&gt;, the only foreign artist, from New Zealand, wants to appear again and enrich the dynamics of Indonesian fine art after his last solo exhibition in the end of 2002 in Jakarta. For those knowing &lt;b&gt;Andrew&lt;/b&gt;, theme related to fish is not a new thing for his works, but the way he finishes his works with resin is something that we rarely see in works of painting. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;The presence of surrealism work belonging to &lt;b&gt;Gusmen Heriadi&lt;/b&gt; and two abstract works belonging to two Balinese artists, &lt;b&gt;I Made Supena&lt;/b&gt; and &lt;b&gt;I Made Mahendra Mangku,&lt;/b&gt; shows a similar theme. It is about reflection and time. Request to retrospect on the significance of the values of opportunity, space and time is well described in their modest and harmonious works. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Take a look at the works of &lt;b style=""&gt;Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Asmualiawan, Erica Hestu Wahyuni, Heri Purwanto, Ida Bagus Komang Sindu Putra, I Nyoman Triarta, Niko Siswanto, RM Soni Irawan, Solichin, Komroden Haro &lt;/b&gt;and&lt;b style=""&gt; “Otje”. &lt;/b&gt;They have found and taken their inspirations from what is happening within them and in their closest neighborhoods. They are not boasting and talking about things that are so complicated. They just stick to the daily problems, rotation of the wheel of life, state of when one sustaining the other, and struggle to survive. These are symbolized by one of vehicle parts. Despites its little shape, it is very important because it can move and stop the other parts. See the work of &lt;b&gt;Fransgupita&lt;/b&gt;, &lt;i&gt;Engine Stop&lt;/i&gt;. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;However, some of our artists still have idea to create works departing from political issues that are heating lately like the global economic recession and conflict in Middle East region which has become the world concern. The works of &lt;b style=""&gt;Abdul Fattah, Agus ‘Baqul’ Purnomo, Farhansiki, Khusna Hardiyanto &lt;/b&gt;and&lt;b style=""&gt; Robi Fathoni &lt;/b&gt;tell about the domination of United States of America, which has impacts on most countries.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;This exhibition wants to bring new surprises following the abundance events during 2008 up to the beginning of this year. Surprise or freshness is certainly relative and subjective. My being fresh must be different with yours, and so must be with the freshness of the 31 artists participating in this visual art exhibition, &lt;b&gt;FRESH 4 U&lt;/b&gt;. Hence, this exhibition indeed gives us new artworks with new significance. Although most of the artists and I agree that a fresh work is a work that is inspiring for its audience, what is more important is that the work must be honest. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;We try to present this &lt;b&gt;FRESH 4 U&lt;/b&gt; exhibition due to our anxiety of the situation and development of Indonesian fine art today. We would like to challenge the artists to be able to produce and exhibit artworks that are really different and refreshing. Is it right that our fine art is experiencing stagnancy? Is it right that our art market is depressing following the profusion of transactions in every corner of exhibition space in this country? An installation work of &lt;b&gt;Tisna Sanjaya&lt;/b&gt; entitled &lt;i&gt;Mobile Seniman&lt;/i&gt; (&lt;i style=""&gt;Mobile Artist&lt;/i&gt;) satirizes this assumption. Are we honest when creating work? Are we honest when talking? And, are we honest when doing transaction?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Nunuk Ambarwati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Program Manager of Jogja Gallery&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-6808484230642121108?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/6808484230642121108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=6808484230642121108&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6808484230642121108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6808484230642121108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/02/fresh-equals-to-honest.html' title='Fresh Equals to Honest'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SZKXzUMAJjI/AAAAAAAAAJk/K4mURE5hLIs/s72-c/POSTER.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-1786917132539607373</id><published>2009-01-22T12:38:00.001+07:00</published><updated>2009-01-22T12:43:03.435+07:00</updated><title type='text'>FRESH 4 U</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SXgHVw9dSoI/AAAAAAAAAJc/K_VhVUGBVh8/s1600-h/undangan+depan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SXgHVw9dSoI/AAAAAAAAAJc/K_VhVUGBVh8/s400/undangan+depan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293989432475339394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;PAMERAN SENI VISUAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:16;color:green;"   &gt;FRESH 4 U&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyaakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pembukaan hari Jumat, 23 Januari 2009 | Pukul 19.00 WIB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pameran dibuka oleh Drs. Suwarno Wisetrotomo, M.Hum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pameran berlangsung hingga 22 Februari 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Seniman:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Abdul Fattah | Agus ‘Baqul’ Purnomo | Agus Yulianto | Ahmad Sobirin | Andrew Kenneth Jack | Antoni Eka Putra | Asmuliawan | AT Sitompul | Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna | Dedy Sufriadi | Erica Hestu Wahyuni | Farhansiki | Fransgupita | Gusmen Heriadi | Heri Purwanto | I Made Mahendra Mangku | I Made Supena | I Nyoman Triarta AP | Ida Bagus Komang Sindu Putra | Kelompok Simponi | Ketut Teja Astawa | Khusna Hardiyanto | Komroden Haro | Niko Siswanto | “Oetje” | Pramono Pinunggul | Robi Fathoni | Solichin | RM Soni Irawan | Tisna Sanjaya | Yusron Mudhakir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;‘SEGAR sama dengan JUJUR’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Selamat tahun baru 2009!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru dicatat dengan refleksi, kontemplasi dan introspeksi atas apa saja yang telah kita capai sepanjang tahun lalu dan diawali dengan harapan, cita dan semangat baru. Demikian halnya dengan gelaran pameran seni visual ke-39 di Jogja Gallery kali ini. Pameran sebagai penanda memasuki awal tahun 2009 kali ini, sengaja mengusung tema sederhana dan membebaskan perupa-perupanya untuk mengeksplorasi diri atas karya-karya mereka. Apa yang sedang terjadi saat ini? Pada diri kita sendiri, tentang mimpi dan harapan kita, lingkungan terdekat, isu seni rupa kita hingga isu perkembangan wacana global terkini, mewarnai tema karya yang digelar dari tanggal 23 Januari hingga 22 Februari 2009. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Niatnya mengawali tahun baru ini dengan menampilkan karya-karya baru dari para perupa kita, baru di gagasan, cara ungkap mau pun di teknik. Tema yang terkesan sederhana ini, disikapi kritis oleh perupa peserta pameran ini. Antara lain, ketika berbicara dari segi teknik berkarya, karya &lt;b style=""&gt;AT Sitompul &lt;/b&gt;menghadirkan kembali karya lukisnya setelah sekian lama berkutat pada teknik seni grafis&lt;b style=""&gt;. &lt;/b&gt;Dalam catatan biodatanya, &lt;b style=""&gt;AT Sitompul &lt;/b&gt;terakhir kali menggelar pameran lukisan di tahun 2003. Karena menurutnya, salah satu cara agar pikiran dan jiwa kita segar kembali adalah melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan atau pekerjaan kita selama ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Lain halnya dengan &lt;b style=""&gt;Daniel ‘Timbul’ Cahya Krisna&lt;/b&gt; yang masih bertahan pada seni grafis dan berharap bisa memberikan sesuatu yang baru di tengah maraknya karya-karya lukis. Atas konsistensinya tersebut, baru saja penghargaan atas dedikasinya sebagai perupa muda bidang seni grafis berhasil diraihnya [Academic Art Award #2, 2008]. Perlu dicatat pula hadirnya &lt;b style=""&gt;kelompok Simponi&lt;/b&gt; [dibentuk tahun 2007], terdiri dari 4 perupa perempuan, yang lahir rata-rata di tahun ’80-an dan berangkat dari berbagai latar belakang minat utama seni. &lt;b style=""&gt;Simponi &lt;/b&gt;yang merupakan akronim dari &lt;b style=""&gt;Sindikat Monster Poni&lt;/b&gt; berolah media dengan basis kain dan serat, untuk kemudian menjadi karya-karya yang menarik, menggelitik dan terasa tak berjarak dengan audiensnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Demikian halnya dengan karya &lt;b style=""&gt;Antoni Eka Putra, Andrew K. Jack, Dedy Sufriadi, I Ketut Teja Astawa, Pramono Pinunggul &lt;/b&gt;dan &lt;b style=""&gt;Yusron Mudhakir&lt;/b&gt; yang mengedepankan perihal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;unsur-unsur utama dalam sebuah karya yakni warna, garis dan tekstur mau pun bentuk, ruang dan komposisi. &lt;b style=""&gt;Antoni Eka Putra&lt;/b&gt; untuk kali ini lebih &lt;i style=""&gt;simple&lt;/i&gt; bermain di garis mau pun warna dan terkesan impresif.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Keteraturan terkadang menjadi penjara diri sendiri, eksistensi tidak dengan kemonotonan tapi dengan pergerakan, demikian pertanyaan &lt;b style=""&gt;Antoni. &lt;/b&gt;Hampir senada dengan karya &lt;b style=""&gt;Yusron Mudhakir&lt;/b&gt; di sepanjang pengetahuan saya, tetap konsisten menggulirkan penekanan dan pembahasan kualitas warna . Namun cenderung lebih &lt;i style=""&gt;soft&lt;/i&gt; pada karya &lt;i style=""&gt;Risalah Warna #2&lt;/i&gt;-nya kali ini. Sedangkan &lt;b style=""&gt;Dedy Sufriadi &lt;/b&gt;dan &lt;b style=""&gt;Agus ‘Baqul’ Purnomo &lt;/b&gt;mengetengahkan teks sebagai elemen utama karya mereka. Sementara &lt;b style=""&gt;Andrew K. Jack&lt;/b&gt;, satu-satunya perupa asing, kelahiran New Zealand, ingin hadir kembali mewarnai dinamika seni rupa Indonesia, setelah pameran tunggal terakhirnya tahun 2002 lalu di Jakarta. Bagi yang mengenal &lt;b style=""&gt;Andrew,&lt;/b&gt; tema ikan bukan hal baru untuk karyanya, namun olah &lt;i style=""&gt;finishing&lt;/i&gt; karya dengan media resin merupakan hal yang jarang kita temui untuk sebuah karya seni lukis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Hadirnya karya surealis milik &lt;b style=""&gt;Gusmen Heriadi &lt;/b&gt;serta dua karya abstrak milik perupa asal Bali, &lt;b style=""&gt;I Made Supena &lt;/b&gt;dan &lt;b style=""&gt;I Made Mahendra Mangku&lt;/b&gt; lebih memilih tema yang sama yakni soal refleksi dan waktu. Ajakan untuk merenungi kembali akan berharganya sebuah kesempatan, ruang dan waktu sangat pas melalui karya-karya mereka yang minimalis harmonis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Tengok juga karya-karya &lt;b style=""&gt;Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Asmualiawan, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Erica Hestu Wahyuni, Heri Purwanto, Ida Bagus Komang Sindu Putra, I Nyoman Triarta, Niko Siswanto, RM Soni Irawan, Solichin, Komroden Haro &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;dan&lt;b style=""&gt; “Otje”. &lt;/b&gt;Mereka menemukan dan mengambil inspirasi dari apa yang sedang terjadi dalam diri mau pun lingkungan terdekat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guna eksplorasi karya. Tidak muluk-muluk memang dan tidak sedang berbicara makna yang terdengar sangat pelik. Berkutat masalah sehari-hari, naik turunnya roda kehidupan, satu menopang yang lain, demikian seterusnya untuk tetap bertahan. Hal tersebut disimbolkan dari salah satu bagian mesin kendaraan, meski kecil tetapi penting dan mampu menggerakkan atau menghentikan yang lainnya, lihat karya &lt;b style=""&gt;Fransgupita, &lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;Engine Stop&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Meski demikian, toh beberapa perupa kita tetap tak pelak terpercik gagasan berkarya yang berangkat dari isu-isu politis yang sedang hangat saat ini. Seperti krisis ekonomi global hingga konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah, yang menjadi keprihatinan masyarakat dunia. Karya &lt;b style=""&gt;Abdul Fattah, Agus ‘Baqul’ Purnomo, Farhansiki, Khusna Hardiyanto &lt;/b&gt;dan&lt;b style=""&gt; Robi Fathoni&lt;/b&gt; mengungkap dominasi kuasa negara Amerika yang memiliki multi efek bagi hampir di penjuru negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Demikianlah, pameran ini diniatkan ingin memberikan kejutan-kejutan baru di tengah padatnya undangan&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;perhelatan di sepanjang 2008 lalu hingga awal tahun. Kejutan atau kesegaran jelas relatif dan sangat subyektif ukurannya. Segar &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menurut saya pastinya berbeda dengan segar menurut Anda. Begitu pula dengan ke-31 perupa yang berpartisipasi dalam pameran seni visual &lt;b style=""&gt;FRESH 4 U&lt;/b&gt; kali ini. Untuk itu, pameran ini memberikan penawaran-penawaran atas makna dan karya yang segar itu sendiri. Meski saya sendiri dan hampir sebagian besar ke-31 perupa ini sepakat bahwa karya yang segar adalah karya-karya yang inspiratif bagi penikmatnya dan lebih penting adalah jujur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran &lt;b style=""&gt;FRESH 4 U&lt;/b&gt; ini coba dihadirkan karena berangkat dari kegelisahan atas situasi dan perkembangan seni rupa Indonesia saat ini. Menantang para perupa untuk bisa menghadirkan karya-karya yang benar-benar berbeda, benar-benar menantang, benar-benar mengajak kita berpikir kembali, dan benar-benar menyegarkan! Apakah benar seni rupa kita stagnan, apakah benar pasar seni rupa kita sedang lesu pasca riuhnya berbagai transaksi karya di tiap sudut ruang presentasi di tanah air ini. Karya instalasi &lt;b style=""&gt;Tisna Sanjaya, &lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;Mobile Seniman&lt;b style=""&gt;,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; satir menanggapi hal ini. Jujurkah kita berkarya, jujurkah kita berwacana dan jujurkah kita bertransaksi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Nunuk Ambarwati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Program Manager Jogja Gallery&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Terima kasih kepada&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sponsor :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt; Calista Photo Studio dan Mirindo Rent Car&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Partner :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt; Mall Galeria, Toko Buku Togamas, Novotel Hotel, Grand Mercure, PT Dakota Cargo, Royal Garden Restaurant, Mall Ambarrukmo Plaza dan Jogja Plaza Hotel.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Media Partner :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Radio Eltira 102.1 FM, Radio Global 107.6 FM, Radio RRI Pro 2 102.5 FM, Radio Rakosa 105.3 FM, Jogja TV 48 UHF, Truly Jogja, Kabare Magazine, Kompas, Kedaulatan Rakyat dan Bernas.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pameran selanjutnya – Asian Youth Imagination #2 [28 Februari – 11 Maret 2009]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Asian Youth Imagination #2 adalah lanjutan dari acara pertama yang sudah terlaksana di Jepang pada bulan Desember 2008 lalu. Pameran ini bertujuan untuk menyajikan karya-karya seniman muda performans se-Asia dan berbagi dalam pengalaman proses berkarya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Peserta pameran terdiri dari 10 negara di Asean [&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Singapore&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Taiwan&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;Philipina&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Myanmar&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Sri Lanka&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, dan Jepang.&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-1786917132539607373?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/1786917132539607373/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=1786917132539607373&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/1786917132539607373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/1786917132539607373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2009/01/fresh-4-u.html' title='FRESH 4 U'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SXgHVw9dSoI/AAAAAAAAAJc/K_VhVUGBVh8/s72-c/undangan+depan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3760545237716048717</id><published>2008-11-05T11:53:00.002+07:00</published><updated>2008-11-05T15:32:38.441+07:00</updated><title type='text'>Jadilah Mitra Arsip IVAA!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SRFZ67klCtI/AAAAAAAAAJI/8pUG6OOfQJk/s1600-h/IMG_7988.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5265088308331219666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SRFZ67klCtI/AAAAAAAAAJI/8pUG6OOfQJk/s400/IMG_7988.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IVAA&lt;/strong&gt; / &lt;strong&gt;Indonesian Visual Art Archive&lt;/strong&gt; adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada usaha pemberdayaan infrastruktur seni rupa dan telah berdiri sejak 1995, sebelumnya dengan nama Yayasan Seni Cemeti [YSC]. Mulai April 2007 ini YSC berganti nama menjadi IVAA dengan pemantapan visi dan fokus kerja sebagai pusat data, riset dan dokumentasi seni rupa Indonesia, dan juga sebagai lembaga manajemen dan pengembangan infrastruktur seni rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini koleksi database IVAA mencakup sekitar 13.000 item yang berisi khusus tentang seni rupa modern dan kontemporer yang mencakup mulai dari buku, majalah, jurnal, katalog, foto, slide, video, makalah, promotional item sampai ke kliping media massa yang terkumpul selama 12 tahun dengan data tertua tercatat berupa makalah-makalah seni rupa pada masa awal 1960-an. Semuanya disimpan dan diklasifikasikan dalam perpustakaan dan ruang arsip IVAA, Jalan Patehan Tengah No 37. Banyak dari item ini masih berupa &lt;em&gt;hard copy&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini IVAA baru mendapat dana bantuan untuk melakukan program digitisasi database tersebut dan membuat portal Online Archive di website &lt;a href="http://www.ivaa-online.org/"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;www.ivaa-online.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; untuk membuat data digital itu di dalam jaringan internet. Hal ini merupakan satu hal yang signifikan mengingat dokumentasi dan pengarsipan seni rupa masih merupakan satu hal yang kurang diperhatikan di dunia seni rupa kita yang telah memiliki sejarah perkembangan yang begitu kaya dan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan program tersebut, kami juga bermaksud untuk memperkaya khasanah database kami dan juga menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga seni rupa di Indonesia yang juga memiliki khasanah dokumentasi dan arsip yang penting dalam sejarah seni rupa Indonesia. Maka jadilah mitra arsip IVAA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menjadi mitra arsip IVAA, kami berharap sekiranya Anda bersedia untuk memberikan kopi atas arsip tersebut agar dikelola oleh IVAA terutama untuk program Online Archive kami. Dengan begitu, &lt;em&gt;link web&lt;/em&gt; dan profil serta logo institusi Anda akan dimuat secara khusus dalam portal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tunggu tanggapan Anda segera melalui fax di +62 274 372095, dan email &lt;a href="mailto:program@ivaa-online.org"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;program@ivaa-online.org&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt; [cp: Farah/Pitra/Sigit] &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat kami,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Farah Wardani&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Direktur Eksekutif Indonesian Visual Art Archive/IVAA&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3760545237716048717?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3760545237716048717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3760545237716048717&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3760545237716048717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3760545237716048717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/11/jadilah-mitra-arsip-ivaa.html' title='Jadilah Mitra Arsip IVAA!'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SRFZ67klCtI/AAAAAAAAAJI/8pUG6OOfQJk/s72-c/IMG_7988.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-448079374517182574</id><published>2008-11-05T10:14:00.007+07:00</published><updated>2008-11-05T15:38:14.646+07:00</updated><title type='text'>Dedication to The Future!</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;SELEKSI KARYA&lt;br /&gt;Khusus Untuk MAHASISWA ISI Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;ACADEMIC ART AWARD #2&lt;br /&gt;'Dedication to The Future'&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Hibah Kompetisi A2 Jurusan Seni Murni&lt;br /&gt;FSR ISI Yogyakarta &amp;amp; Jogja Gallery, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pemikiran dan praktik seni rupa di Indonesia, kini telah mengalami perkembangan pesat, melampaui batas-batas konvensi. Saat ini terjadi eksplorasi pemikiran dan praktik seni. Akibatnya terdapat beragam cara dan pendekatan pembacaan hingga pemaknaan terhadap karya seni rupa. Namun kenyataan lain berbicara, bahwa pendidikan seni rupa di Indonesia, masih ebrada dalam bentuk yang konvensional, yakni masih berada dalam paradigma seni rupa yang terbagi dalam bidang-bidang minat utama seni lukis, seni grafis, seni patung, desain dan kriya seni. Sebagai suatu model pendidikan, tentu saja hal ini tidak ada salahnya, dan justru harus memperoleh dukungan yang memadai dari berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerangka itulah Jurusan Seni Murni - Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta yang memperoleh dana Hibah Kompetisi A-2, bekerja sama dengan Jogja Gallery, dalam kesempatan ini berkeinginan mengundang Anda untuk mengambil bagian dalam pameran Academic Art Awards / AAA #2 ini dengan tema &lt;strong&gt;'Dedication to the Future'&lt;/strong&gt; yang akan diselenggarakan di dua kota yakni,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;JOGJA GALLERY, Yogya, 17 Des 2008 - 11 Jan 2009.&lt;br /&gt;MUSEUM NEKA, Bali, 23 Des 2008 - 7 Jan 2009.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Guna keperluan tersebut panitia mengundang segenap mahasiswa aktif mau pun non-aktif yang terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Seni Murni FSR ISI Yogyakarta untuk mengikuti seleksi karya pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ffffff;"&gt;Jumat, 21 November 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tim seleksi: Suwarno Wisetrotomo, Mikke Susanto &amp;amp; Ketua Minat Utama [Lukis, Patung, Grafis, ISI Yogyakarta]&lt;br /&gt;Karya ditunggu mulai 17 - 20 November 2008.&lt;br /&gt;Paling lambat pukul 09.00 WIB di Galeri Katamsi.&lt;br /&gt;Dan telah didaftarkan kepada Bapak Subardi [staf administrasi Minat Utama Seni Lukis].&lt;br /&gt;Catatan: karya-karya yang akan diajukan untuk seleksi, disesuaikan dengan minat utama yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tunggu karya-karya terbaik Anda!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jogja Gallery [JG]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 Indonesia&lt;br /&gt;Phone +62 274 419999, 412021&lt;br /&gt;Phone/Fax +62 274 412023&lt;br /&gt;Phone/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227&lt;br /&gt;email &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/a&gt; / &lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a href="http://jogja-gallery.com/"&gt;http://jogja-gallery.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-448079374517182574?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/448079374517182574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=448079374517182574&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/448079374517182574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/448079374517182574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/11/dedication-to-future.html' title='Dedication to The Future!'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2018127344571730125</id><published>2008-11-02T22:09:00.001+07:00</published><updated>2008-11-02T22:21:21.410+07:00</updated><title type='text'>Self Portrait, Portraits Ourselves</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3DPjfLd0I/AAAAAAAAAIw/oPyemmfHR1w/s1600-h/design+poster.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264078211457447746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 286px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3DPjfLd0I/AAAAAAAAAIw/oPyemmfHR1w/s400/design+poster.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;A portrait can really talk much regardless the medium, whether painting, sculpture or photography. At present photography has become a popular medium for people to disseminate their self-expression. People can independently share and get feedbacks concerning their self-portraits through online media. These are the faces and discourse of self-portrait of today. Private domains become so thin that public can easily access them. Therefore, we can find out at least how the “faces”, identities, social issues and development of people’s mindsets really are.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reading Mikke Susanto’s curatorial note for the exhibition entitled ‘Self Portrait : Famous Living Artists of Indonesia’ at Jogja Gallery can give a depiction of the long journey of the history of self-portrait art, from the civilization of ancient Egypt, ancient Rome, Renaissance era to modern era as what is happening in Indonesia and what will end in this exhibition. It is a visual art exhibition that puts forward self-portraits of the famous artists of this country. We can enjoy this exhibition from 7 to 30 November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery as a space for displaying and appreciating contemporary artworks of our artists tries to accommodate the issues as mentions above. With the artworks of 32 participating artists, this exhibition shows their explorations of discourses and media in relation to themselves as the objects. The emphasized word ‘famous’ reminds us of the comparison of the fluctuating polemics developing between self-portraits of well-known and not well-known persons.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Approaching the end of 2008, through this exhibition Jogja Gallery would like to invite public to do self-introspection with their own portraits. We are about to enter the gate into national culture of 2009 with fresher and more challenging hope, dream, spirit and struggle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We would like to express our appreciation and gratitude to all artists participating in this exhibition with their inspiring works. Also we would like to thank to everyone, our partners, sponsors and print and electronic media who have been supporting Jogja Gallery all this time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Have a nice exploration!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bambang Soekmonohadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Member of Supervisors Board of Jogja Gallery&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2018127344571730125?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2018127344571730125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2018127344571730125&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2018127344571730125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2018127344571730125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/11/self-portrait-portraits-ourselves.html' title='Self Portrait, Portraits Ourselves'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3DPjfLd0I/AAAAAAAAAIw/oPyemmfHR1w/s72-c/design+poster.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5677674329441405865</id><published>2008-10-26T17:06:00.003+07:00</published><updated>2008-11-02T22:19:31.654+07:00</updated><title type='text'>Scorpio &amp; Scorpio</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3E6lYldkI/AAAAAAAAAJA/o_LcNAX7LTo/s1600-h/edit-02%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264080050212664898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3E6lYldkI/AAAAAAAAAJA/o_LcNAX7LTo/s400/edit-02%5B1%5D.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;When two Scorpions make a love match, it is a fierce tempest of intense passion. Both are obsessed with one another, and they move forward in love, sex and romance at an accelerated -- some would say foolish -- way. Personal relations are positively steamy but, to the equal and opposite extreme, disputes will also be frenetically powerful. This relationship could go either way: It will either be the most wonderful thing in the world or a destruction of both involved. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The romantic merger of two sexy Scorpions can bring out the best in both love mates; each will use their intense emotional and intuitive natures to love their partner very deeply. Resolve and passion will keep these two together. The most powerful and threatening external forces will have a difficult time intruding on the happiness of a truly committed Scorpio couple. If they can wrangle their ardent energies, this power pair can set off fireworks. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The Planets Mars and Pluto rule Scorpio. Mars is the ancient God of War, always charging forward -- passionate, aggressive and courageous. Pluto is the higher octave of Mars and controls the power, destruction and rebirthing elements of the Scorpio-Scorpio relationship. These two planets together allow the Scorpion to bounce back after disappointments or tragic losses. Fortunately for the Scorpion, intense passions inflate the importance and loss of everything. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Scorpio is a Water Sign, so their first instinct in love is to respond deeply, passionately, fervently, and if they decide to express themselves, its never done halfway. Scorpios should commit themselves to this goal: Tame the vengeful or vindictive side of their intuitive personalities, and to celebrate the extreme ups and quickly forget the downs. A Scorpio must let go and really say what they want, what they feel, what they need, to their love mates. Pent-up emotions can become toxic, frustrating the one feeling them and confusing the one wondering about them. Because both are so devoted, jealousy may become an issue. Be strong, brave Scorpios, and overcome this hurdle together!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Scorpio is a Fixed Sign. Idea shortages are never an issue with this pair. No couch potato couple this one -- they like to stay active, and they'll accomplish much together. They share a knack for investments and risks -- calculated ones, that is. A Scorpio couple will thoroughly research and investigate an idea if that's what it requires. Once Scorpio love mates set their eyes on the prize, that's it -- it's theirs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What's the best thing about a Scorpio-Scorpio love match? The intensity of love that this couple can feel. They're very goal-oriented, and their shared power makes them an incomparable, unconquerable duo! Utter devotion ensures that this relationship will continue for a long time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5677674329441405865?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5677674329441405865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5677674329441405865&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5677674329441405865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5677674329441405865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/10/scorpio-scorpio.html' title='Scorpio &amp; Scorpio'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3E6lYldkI/AAAAAAAAAJA/o_LcNAX7LTo/s72-c/edit-02%5B1%5D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2968538302498348582</id><published>2008-10-26T16:58:00.002+07:00</published><updated>2008-11-02T22:07:17.209+07:00</updated><title type='text'>Self Portrait : Famous Living Artists of Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQQ_3cz11TI/AAAAAAAAAIo/7lW3UXZA0Mw/s1600-h/invitation+self+portrait.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261400486534567218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 266px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQQ_3cz11TI/AAAAAAAAAIo/7lW3UXZA0Mw/s400/invitation+self+portrait.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Abstrak Kuratorial&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran Seni Visual&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SELF-PORTRAIT Famous Living Artists of Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(POTRET DIRI Seniman Ternama Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta, 7 – 30 November 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I have a face, but a face is not what I am.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Julian Bell, Five Hundred Self-Portraits, Phaidon, New York, 2000)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Setiap potret adalah duel—antara perwujudan dan peleburan diri; antara obsesi mengintip jiwa yang telanjang dan naluri untuk menyembunyikannya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Yudhi Soerjoatmodjo, “Kolam Narsisus Poriaman”, Tempo, 27 Februari 1993)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dipastikan, dalam sejarah hidup dan karir perupa, ia pernah menggambar dan memotret dirinya. Potret diri (atau “diri” yang lain) berbentuk foto, patung, lukisan, atau seni lainnya menyimpan segudang masalah. Hidup di antara problem mimetik, kesenangan, seni pesanan, atau pada waktu yang sama dibuat untuk sekadar mengejar nilai estetik. Problem tersebut biasanya lahir ketika persilangan antara kesempatan dan konfrontasi diri seniman, antara sifat romantisme dan kecenderungan sentimentalisme (lebih kasar mungkin disebut Narsisme) berbaur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Potret di sini bukanlah sebuah gambar mengenai aktivitas kehidupan. Potret lebih banyak bergerak pada tataran sebuah catatan peringatan, buah pikir serta akhirnya berfungsi sebagai “korban” atas dirinya sendiri. Sang seniman lebih banyak berujar mengenai banyak hal dalam karyanya dengan memakai tubuh, wajah, imaji tentang dirinya sendiri. Ia tidak menggambarkan realitas dengan sebuah citra atau sekumpulan tanda-tanda di luar dirinya, tetapi lebih pada “mendera” diri untuk mencapai situasi yang kadang tampak ekstrem.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Perkara lukisan potret diri, dalam sejarah seni rupa telah berkembang pesat. Seni potret telah muncul sejak era seni Timur Jauh (1500 SM.) dan Mesir Kuno yang hidup selama 4000-an tahun. Terbukti dengan adanya bentuk potret diri pada lukisan dinding piramid, selain pada bentuk-bentuk seni patung lainnya. Kala itu perkembangan potret memang bukan mengejar penampakan volume dan kepersisan wajah, namun hanyalah sekadar simbolisasi dari raja-raja yang mereka hormati. Seniman pada masa ini belum tampak mengekplorasi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Di era Romawi kuno potret diri mulai terasa naturalistik, setengah bervolume, namun masih nampak dekoratif. Selain pada lukisan, mereka juga mengembangkan pada patung batu, logam dan lilin dengan kecermatan yang lebih berkembang dari masa sebelumnya. Barulah pada abad ke-15 dan 16 di era Kristen kuno di Eropa, potret diri semakin berkembang pada fungsi agama. Di sela penggambaran Maria dan Jesus (atau sering pula disebut ikon) banyak diproduksi untuk gereja, wajah-wajah seniman muncul sebagai bagian dari representasi physiognomy (ilmu firasat) individu, pelukis itu adalah Pisanello dan van Eyck. Pisanello mengembangkan potret dirinya sebagai profil pada medali (logam), sedang van Eyck melukis dirinya sebagai orang lain pada karya Giovanni Arnolfini and his Wife.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di era Renaissans, potret diri berkembang sebagai bentuk seni pesanan sangat kuat. Para patron, penguasa, pemimpin gereja menjadi pemesan yang sangat dihargai oleh seniman. Ukuran dan gaya lukisannya tampak sedemikian menarik, berkembang lebih bervolume, realistik, dan cenderung dilebih-lebihkan sekaligus romantis: yang jelek nampak cantik, yang cacat dimanipulasi, dan yang biasa dibuat berwibawa. Di masa ini potret diri selain sebagai wujud visual, namun kadang juga dicampuri dengan suasana mitos dan pesan religi. Di sini muncul nama-nama pelukis seperti Veronese, Titian, Tintoretto, Botticelli, dan Velasquez.&lt;br /&gt;Pada era modern seni potret berkembang menjadi aktivitas utama hampir pada setiap seniman. Selain memotret orang lain, sang perupa selalu menyediakan waktu untuk mendokumentasi dirinya pada karya-karyanya sendiri, baik dengan sketsa, lukisan, patung maupun seni grafis. Potret diri seolah telah menjadi satu kajian tersendiri bagi seniman. Ia memiliki fungsi membawa ego seniman-yang merasa telah dikenal oleh publik-sebagai manusia yang patut untuk dilihat, dicatat, sekaligus dihormati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tak kurang seperti Rembrandt dengan amat jeli menampilkan perkembangan dirinya sendiri sejak muda hingga tua: berjenggot dan hampir mati. Puluhan potret dirinya lahir sebagai catatan perkembangan seni yang menandakan upaya seniman bahwa sesungguhnya potret diri telah menjadi satu peruntungan dan tanda perjalanan. Paul Cezanne dan van Gogh melukis dengan gaya Impresionismenya, Picasso memunculkan abstraksi potret dirinya dengan gaya kubis, hingga kemunculan seni potret wajah milik Warhol pada pop art yang dibuatnya dengan warna-warna cerah tahun ‘60-an. Di tahun ‘70-an muncul lukisan megapotret hiperrealis milik Chuck Close.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seni modern Indonesia memunculkan seni potret dengan cerita yang menarik. Raden Saleh memulai dengan kesadaran Romantikisme yang didapatkan dari tempat gaya itu lahir. Ia berhasil mendokumentasi sekian puluh wajah para pesohor Jawa dan beberapa lainnya dengan teknik yang sangat sempurna. Munculnya seni potret Affandi yang berhasil mengeksploitasi dirinya sendiri pada tingkat yang paling ekstrem; menggambar pose telanjang sebagai sarana mengenal dirinya sendiri dengan cara berdiri pada sebuah cermin.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun di tangan Basoeki Abdullah seni potret tampil dengan kesadaran mimetik dan kesenangan (pleasure). Dibuat dengan keterampilan yang tinggi dan dalam tempo tak lama. Dari tangannya muncul ratusan karya potret orang lain dan beberapa tentang dirinya sendiri. Bila tangan Affandi menggenggam pisau, tangan Basoeki menghadirkan bunga. Sejak itu seni potret di Indonesia berkembang diantara ribuan ide. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun jika melacak berbagai kecenderungan yang lebih umum dalam konteks seni rupa dunia, karya ‘potret diri’ selama ini memiliki kecenderungan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;strong&gt;IDENTITAS:&lt;/strong&gt; Memperlihatkan isu tentang identitas diri di seniman secara utuh, tanpa dibebani oleh isu dan konteks yang lain atau menjadi catatan dan sejarah pribadi dengan kompleksitas psikologi si seniman. (Rembrant van Rijn melukis dirinya sendiri sebagai catatan wajah di setiap usia, bisa lihat van Gogh)&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;TESIS &amp;amp; EKSPERIMENTASI:&lt;/strong&gt; Memperlihatkan kecenderungan eksperimentasi dan kreativitas media atau teknik dalam visualisasi potret diri. Bahkan dapat pula sebagai bagian dari sarana pengajuan tesis baru dalam kreativitas seni. (Gustave Courbet ketika memproklamasikan Realisme, Egon Schiele dengan memanfaatkan fotografi untuk mengeksplorasi lukisan cat airnya, Salvador Dali dengan gaya surealistik, Dubuffet dengan Art Brut, Yoshimasa Morimura dengan gaya objek buah-nya, Yue Ming Jun atau Fang Li Jun dengan karakter kepalanya yang khasnya)&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;KONTEKS SOSIAL &amp;amp; SEJARAH:&lt;/strong&gt; Memperlihatkan hubungan antara berbagai hal, situasi dan kondisi yang sedang berlangsung pada saat ini maupun dengan konteks sejarah (masa lalu) peradaban dengan diri si perupa. Dalam hal ini dapat dilihat pula bahwa posisi seniman sebagai makhluk sosial yang berada di tengah-tengah masyarakat. (Leonardo da Vinci pada Monalisa atau Shirin Neshat dalam karya Seeking Martyrdom, 1955)&lt;br /&gt;4. Kecenderungan yang mengarah pada &lt;strong&gt;percampuran ide-ide &lt;/strong&gt;baru yang mungkin belum tercatat dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pameran ini diharapkan perupa melukiskan dirinya sendiri (dalam hal ini ekplorasi wajah sangat dan lebih diharapkan), sesuai dan secara jujur diakui sebagai bagian dari karakter yang dimilikinya saat ini. Adapun perihal media, dibebaskan: lukis, patung, grafis, sesuai dengan kebiasaan dalam berkarya seni. Dalam hal ini kurator akan membaca berbagai peragai yang muncul dalam setiap karya potret diri yang dihasilkan perupa. Sampai sejauh manakah wacana ‘potret diri’ di tangan perupa pada masa kini? Perupa dapat melakukan eksplorasi wacana atau disesuaikan dengan gaya karyanya, atau dapat pula memilih kecenderungan (klasifikasi) yang telah diungkap di atas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini mencoba memetakan ‘peristiwa’ melalui wajah para perupa. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selamat berkarya &amp;amp; salam budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mikke Susanto [Kurator]&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2968538302498348582?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2968538302498348582/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2968538302498348582&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2968538302498348582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2968538302498348582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/10/self-portrait-famous-living-artists-of.html' title='Self Portrait : Famous Living Artists of Indonesia'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQQ_3cz11TI/AAAAAAAAAIo/7lW3UXZA0Mw/s72-c/invitation+self+portrait.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-6145977861932361561</id><published>2008-10-26T16:50:00.002+07:00</published><updated>2008-11-02T22:15:56.691+07:00</updated><title type='text'>Bicara Asia Tenggara Lewat Seni Rupa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3D6UY3UQI/AAAAAAAAAI4/pdSc9colfbY/s1600-h/cover+undangan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264078946138804482" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 276px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3D6UY3UQI/AAAAAAAAAI4/pdSc9colfbY/s400/cover+undangan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai Asia Tenggara, menjadi mahfum ketika saat ini banyak menjadi sorotan karena beberapa negara-negara di bagian ini menunjukkan kepesatan tingkat perekonomian mereka. Dalam dunia politik dan kebudayaan, kita mengenal jargon ”hubungan &lt;em&gt;government to government”&lt;/em&gt; dan ”&lt;em&gt;people to people&lt;/em&gt;”. Ketegangan-ketegangan yang terjadi antar pemerintah dari dua negara, misalnya, tak selamanya identik dengan yang terjadi pada hubungan antar masyarakatnya, khususnya para senimannya. Dan ketika berbicara pada kotak kesenian dan kebudayaan, sepertinya akan sepakat, bahwa seni dan budaya menjadi salah satu perekat hubungan bilateral maupun multilateral masing-masing negara. Dimana terkadang, seni dan budaya seperti tidak terpengaruh akan fluktuasi suhu politik mau pun ekonomi. Malah selama ini nyaris tak pernah terdengar ketegangan yang serius di antara para seniman dari negara-negara Asia Tenggara. Seni juga bisa menjadi obrolan yang panas pada forum formal mau pun unformal kita di era lintas batas saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi bagian dari negara yang berposisi di Asia Tenggara, Indonesia memiliki peranan penting memeriahkan peta seni rupa global. Di tengah gencarnya promosi karya-karya perupa-perupa Indonesia di luar negeri, serta persaingan wacana pasar dan pasar wacana seni rupa Asia saat ini. Maka, sangat tepat ketika gagasan pameran seni visual perupa-perupa Asia Tenggara ’T.V-I.M’ di Jogja Gallery, Yogyakarta, 17 Oktober – 2 November 2008 ini diselenggarakan. Tepat diselenggarakan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dimana di kota inilah pergerakan seni rupa muncul dan menguat. Tepat, di saat fokus seni rupa global saat ini mengarah pada karya-karya perupa asal Asia Tenggara. Saya gembira Jogja Gallery dapat menyelenggarakan pameran ini. Sebab dengan begitu para seniman dapat saling bertukar informasi, memperluas wawasan, membanding-bandingkan, dan lebih dari itu adalah memahami apa yang ingin disampaikan oleh para seniman yang ikut terlibat dalam pameran ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan perupa-perupa asal Thailand, Vietnam dan Malaysia mari kita saksikan bersama bagaimana tema-tema indigenous muncul dalam kemasan kontemporer. Karya-karya dari negara-negara tetangga kita, yang kadang terasa jauh padahal dekat, kadang tak masuk dalam perhitungan padahal tetap eksis. Bagaimana keunikan, orisinalitas dan rasa kebangsaan mungkin masih terasa kental dimunculkan lewat karya-karya yang tersajikan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu, yang diungkapkan dalam seni adalah campuran dari macam-macam perasaan, imajinasi, khayalan, impian, dorongan, naluri, ide-ide, pendapat, yang semuanya berpusat pada nilai estetis karyanya. Sebab seniman pertama-tama didorong oleh nilai keindahan, meskipun bukan keindahan dalam pengertian dangkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski penyelenggara sadar, belum sepenuhnya bisa menampilkan representasi karya semua negara di Asia Tenggara, setidaknya dan semoga pameran kali ini menambah kerekatan hubungan antar infrastruktur seni kita dengan banyaknya agenda acara pendukung yang menyertai digelarnya perhelatan ini. Menjadi mata rantai yang tak berujung antara perupa, kolektor dan pecinta seni. Juga mengingatkan kembali akan posisi penting perkembangan seni rupa kita di peta Asia Tenggara khususnya dan internasional pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni yang baik bisa mengungkapkan keluhuran, keindahan, keanehan, kelucuan, kegembiraan, dan bahkan kekejaman manusia. Seni yang baik juga bisa mengagetkan, menimbulkan kontroversi, dan terkesan provokatif. Sebab melalui karya-karyanya, seniman memprovokasi kita untuk bisa membuka dimensi yang lebih mendalam dari realitas dunia, realitas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berpameran kepada para perupa, selamat menikmati karya-karya yang tersajikan kepada para penikmat seni. Tak lupa, Jogja Gallery, Kelompok Seringgit dan Art Societes mengucapkan terima kasih atas apresiasi seluruh mitra kerja, rekan-rekan media, sponsor dan pendukung pameran ini. Kami tak pupus berharap, melalui pameran ini, semoga kita tak pernah lelah berkompromi untuk terus memajukan seni rupa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hangat,&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Moetaryanto&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Anggota Dewan Penasehat Jogja Gallery&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-6145977861932361561?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/6145977861932361561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=6145977861932361561&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6145977861932361561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6145977861932361561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/10/bicara-asia-tenggara-lewat-seni-rupa.html' title='Bicara Asia Tenggara Lewat Seni Rupa'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/SQ3D6UY3UQI/AAAAAAAAAI4/pdSc9colfbY/s72-c/cover+undangan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-6711367727285392087</id><published>2008-02-07T16:12:00.000+07:00</published><updated>2008-02-07T16:36:48.230+07:00</updated><title type='text'>Komedi Putar, 15 - 30 March 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/R6rQYkbkSXI/AAAAAAAAAF0/ao0mvLTicfI/s1600-h/komedi+putar.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/R6rQYkbkSXI/AAAAAAAAAF0/ao0mvLTicfI/s400/komedi+putar.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5164169043248433522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-6711367727285392087?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/6711367727285392087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=6711367727285392087&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6711367727285392087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6711367727285392087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/02/komedi-putar-15-30-march-2008.html' title='Komedi Putar, 15 - 30 March 2008'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/R6rQYkbkSXI/AAAAAAAAAF0/ao0mvLTicfI/s72-c/komedi+putar.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5375288727006481188</id><published>2008-02-07T15:34:00.001+07:00</published><updated>2008-02-07T15:57:49.143+07:00</updated><title type='text'>Diskusi Pra Even Kebangkitan Nasional</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;      &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:14;color:maroon;"   &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;Notulen Diskusi Pra Even&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pameran Seni Visual 100 tahun Kebangkitan Nasional&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;‘Setelah 20 Mei*’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery [JG], 2 Februari 2008, pukul 16.00 WIB – selesai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Narasumber:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;DR. Baskara T Wardaya SJ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;[Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik / PUSDEP Universitas Sanata Dharma Yogyakarta]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;DR. Sri Margana, S.S., M.Hum, M.Phil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;[Staf pengajar Ilmu Sejarah, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Moderator:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto, S.Sn&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;[Kurator Jogja Gallery]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pengantar:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Untuk menjaring karya-karya seni terbaik, Jogja Gallery menyelenggarakan diskusi pra even kompetisi seni visual dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional ‘Setelah 20 Mei*’. Diskusi ini bersifat terbuka untuk perupa mau pun mereka yang tertarik hubungan antara seni visual dengan sejarah Kebangkitan Nasional. Diskusi ini membahas pergolakan wacana dan polemik tentang Kebangkitan Nasional serta menguak dokumen-dokumen penting berupa foto-foto atau artefak-artefak lain yang terkait dengan hari Kebangkitan Nasional yang telah berusia 100 tahun ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Kompetisi ini sendiri diselenggarakan untuk turut memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional yang akan jatuh 20 Mei 2008. Melalui kompetisi ini, Jogja Gallery mengajak para perupa untuk ikut merespon isu kebangkitan nasional. Dimana dalam kurun waktu 100 tahun, kebangkitan nasional bagi kalangan muda Indonesia memiliki penyikapan yang beragam sesuai riuhnya globalisasi yang tak bisa disangkal turut memberi pengaruh pada pola pikir, penyikapan, gaya hidup bahkan kepribadian personal mau pun bangsa Indonesia sendiri. Hasil dari kompetisi seni visual terbuka ini akan dijaring karya-karya [dengan media bebas] yang akan dipamerkan di Jogja Gallery mulai tanggal 20 Mei – 8 Juni 2008. Kompetisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan perupa-perupa berbakat dengan mengedepankan kualitas karya melalui penyikapan semangat kebangkitan nasional terkini!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Diskusi ini diselenggarakan untuk&lt;b&gt; &lt;/b&gt;mencari berbagai hal dengan tema yang dimaksud agar bisa diungkap dalam bentuk seni visual. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pentingnya even kali ini adalah peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini adalah yang ke-100, dan tidak akan pernah bisa terulang. Mungkin yang peringatan yang ke 200 nanti, cukup fenomenal, itu pun kalau memang masih ada nasionalisme. Sembari kita akan diskusi lebih lanjut tentang Kebangkitan Nasional, selaku pembuka, diskusi ini akan dipandu saya sendiri. Diskusi bersifat terbuka untuk umum, tidak harus perupa yang berminat mengikuti kompetisi dan non formal. Silakan merespon wacana mau pun teknis. Kurator dan manajemen Jogja Gallery [JG] akan menyiapkan diri untuk masalah-masalah teknis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Memperkenalkan, Romo DR. Baskoro T Wardaya, direktur Pusdep, lebih konsentrasi ke sejarah pasca kemerdekaan secara formal ilmiah. Dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dalam diskusi ini harapannya lebih mengarah kepada kontekstualisasi even-even mau pun program-program yang terkait dengan persoalan politik mau pun sejarah kebangsaaan. Banyak teman-teman seniman yang ingin mendapat inspirasi dari sejarah bangsa. Pameran yang sifatnya terhadap penghormatan sesuatu, telah banyak dibuat oleh banyak galeri di Indonesia. Khusus pada even kali ini, saya lebih ingin mencermati tidak melulu pada penghormatan pada peristiwa, tapi lebih pada perosalan kebangsaaan karena seniman juga bagian dari masyrakat dan bangsa. Ada pijakan utama yaitu nasionalisme. Di sini lebih penting menjadi metafora atau titik kajian yang utama. Ketika kompetisi yang pernah diselenggarakan oleh JG dalam rangka 200 tahun Raden Saleh, dibahas melalui salah satu karya Raden Saleh. Tapi kali ini lebih dibahas lewat even Kebangkitan Nasional secara umum, dimana peristiwa ini sangat jauh lebih muda daripada Raden Saleh, berselang 100 tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Kegelisahan JG sudah lama kita pikirkan, ketika setahun sebelum Mei 2008 mulai muncul even ini. Kegelisahannya, ini kita mau memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, tapi apa yang terjadi pada bangsa ini? Apakah kita betul-betul sudah bangkit? Padahal kalau kita lihat, problem bangsa ini semakin banyak. Dirunut sejarah, kebangkitan nasional pertama, intinya dari Pangeran Diponegoro hingga munculnya Boedi Oetomo. Seperti Dr. Wahidin Soedirohoesodo keliling dengan sandal jepit memprovokasi tentang kebangkitan nasional. Kalau dipikir gila-gila semua para pendahulu kita. JG dan kita semua sepakat, kita bisa melakukan kebangkitan nasional melalui seni budaya. Sementara pamungkas itu adalah seni budaya. Hasil pendataan riil, yang tidak dilakukan pemerintah, komunitas, penggerak bahkan even seni budaya itu ada ratusan ribu seluruh Indonesia. Indonesia Visit Year tahun ini pun tidak muncul. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Dari satu kotak, seni budaya ini, diharap lebih konsisten dengan kompetisi yang dimunculkan. Niat dari JG, kami sadar penuh bahwa mungkin tidak ada artinya, mungkin ada yang mencemooh, tapi kita tetap harus melakukan sesuatu. Terlalu berat ketika kita harus memikirkan kebangkitan nasional yang sesungguhnya. Tapi kita bisa melakukan banyak hal, melalui hal kecil ini. Jadi titip untuk para penulis dan para perupa ikutlah kompetisi ini dengan ‘jiwa’. Karena ‘jiwa’ Anda ada dalam karya ini di kesempatan yang langka, 100 tahun Kebangkitan Nasional kali ini. Kebetulan saya ikut terlibat dalam kepanitiaan yang melibatkan UGM, ketua Prof. Soetaryo. Namun kepanitiaan ini terkesan masih ceremonial. Karena membangun kebnagkitan nasional jaman dulu itu taruhannya nyawa pada masa itu. Sementara kita memperingati kesannya hanya ceremonial. Untuk itu kita harus serius. Mari kita buktikan kita punya aura dan daya yang lebih konkret dan lebih ‘berbahaya’ dan akan terpengaruh melalui pameran kali ini. Semua bisa merasakan kekuatan perjuangan dan kenyataan bahwa ‘perjuangan’ itu tidak habis-habisnya. Marilah kita sambut dengan baik. Pastilah kami banyak kekurangan dan keterbatasan, kami hanya punya niat baik untuk semuanya dalam mengisi satu item yang tidak pernah bisa diukur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Saya meneruskan rangkaian peristiwa 100 tahun Kebangkitan Nasional. Bahwa akan ada bnayak rekan-rekan di seluruh Indonesia merespon even ini. Saya kira persoalan ini memang menjadi milik kita sendiri, alangkah baiknya, kita harus lebih baik. Dan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan peristiwa 10 tahun Reformasi ini tidak jelas arahnya. Satu pembicara yang belum saya perkenalkan adalah DR. Sri Margana, beliau baru saja lulus, 3 minggu lalu dari studi PSd di Leiden, Netherland. Beliau memang bekerja sebagai staf pengajar ilmu sejarah UGM. Apa opini mereka tentang Kebangkitan Nasional. Ada banyak buku dan selebaran, beberapa catatan dari situs internet yang mempertanyakan kembali tentang Kebangkitan Nasional. Mas Margana akan bicara tentang buku-buku tentang konteks sosial politik saat itu. Terutama tentang catatan Ki Hajar Dewantoro tentang Kebangkitan Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sri Margana:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Selamat sore. Saya memimpikan bisa berkomunikasi dengan komunitas seni. Saya juga suka seni tapi tidak kesampaian, ingin merasa menjadi seniman juga. Saya diberi tugas sama Mas Mikke, ide awalnya adalah bahwa nanti ada peringatan Kebangkitan Nasional dan para perupa bisa mengungkapkan persepsi mereka dan bisa diberikan inspirasi melalui diskusi ini. Maka saya tidak akan cerita sejarah. Saya akan bicara mozaik-mozaiknya saja, yaitu hal-hal yang mungkin tidak bisa diketahui di pelajaran sekolah atau buku tentang Kebangkitan Nasional itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Boedi Oetomo [BO], sebetulnya ada banyak kontroversi yang menyertainya. Ada yg menggugat sangat keras sekali, bahwa BO tidak layak untuk menjadi tonggak kebangkitan nasional hanya karena anggotanya para priyayi Jawa, dan hanya kegiatan sekumpulan priyayi. Kapan sebenarnya Indonesia memperingati Kebangkitan Nasional? Tahun 1948. Yg mempunyai ide, kala itu adalah presiden Soekarno. Tahun 1948 itu adalah periode dimana Indonesia sedang berjuang memproklamasikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemerdekaan. Kenapa punya ide itu dengan melihat BO, karena Indonesia sudah mulai terbelah-belah lagi, ada perjanjian Renville, Van Royen, yang membuat Indonesia semakin sempit. Maka Soekarno punya ide, mempunyai momen dan kekuatan untuk membangun kembali, semngat Indonesia untuk bersatu lagi. Waktu itu namanya bukan Kebangkitan Nasional, tapi kebangunan nasional. Maka berkumpullah organisasi-organisasi Islam, Kristen di Yogyakarta untuk menyepakati kebangunan nasional, dan diterima. Ada kontroversi datang dari Hatta, tidak setuju. Jangan sampai Kebangunan Nasional menyaingi 17 Agustus. Jadi Indonesia seharusnya hanya punya ada satu hari nasional saja yaitu 17 Agustus saja. Kemudian Ki Hajar Dewantoro menanggapi, tahun 1950, dia juga menyinggung, termasuk peristiwa penyerahan kedaulatan itu tidak disamakan dengan 17 Agustus. Ki Hajar Dewantoro, punya pendapat bahwa Hatta benar tapi juga salah. Salahnya adalah alangkah miskinnya suatu bangsa hanya punya satu hari nasional saja. Kalau perlu kita mempunyai hari nasional sebanyak mungkin. Dan tidak harus, hari nasional tersebut harus menjadi hari libur atau tanggal merah. Makanya ada sebuah buku, banyak buku kontroversi yang muncul, saya baca ya mereka terlalu historis, kan motifnya terlalu akademis, kalau saya ungkapkan di sini bisa lebih kacau. Kemudian saya bongkar buku, di perpustakaan jurusan Sejarah UGM, ada dari Ki Suratman. Ini buku yang ditulis alm. Ki Hajar Dewantoro, mengapa kita memperingati Kebangunan Nasional tgl 20 Mei dan kenapa BO. Ketika Soekarno dan Hatta memproklamirkan 17 Agustus, apakah saat itu juga Indonesia merdeka? Kan enggak, masih ada Agresi Belanda dan seterusnya, masih sampai tahun 50 berperang dan berdiplomasi. Apakah rakyat terbebas dari kaum feodal kan juga tidak. Ketika BO dianggap kebangkitan nasional apakah juga semua orang bangkit. Sebuah nation state itu perlu mitos-mitos untuk kelangsungan hidupnya, salah satunya dengan menciptakan hari-hari nasional. Yang penting kita mempunyai satu momen sebagai mitos nasional sebagai ideologi. Jadi bagi sejarawan, kontrovesi semacam ini biasa. Sejarah selalu subyektif dan tidak perlu diperdebatkan. Kalau melihat dari tingkah laku dan hal-hal yang secara nyata para tokoh-tokohnya, tidak diragukan sedikit pun, bahwa mereka telah melakukan hal-hal yang luar biasa. Saya punya banyak cerita menurut Ki Hajar Dewantoro, 1908 – sampai Indonesia merdeka itu adalah masa Indonesia bangkit. Semua kontrovesi dalam buku itu adalah tokoh-tokohnya. Yang penting perilaku para tokoh-tokohnya ini yang penting ditiru. Misalnya Dr. Cipto Mangunkusumo, dia juga tokoh BO, dia seorang dokter, dokter jawa pertama yang diberi penghargaan oleh pemerintah Belanda, karena berhasil memberantas penyakit pes. Akhirnya dia mengembalikan penghargaan itu kepada Belanda, dan menaruhnya di pantat. Ada tokoh lain, Sosro Kartono, beliau adalah kakaknya Raden Ajeng Kartini, waktu itu dia diundang ke Brussel, untuk memberikan pidato, dia memberikan kritik kepada pemerintah kolonial Belanda, bahwa penjajah sengaja membodohkan rakyat. Kemudian pidatonya itu dimuat di sebuah koran, kemudian profesornya membaca. Kemudian dia bilang kalo promotornya Sosro Kartono masih Snouke Gorgoye, dia tidak pernah menjadikannya professor. Tapi Sosro Kartono adalah orang yang hebat, waktu itu dia juga mendapatkan tawaran, apabila ingin menyudahi disertasinya, maka hutang-hutang dia akan dianggap lunas. Kemudian, dia menjawab, bahwa hutang dia itu adalah satu-satunya kekayaannya, maka kalau diambil sama saja mengambil kekayaannya. Dan masih ada banyak cerita. Apakah sebetulnya yang mendasari semangat kebangkitan nasional. Dr. Ismangun, aktif di Perhimpunan Indonesia, waktu itu dia mau menjalani ujian menjadi doktor. Tapi Ismangun tidak boleh dikasih kursi, dia dikasih tikar. Ada Ali Sastroamijyo, dia ditahan di Belanda, karena dia aktif karena dianggap menghasut untuk membangkitkan semangat kemerdekaan. Ali Sastro waktu dia dipenjara dia seharusnya harus ujian menjadi sarjana hukum, oleh polisi diambil dari tahanan dan menjalani ujian, dia dicecer habis-habisan untuk kelihatan bodoh, tapi akhirnya dia lulus. Jangan hanya menilai sesuatu dari apa yang nampak di kertas, tapi kita juga harus mempelajari tokoh-tokohnya. Saya punya koleksi-koleksi foto. Ini hanya sekadar memberi impresi, rakyat kita seperti apa, supaya bisa memahami lebih jauh. Kenapa BO awalnya bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan. Ketika tokoh-tokoh kita sedang berpikir tentang &lt;i&gt;nation state &lt;/i&gt;saat itu. Saya ingin memberikan konteks sosial, budaya potret masyarakat saat itu, seberapa kemajuan dan tingkat kehidupan masyarakat saat itu. Ada festival rakyat seperti memanah dan balap kuda, dalam periode kolonial saat itu. Keadaan seperti ini sebenarnya juga masih bisa kita temukan sampai sekarang. Kemudian apa sih kegiatan para doktor, STOVIA saat itu? Ada &lt;i&gt;image&lt;/i&gt; tentang sebuah penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Kepala desa bertugas mengumpulkan penduduknya untuk diberi penyuluhan kesehatan. Ada penyuluhan juga dengan layar tancap. Jadi dokter-dokter waktu itu sudah membuat langkah-langkah nyata. Lewat proses ini persoalan nasionalisme juga bisa disampaikan. Jadi peran dokter memang berpengaruh saat itu, karena pemerintah kolonial bermasalah dengan masalah kesehatan supaya wabah-wabah penyakit itu tidak menjadi masalah dan menular ke para kolonial. Ada image tokoh -tokoh jaman Belanda, Alimin dan Muso. Tiga Serangkai yg mempengaruhi PI menjadi sangat radikal di Belanda. Banyak tokoh-tokoh STOVIA yang bisa melanjutkan studinya di Belanda. Ada cerita tentang Goenawan Mangoenkoesmo, waktu itu dia diundang organisasi untuk memberikan pidato, tapi diprotes karena tidak radikal dan tidak pernah bertemu dengan tokoh-tokoh Belanda, sampai pada acara itu dia mau berkelahi karena dikritik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Salah satu cara menjaring karya adalah dimensinya yang ilustratif, tidak mesti karya mempunyai konteks sosial saat ini. Jadi dimensi kebudayaan juga punya pengaruh besar terhadap pemikiran di masyarakat saat itu. Selanjutnya disambung oleh Romo Baskoro tentang bagaimana kontekstualisasi sejarah ini pada masa sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Baskara T Wardaya: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Saya kira dengan mendengarkan presentasi dari Mas Margana sudah jelas, saya menambahkan beberapa hal saja, siapa tahu bisa menjadi tambahan masukan, sehingga memberikan inspirasi visual. Mengapa &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; kita perlu belajar sejarah? Mengapa kita perlu berurusan dengan sejarah? Mungkin bikin ngantuk atau membosankan, tergantung dari cara pengajaran. Sejarah itu menjadi penting, setidaknya sejarah adalah hal yang membedakan kita di dunia ini. Sejarah yang membedakan manusia dengan benda atau binatang. Hanya manusia yang tahu sejarahnya, maka itu menjadi esensi kemanusiaan kita. Saya kira menjadi turun derajat kita sebagai manusia, apabila kita tidak mengetahui esensi kemanusiaan kita. Oleh karena itu apa pun profesi kita, kesejarahanlah yang menyatukan kita sebagai mahluk yang bernama manusia. Apa sebenarnya sejarah itu? Sejarah dipahami dalam 3 hal, sejarah sebagai peristiwa masa lalu, sesuatu yang terjadi di masa lalu itu kita sebut sebagai sejarah. Sejarah juga bisa sebagai cabang ilmu yang merekonstruksi, menerangkan masa lalu. Sejarah juga bisa disebut sebagai sebuah wacana, entah itu sosial mau pun politik. Nah ini dimensi menarik dari sejarah. Selama ini BO merupakan titik tolak sebagai kebangkitan nasional. Meski ada kontroversi, dimana ada pendapat bahwa Syarikat Islam yang seharusnya berhak untuk itu. Beberapa waktu lalu, Anda mungkin pernah mendengar mengenai dibakarnya buku-buku sejarah. Ada pertempuran wacana di situ. Semasa pemerintahan Orde Baru, sejarah menjadi selektif dan menjadi medan pertempuran wacana, yaitu wacana sosial politik. Nah tadi kita banyak ngomong apa yang disebut nasionalisme. Apa itu nasionalisme? Ada banyak definisi, tapi pengertian umum adalah sebuah pemahaman atau wacana politik yang menerangkan sebuah entitas politik tidak lain ditentukan oleh suku, agama atau garis keluarga [keturunan], tetapi oleh sebuah identitas sosial besama. Nah biasanya muncul atas masa lalu bersama atau ingatan kolektif, maka ada rasa kesatuan dan atau bangsa sehingga ada nasionalisme. Kalau feodalisme itu ditentukan oleh garis keturunan. Sebuah bangsa, ada identitas bersama yang diciptakan, yang bisa disebut sebagai &lt;i&gt;imaging communities&lt;/i&gt;, ada sebuah reka bayang kita sebagai bangsa. Semasa pemerintahan colonial Belanda, pengertian mereka bahwa yang namanya Jawa, Dayak, Aceh itu bangsa. Ya pengertian bangsa memang sebenarnya itu. Mulai abad 20 ada pengertian yang melebihi sebuah itu, bahwa Indonesia sebagai bangsa, dan yang lainnya suku. Kalau dibalik, suatu bangsa bisa dipertahankan kalau bisa mempertahankan ingatan kolektif itu. Dalam hal ini, ada ikatan disana. Maka menjadi penting, apa pun profesi kita, kalau masih ingin mempunyai Indonesia, maka kita pelihara ingatan kolektif itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Di dalam konteks itulah lahir ide mengenai kebangunan nasional atau Boedi Utomo. Pada waktu tahun ’48, kita mau diserang oleh Belanda, di samping itu ada pertentangan antara tentara pemerintah dan tentara kiri, bangsa ini hampir terpecah-pecah, dan membutuh sesuatu yang menyatukan. Ini salah satu cara untuk mengikat kita sebagai sebuah bangsa. Sebenarnya satu atau dua hal yang bisa kita tambahkan, dr. Wahidin Soedirohoesodo, di Mlati Sleman, ada yang mengatakan dia mendapat pengaruh dari A. Rifai, dia prihatin sejak runtuhnya Hinduisme, Jawa mengalami kemunduran. Yang dulunya bisa membangun Borobudur dan Prambanan yang begitu megah, saat ini mengalami kemunduran. Dia prihatin, seperti masalah pendidikan. Bagaimana rakyat bisa mendapatkan pendidikan modern. Namun seorang Wahidin Soedirohoesodo tidak memiliki uang waktu itu. Kemudian ia ketemu dengan bupati, bahkan dia rela hingga menunggu 10 jam, baru bisa bertemu dengan bupati. Dia memprovokasi lebih dari satu bupati, akan perlunya memberikan beassiwa pendidikan. Bupati-bupati tersebut setuju. Maka Wahidin mengutarakan niatnya akan kebutuhan dukungan dana. Tapi bupati-bupati itu banyak yang menolak ketika harus memberi uang. Akhirnya sampailah dia ke Batavia dan bertemu dengan anak-anak muda. Hingga muncullah sebuah niatan yang berbudi dan bertujuan mulia, maka jadilah gerakan Boedi Oetama [BO]. Hingga ada kongres pertama yang diselenggarakan di Yogyakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pada satu sisi memang agak problematis, karena ada kelas dibawah priyayi tapi diatas kelas menengah. Ada perdebatan ketika agenda pertemuan di Yogyakarta kala itu. Pertama, adalah kelompok yang wawasannya agak sempit. BO kala itu tidak hanya berurusan dengan orang Jawa tapi juga Belanda, tidak hanya mengurusi bidang pendidikan melulu tetapi juga politik. Sehingga BO tidak murni urusan Jawa. Kemudian ada kontroversi karenanya dan hal itu lumrah, sehingga membuat sejarah itu dinamis. Yang penting bagi kita, ada dan perlunya ingat kolektif itu sebagai identitas sosial dan politis bagi kita. Apa yang bisa kita sumbangkan? Adalah dengan belajar sejarah, dengan melihat foto-foto tadi, di situ kemanusiaan kita ada. Dengan belajar sejarah, kita menggaris bawahi keberadaan kita sebagai manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sigit [Forum]:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Kata kebangkitan bagi saya sangat seksi. Artinya di sini orang bisa bangkit itu biasanya karena ada yang mengelus-elus dan membisiki. Dari sekian foto yang tadi ditampilkan, semuanya berjenis kelamin laki-laki. Nah, sebenarnya ada yang perempuan tidak? Saya pernah bertanya kepada keluarga dari dr. Wahidin. Istri dr. Wahidin itu keturunan Jerman Perancis, jadi memang none Eropa. Dr. Soetomo itu juga istrinya orang Eropa, katanya perawan. Dr. Wahidin juga mewarisi masalah Retno Dumilah, yang artinya seperti kurang lebih adalah air mani. Yang itu juga warisan dari cendekiawan Belanda. Kemudian pertanyaan saya, ini ada hubungan apa antara intelektual Belanda dengan kita waktu itu? Apa hubungan none Eropa dengan tokoh-tokoh kita? Saya mengharapkan ada cerita mengenai itu. Terima kasih.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Dr.Cipto dianggap orang yang paling tua untuk memberi nasehat. Bisa ‘ereksi’ karena distimulus oleh bacaan, bukan karena sentuhan, karena lebih banyak bersentuhan dengan buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Baskara T Wardaya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Ada hal yg membuat kita menjadi sebuah bangsa. Pertama, secara internal, karena kesamaan penderitaan di jajah oleh Belanda. Nasionalisme selalu ada faktor internal, misal para pelajar STOVIA ada dalam posisi yang tanggung. Secara eksternal, pada tahun 1901, Belanda memiliki ratu baru, Wilhelmina dengan menerapkan politik etis. Penjajahan Belanda yang terlalu kejam terhadap Indonesia kala itu, dengan politik etis berupaya mengurangi kekejaman itu dengan memberikan edukasi, irigasi, imigrasi. Ini adalah keahlian menangkap momentum. Hal ini dimata seniman itu menjadi sesuatu yang menarik. Kepekaan dan keahlian itu kita harus punya, dimana dimiliki oleh anak-anak STOVIA . Dan dalam sejarah, perubahan itu kebanyakan diawali oleh anak-anak muda, umur 20-an ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Forum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Lebih detail apa sih peran Sastro Kartono atau konsep dia tentang konsep nasionalisme? Setelah dia ke Indonesia lagi, kemudian menetap di Bandung. Dalam sejarah tidak pernah disebut-sebut tentang peran dia. Mengutip dalam pidatonya dia, yang juga sangat keras sekali pada Belanda, dia mengatakan bahwa dia akan menjadi musuh bagi siapa saja. Saya ingin tahu lebih detail tentang konsep dia tentang nasionalisme dan Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Margana&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Sasro Kartono ke Belanda pada awalnya, sebenarnya membawa misi kesenian yaitu memperkenalkan wayang. Dia juga mengenalnya konsep wayang dalam sebuah buku. Dia sangat dekat dengan Abendanon yang sangat terbuka. Saat itu Abendanon adalah Menteri Kebudayan, dia juga memberi inspirasi masyarakat untuk mendirikan sebuah organisasi. Tahun 1893-an, akhir abad 19, masih jauh dari BO waktu itu, tapi sikap dia waktu itu yang sangat menginspirasi mahasiswa adalah ketika dia diperlakukan tidak layak professor-profesor Leiden yang sangat kolot itu. Dia menguasai 13 bahasa, dia satu-satunya orang Indonesia pertama yang menjadi wartawan, dia punya gaji yang snagat tinggi sebagai orang pribumi. Konsep-konsep nasionalisme dia kalau dirunut-runut tidak ada, karena filsafatnya yang &lt;i&gt;‘kantong bolong’.&lt;/i&gt; Yaitu rejeki itu jangan disimpan di kantong sendiri, biarkan kantong bolong, dibagikan rejeki itu kepada yang lain. Dia juga dianggap tokoh klenik. Oleh Soekarno dia dikagumi dari aspek spiritualnya. Makanya Soekarno dalam pandangan-pandangannya lebih &lt;i&gt;njawani&lt;/i&gt; dan sinkretisme, Sastro Kartono lebih dihargai karena ke-&lt;i&gt;jawaan-&lt;/i&gt;nya itu, sikap-sikap religius dia, bukan dari paham-paham kebangsaaannya. Sosok Kartono sebagai sosok nasional terutama saat di Eropa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Forum: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Dia sempat dituduh sebagai komunis? Apakah ada sikap politis dia untuk hal ini ketika dia kembali ke Indonesia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sri Margana: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Dia tidak berbuat apa-apa dalam hidupnya. Dia &lt;i&gt;inward looking&lt;/i&gt;, kontemplasi, dia dituduh macam-macam tetapi dia tidak pernah merespon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Ada satu hal yang menarik akan pilihan kita terhadap selera mau pun gaya hidup dari para tokohnya. Sekarang dimensinya menjadi kuat sekali, buat Belanda atau Eropa, hal itu lebih universal, lebih lebar dimensinya. Pikiran untuk tetap menjadi Jawa atau Indonesia mungkin akan menjadi menarik dalam khasanah waktu itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Rahma [Forum]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Di awal dikatakan kalau kebangkitan nasional dicetuskan Soekarno, itu 3 tahun sesudah proklamasi. Yang masih menggantung, Soekarno sendiri lebih condong ke pemikiran kiri, komunis. Apa dari &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; narasumber tadi dikatakan, tentang bagaimana menciptakan hari nasional. Apakah Soekarno waktu itu, murni membangkitkan &lt;i&gt;nation state&lt;/i&gt; atau ada faktor politik untuk mencari pengakuan dari negara luar? Ada faktor politik lain yang melatarbelakangi pencetusan hari itu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sri Margana:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Perhatian Soekarno waktu itu atas usul kebangkitan nasional adalah karena dia melihat masih adanya bahaya mengancam atas kedaulatan Indonesia saat itu. Tahun ‘48 itu agresi Belanda akan datang, demikian pula dengan perjanjian Roem Royen justru membuat Indonesia menjadi terbelah-belah. Dan dia melihat sebagian tokoh-tokoh nasional waktu itu juga terbelah pemikiran tentang Indonesai yang merdeka. Maka kita perlu sebuah mitos nasional yang bisa menjadi kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan. Orang sudah merdeka kok masih merundingkan tentang kedaulatan. Jadi jawabannya adalah murni karena Soekarno prihatin atas kedaulatan kebangsaaan Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Choirodin [Forum]:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Seperti tadi sudah dijelaskan, saya ingin mengaitkan langsung dari spirit yang diambil, dimana ketika kemerdekaan ada ancaman sehingga muncul sebuah &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; kebangunan nasional. Apa yang diharapkan dari even ini, kompetisi atau pameran seni visual itu sendiri? Konsep budaya itu minimal bisa berpartisipasi dalam momen tersebut. Karena untuk konteks saat ini menurut pengamatan saya sendiri, seakan-akan juga sama halnya dengan kejadian saat itu, cuman beda konsep, dimana nasionalisme juga diambang kehancuran.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tidak sebatas territorial, lebih dari masalah identitas kebangsaaan, atau kebanggaan menjadi Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto: &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Selaku kurator, pada awalnya keinginan untuk membuat even ini muncul sesungguhnya dari berlalunya 10 tahun Reformasi. Ini harus kita rayakan bersama, menjadi satu momentum, mengipaskan kembali sensibilitas kita semua, untuk memunculkan satu gerakan budaya. Membangkitan lagi persoalan kita saat ini. Tujuannya bukan persoalan kemerdekaan lagi, ada banyak hal yang muncul yang menjadikan kita kriris. Seperti hak royalti, hak kita sebagai kebudayaan atas itu yang diambil. Terkait dengan tujuan pameran ini, bahwa kita ingin memperingati, tidak berhenti di situ, peringatan ini harus melahirkan satu &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt;, bahwa kita masyarakat seni di Yogyakarta, mampu memberi satu jalan untuk menggugah persoalan-persoalan itu, menggambarkan persoalan di tengah masyarakat kita ini. Apakah ini masih sensitif bahwa ini masih masalah atau bukan? Apakah kita masih punya ingatan kolektif ini? Saya gembira banyak berita bahwa kompetisi ini banyak direspon oleh para perupa di berbagai kota. Memang karena keterbatasan ruang sehingga harus menyeleksi. Beberapa hal mengenai sebuah karya masuk selseksi atau tidak, bisa dilihat kriterianya dalam brosur yang manajemen JG distribusikan. Persoalan lain adalah para tokoh, penghargaan kita terhadap imajinasi para tokoh ini untuk membentuk masyarakat bersama, meski agak membingungkan ketika bahwa ada Belanda maka kita ada. Persoalan wacana, itu akan menjadi polemik lagi, karya-karya Anda akan sangat mungkin didebat oleh publik. Persoalan kontekstualisasi masyarakat sekarang. Jadi itu hal-hal yang ingin saya tangkap. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Baskara T Wardaya:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Saya ingin bicara seusatu yang mungkin tidak berkait langsung dengan kegiatan. Mengapa sejarah itu penting, saya guru sejarah, jadi harus promosi. Yang menurut saya yang agak lemah, dan akibatnya 2 minggu terakhir, cara berpikir logis kita itu agak lemah dan itu dibombadir dari luar, sehingga kurang kritis. Kita lagi ribut soal pahlawan, apakah alm. Soeharto layak disebut pahlawan dan sebagainya. Sementara definisi pahlawan itu adalah yang berjuang melawan Belanda. Misalnya Diponegoro, padahal dia hanya berjuang untuk Tegalrejo misalnya. Bahwa saat itu belum ada yang namanya Indonesia [ada Indonesia setelah tahun 1908 dan seterusnya]. Sebenarnya ada anak-anak muda yang berjuang, namanya 26 di Jawa, 27 di Sumatra, mereka berjuang untuk Indonesia. Sayangnya mereka PKI, sehingga tidak diakui. Nah bagaimana selektifnya kita akan hal itu. Maka definisi pahlawan perlu dipertanyakan lagi. Kita semua terpukau oleh media massa itu dan marilah kita berpikir ulang akan itu. Saya kira sejarah membuat kita berpikir misalnya tentang hal itu, sehingga kita menjadi bangsa yang kritis. Tugas kita bersama untuk kembali ke sana, situasi kita agak berbeda tapi mirip.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sri Margana:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; Ini menjawab kegelisahan tentang kehilangan identitas ke-Indonesia-an itu, kita semua merasa kehilangan kebanggaan ke-Indonesia-an itu. Apa yang diharapkan saya kira adalah sampai sekarang semangatnya itu yang masih dibutuhkan. Makanya kita harus selalu terus membangun kebangunan itu, didengung-dengungkan terus, supaya menjadi semangat. Membangun visi itu harus punya perspektif ke belakang, punya pengalaman sejarah yang kuat. Masyarakat kita sendiri punya apriori dalam sejarah. Tidak ada yang bisa dijadikan panutan. Maka tugas seniman-seniman mengambil alih fungsi itu dengan &lt;i&gt;sense of art&lt;/i&gt; itu melalui karya-karya mereka, sehingga publik menjadi lebih mudah menerima, daripada membaca teks sejarah yang membuat ngantuk. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Mikke Susanto&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;: Diskusi ini hanya satu penggal, irisan kecil dari cerita kebangkitan nasional. Satu hal kecil ini bisa menjadi banyak hal untuk ke depan. Harapan saya sebagai kurator dan manajemen JG, kesenian jaman sekarang itu bebas, tidak ada kungkungan sebagai penggiat seni dari penguasa dan dari mana pun. Bagaimana menelurkan persoalan bangsa ini menjadi lebih menggigit, saya kira di situ pentingnya kaitan antara displin ilmu untuk bisa berkait terus di Jogja Gallery. Kalau waktu itu di tahun ‘70-an, ada poros Malioboro, Gampingan dan Bulaksumur, intens dikerjakan. Di tahun ‘80-an akhir, ‘benang’ itu sudah mulai putus. Jogja Gallery diupayakan sebagai media baru supaya kawasan utara dan selatan menjadi satu melalui keberadaan Jogja Gallery. Kesimpulan akhir berkaryalah yang bagus supaya masuk seleksi. Tidak ada batasan apa pun soal teknis, bias membuat &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; baru tentang apa itu seni jaman sekarang. Dan opini Anda tentang kebangkitan nasional akan terus diharapkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Selesai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;color:maroon;"   &gt;Informasi dan keterangan selanjutnya, silakan menghubungi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;color:maroon;"   &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;color:maroon;"   &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Jogja Gallery [JG]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000 INDONESIA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telepon +62 274 419999, 412021&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telepon/Fax +62 274 412023&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Email &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;http://jogja-gallery.co&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5375288727006481188?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5375288727006481188/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5375288727006481188&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5375288727006481188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5375288727006481188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2008/02/diskusi-pra-even-kebangkitan-nasional_07.html' title='Diskusi Pra Even Kebangkitan Nasional'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3537654867690345763</id><published>2007-12-13T15:21:00.000+07:00</published><updated>2007-12-13T15:39:48.537+07:00</updated><title type='text'>Artmosphere Academic Exhibition</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/R2DvEKotafI/AAAAAAAAAFk/lM_IrmkBFlQ/s1600-h/Poster+Artmosphere+Academic+Siap+Cetak.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/R2DvEKotafI/AAAAAAAAAFk/lM_IrmkBFlQ/s400/Poster+Artmosphere+Academic+Siap+Cetak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143373629310724594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3537654867690345763?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3537654867690345763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3537654867690345763&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3537654867690345763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3537654867690345763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/12/artmosphere-academic-exhibition.html' title='Artmosphere Academic Exhibition'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/R2DvEKotafI/AAAAAAAAAFk/lM_IrmkBFlQ/s72-c/Poster+Artmosphere+Academic+Siap+Cetak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5948842883702048357</id><published>2007-10-31T11:47:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:11.537+07:00</updated><title type='text'>Following the City Through Sketches</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RygLU2WM5OI/AAAAAAAAAFc/rYJw9CZ8Gkw/s1600-h/Ngejaman+Kraton,+campuran,+30+x+42+cm,+2007.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RygLU2WM5OI/AAAAAAAAAFc/rYJw9CZ8Gkw/s400/Ngejaman+Kraton,+campuran,+30+x+42+cm,+2007.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5127360628575233250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Muji Harjo, 'Ngejaman Kraton Yogyakarta', mixed media on paper, 30 x 42 cm, 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sketches and Photography Exhibition ‘MATA-MATA JOGJA’&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;3 – 18 November 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;FOLLOWING IN THE CITY THROUGH SKETCHES&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Mikke Susanto&lt;b&gt;-&lt;i&gt;Curator&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Exhibition Participants:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; Denny ‘Snod’ Susanto / Deskhairi / M. Alfairuzha Hasby / M. Fadhlil Abdi / Masriel / Muji Harjo / WM. Hendrix&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;At glance, the sketches are similar to simple drawings of objects. But if we look at them in details, those drawings or drawn objects are such previews and documentation illustrating the recent situation of Jogjakarta. They are of a city with unique character entering by the edge of a change. The cycle of the change is not only rooting in the terrain of its human life but also relating to the natural change. It is probably affected by the earthquake hit the city a year ago and the way of thinking of the community members inflicted by another civilization ilfiltrating in the spaces and city planning of Jogjakarta as well.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;These likely trivial pictures cover a thousand of memories to any one in fact. In the middle of this appalling change, the unavoidable turmoil, and uncertain situation have given rise to an awareness to carry out documenting in the early time. Furthermore, we have to set up things within the change itself. We have to move forward, create a new civilization. Furthermore, we have to get ourselves settled on within the change itself. It is important to be noticed that we hold local values and documentation of the glorious past. Therefore, sketches &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;―&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;instead of photography&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;–&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; become the very effective simple ways to reach the aim. One of the points to be stressed in this exhibition is that sketches and photography are proper to be put together as the vital instruments to life documentation. It is very reasonable to have this sketch exhibition &lt;i&gt;The Eyes of Jogja&lt;/i&gt; arranged jointly with the photography exhibition &lt;i&gt;Objective Paris&lt;/i&gt; at Jogja Gallery. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Through these simple works, we will see “a visual diorama” represented in the media of pencils, pens, Chinese ink, and water colors on papers. All of the sketches displayed in the exhibition room (some of them are printed in post cards) have a function to trace the last situation of Jogjakarta. They are of many kinds of things shown; the old historical buildings (there are also the photos of old buildings in Jogjakarta for a comparison), spreading rice-fields in a village, life portraits, plants, traditional weapons, and some traditional meal available until today. They are the works of the young artists staying and living in Jogja for years. With the academic capacity they have when studied sketch at ISI Yogyakarta, I dare to say that their works are good to be apreciated.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5948842883702048357?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5948842883702048357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5948842883702048357&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5948842883702048357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5948842883702048357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/10/following-city-through-sketches.html' title='Following the City Through Sketches'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RygLU2WM5OI/AAAAAAAAAFc/rYJw9CZ8Gkw/s72-c/Ngejaman+Kraton,+campuran,+30+x+42+cm,+2007.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-361705260142383695</id><published>2007-10-16T09:42:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:11.715+07:00</updated><title type='text'>Dari Pameran ke Pameran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RxQ3yUtz7dI/AAAAAAAAAFU/D09LB_CuvC4/s1600-h/02+Balik+Cover.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RxQ3yUtz7dI/AAAAAAAAAFU/D09LB_CuvC4/s400/02+Balik+Cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121780013920939474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sebuah Evaluasi untuk 1 Tahun Berdirinya Jogja Gallery [JG]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Oleh Nunuk Ambarwati*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:9;"  lang="IN" &gt;Tulisan ini disampaikan sebagai &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;bentuk evaluasi kinerja Jogja Gallery yang telah berjalan setahun [September 2006 – September 2007]. Penulis yang juga merupakan staf internal Jogja Gallery berupaya senetral mungkin dalam menyampaikan hasil tulisannya. Terima kasih atas dukungan semua pihak terhadap Jogja Gallery selama ini. Semoga bermanfaat.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Sudah lebih dari setahun lalu, tepatnya awal Agustus 2006, ketika penulis akhirnya berani menerima ‘tantangan’ untuk ikut membangun sebuah galeri baru, Jogja Gallery di sebuah kota budaya, Yogyakarta. 19 September 2007 ini, genap setahun Jogja Gallery berdiri dan terbilang aktif. Hingga akhirnya penulis menerima tawaran untuk menerima tanggung jawab sebagai program manager pada waktu itu, memakan waktu dan pikiran. Banyak pertimbangan berkecamuk ketika masih menyangsikan kemampuan diri sendiri, dimana hampir senada dengan banjirnya kritik, respon sebelah mata menyambut berdirinya Jogja Gallery kala itu. Mulai dari untuk apa sebuah galeri baru berdiri di tengah kondisi stagnannya seni visual Indonesia dari pengaruh pasar atas gencarnya karya-karya perupa China kala itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Juga perihal tanda tanya publik mengenai siapa saja ‘oknum’ di balik berdirinya galeri tersebut, akankah menjadi jaminan sebuah galeri bisa diandalkan dan dibanggakan, apalagi menggunakan nama kota sebagai &lt;i&gt;brand&lt;/i&gt;-nya. Jogja Gallery murni dibangun dari dukungan investor. Seperti sudah diketahui, dimana rata-rata pendiri galeri di Indonesia adalah orang asing, tetapi tidak dengan Jogja Gallery. Para pendiri Jogja Gallery yang kesemuanya berasal dari Yogyakarta tersebut adalah KGPH Hadiwinoto, Sugiharto Soeleman, KRMT Indro ‘Kimpling’ Suseno, Bambang Soekmonohadi dan Soekeno. Sorotan tajam publik Yogyakarta khususnya tertuju kepada Direktur Eksekutif, KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno, yang lebih dulu dikenal sebagai akitifis &lt;i&gt;event organizer &lt;/i&gt;piawai di kota ini. Mau jadi apa Jogja Gallery, siapa saja yang bakal pameran di sana, jenis pameran apa saja yang bakal dipresentasikan? Mau sampai kapan galeri bisa hidup? Hingga masalah profit yang bakal diraup galeri ditengah lesunya pasar? Tak kalah seru juga semacam beban yang harus ditanggung, ketika merangkul Mikke Susanto dan M.Dwi Marianto sebagai tim kurator awal yang membidani program-program pameran di Jogja Gallery. Hingga menempatkan penulis sebagai program manager. Meski kemudian, M. Dwi Marianto megundurkan ditengah-tengah berjalannya proses [tepatnya awal Februari 2007]. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Berdirinya Jogja Gallery waktu itu sepertinya belum bisa mengakomodasi kebutuhan dan kecenderungan tren seni visual yang berkembang. Sehingga memunculkan kritikan-kritikan pedas dari publik atas berdirinya galeri baru ini. Bentuk kesangsian bahkan kekhawatiran di masa depan atas mubazirnya membangun sesuatu yang tidak ditangani oleh orang yang tepat di bidangnya. Demikian asumsi penulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sumber daya manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Hal-hal tersebut tak dipungkiri mempengaruhi psikologis kerja para staf Jogja Gallery sehari-hari. Memilih sumber daya manusia atau para staf untuk diposisikan pada masing-masing yang kompeten bidangnya. Untuk bersama sebagai tim yang solid, membangun sebuah galeri baru ditengah banyak sorotan, bangunan megah yang berposisi strategis di titik nol kilometer, fasilitas ruang pamer lebih dari galeri lainnya di wilayah Yogyakarta. Bagaimana bisa mendatangkan publik ke ruang pamer dengan tiket masuk. Dimana hal tersebut belum menjadi kebiasaan publik ketika mengunjungi ruang pamer. Memberikan persepsi positif untuk setiap kali even pameran yang diselenggarakan dengan target-target keberhasilan yang selalu dipertaruhkan.Tantangan-tantangan tersebut bukan hal mudah bagi kami para staf ketika menerima Jogja Gallery sudah sedemikian adanya. Apalagi bagi para staf yang belum mengetahui bagaimana hiruk pikuknya di belakang layar ketika memutuskan mendirikan Jogja Gallery. Mengapa &lt;i&gt;brand color&lt;/i&gt; warna hijau yang dipilih. Mengapa desain arsitektur konvensional ala Keraton Yogya yang digunakan, dan seterusnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Berbagai konflik internal turut mewarnai tumbuh dan berkembangnya Jogja Gallery. Seleksi alam terus berlaku, staf datang dan pergi, ada yang bertahan dan sebaliknya, menyesuaikan dengan tingginya kriteria sumber daya manusia yang dibutuhkan. Staf atau sumber daya manusia ini menjadi satu hal sangat penting yang penulis sadari untuk menjadi perhatian. Membentuk tim yang solid dan tetap bekerja dengan bisa membedakan batas profesional dengan personal. Dewan direksi mau pun manajemen terus memotivasi tim untuk bekerja sebaik dan semaksimalnya, juga mendelegasikan kerja seefektif mungkin. Hingga siap meng-&lt;i&gt;counter&lt;/i&gt; berbagai persepsi negatif yang mungkin timbul atau berkembang dari eks staf atas ketidakpuasan atau ketidakcocokan dalam bekerja. Dimana di Jogja Gallery, manajemen sangat menyadari bahwa tidak melulu memiliki latar belakang seni rupa menjadi jaminan seorang staf bisa bekerja, demikian sebaliknya. Kemauan dan saling belajar dari kesalahan dan pengalaman lebih diutamakan untuk selalu dicatat dalam ‘buku teori’ sebagai pelajaran di masa mendatang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Untuk itu, hanya waktu dan proses yang bisa membuktikan hasil kerja keseluruhan. Saling memotivasi, memberi dukungan di sela tingginya frekuensi kerja menyiapkan pameran dan mengubah kritikan tersebut menjadi dorongan positif. Baru satu tahun eksis, sangat belum cukup menjadi ukuran keberhasilan. Masih harus menyiapkan nafas panjang, pikiran positif dan tenaga yang selalu segar untuk menyiapkan even-even berikutnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Manajemen yang berbenah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Terus-menerus menciptakan inovasi merupakan salah satu bagian dari bentuk &lt;i&gt;survive&lt;/i&gt; yang dilakukan Jogja Gallery. Untuk sekadar bisa hidup, merupakan misi awal yang tak terlalu muluk di tengah kompetisi pasar seni rupa Indonesia. Pasar yang penulis nilai sebenarnya tidak cukup sehat baik di Indonesia mau pun global. Pembenahan pada level manajerial terus dilakukan berdasarkan berbagai ‘benturan’ yang ditemui langsung di lapangan. Pujian mau pun komplain diubah menjadi siasat dan strategi yang tak henti dibenahi untuk terus bisa bertahan. Maka manajemen Jogja Gallery sepakat untuk memaknainya sebagai manajemen yang terus berbenah. Suatu kebijakan atau ketentuan bahkan bisa terus di&lt;i&gt;update&lt;/i&gt; per minggu guna mendapatkan kinerja yang lebih baik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Seiring meningkatnya aktifitas dan keberhasilan tiap penyelenggaraan pameran di Jogja Gallery, sorotan publik pun semakin kuat. Sorotan tersebut dirasakan menyeluruh, tidak melulu pada tema, muatan mau pun karya dalam tiap kali pameran yang diselenggarakan, juga kepada manajemen internal hingga tiap person yang terlibat di dalamnya. Hal tersebut jelas menyemangati manajemen Jogja Gallery untuk terus meningkatkan kualitas tiap even yang digelarnya dengan dibarengi niatan positif untuk turut memajukan infrastruktur seni rupa Indonesia. Dalam hal ini penulis lebih fokus pada sistem manajemen dan pasar yang berkembang dengan luar biasa mengejutkan dan kadang sangat sulit diprediksi. Di saat lukisan memasuki dunia bisnis yang sebenar-benarnya, maka mungkin kita harus menanggalkan ‘pesan’ dari lukisan tersebut. Siapa yang bermodal besar dia yang menguasai pasar. Modal bahkan bisa membentuk selera. Kita pun terseret berlaku dalam pasar yang sesungguhnya tersebut. Perilaku para pelaku pasar ini kadang membuat penulis gerah. Bahkan ketika perupa ikut terjun di dalam pasar itu sendiri. ‘Permainan-permainan’ dilancarkan para pelaku pasar. Jogja Gallery menyadari hal tersebut dan sebagai salah satu pelaku pasar kita harus jeli dan tidak terjebak dalam ‘permainan’ tersebut. Berani menentukan sikap dan berlaku tegas dengan ketentuan yang disepakati dalam manajemen, menjadi modal untuk menentukan arah misi dan visi galeri di tahun-tahun mendatang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Itu baru salah satu sisi ekternal yang mempengaruhi pembenahan manajerial. Sisi internal yang menjadi pekerjaan rumah manajemen Jogja Gallery adalah para pelaku modal atau investor galeri ini sendiri. Penulis berupaya untuk masing-masing person di dalamnya menjalankan fungsi sesuai porsinya. Dimana tidak semua person di Jogja Gallery memiliki cukup banyak bekal untuk siap bertarung di dunia seni rupa. Bahkan bekerja di dunia kreatif seperti di galeri seni rupa seperti Jogja Gallery, harus bisa berkompromi dengan segala hal. Ketika harus mahfum untuk menekan idealisme tanpa mengurangi kualitas even yang bakal digelar dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Catatan presentasi**&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dari September 2006 ke September 2007, tercatat telah menggelar 16 even pameran seni visual. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pada awal berdirinya Jogja Gallery, memang diniatkan dalam setahun pertama untuk menggelar pameran kelompok dengan media beragam, tidak melulu seni lukis. Hal tersebut diupayakan untuk mengakomodasi berbagai varian [media, aliran mau pun generasi perupa] yang ada di Indonesia terutama di Yogyakarta. Diharapkan dari misi tersebut di atas, Jogja Gallery mampu menempatkan posisinya terlebih dulu sebagai ruang pamer baru di Yogyakarta yang membuka dirinya bagi siapa pun. Kalau pun ada satu pameran tunggal yang pernah berlangsung ketika usia Jogja Gallery masih seumur jagung, yaitu pameran karya Hanafi (13 Januari – 2 Februari 2007), hal tersebut berdasarkan proposal masuk, dan pada akhirnya disetujui kurator dan manajemen Jogja Gallery. Maka definisi pameran tunggal di sini adalah pameran tunggal yang didanai, diorganisir dan dipromosikan sepenuhnya oleh pihak Jogja Gallery. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Menurut penulis, ada sedikit salah perhitungan dari pihak investor ketika membangun fisik Jogja Gallery. Dana yang disetorkan oleh para investor terlanjur membengkak untuk menyempurnakan bangunan fisik galeri tersebut. Sehingga tidak atau belum terpikirkan untuk menyalurkan dana operasional guna operasional sehari-hari atau penyelenggaraan pameran tiap bulannya. Hal tersebut berimbas kepada dana tiap penyelenggaraan even di Jogja Gallery. Tim manajemen terkesan terengah-engah untuk terus-menerus mencari sponsor untuk tiap penyelenggaraan pameran, demikian halnya ‘tuntutan’ untuk memberikan masukan dari hasil penjualan karya. Hal tersebut memang sah ditujukan kepada manajemen Jogja Gallery, dimana memang galeri ini murni swasta, sebuah perseroan terbatas tepatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Beberapa target keberhasilan sebuah even pameran selalu dipasang. Paling tidak untuk saat ini bagi Jogja Gallery target-target yang harus selalu diingat dan terus-menerus diharapkan peningkatannya dari pameran ke pameran adalah: a. jumlah pengunjung [pengunjung harian dan apresiasi untuk pelajar], b. target pemasukan [sponsor dan penjualan karya], c. &lt;i&gt;media coverage&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jogja Gallery selalu mengedepankan beberapa unsur dalam setiap even pameran yang digelar, yakni unsur idealisme, edukasi, apresiasi, entertainmen dan komersial. Meski untuk tiap kali pameran akan selalu berbeda prosentase tiap unsurnya. Sebagai contoh dalam pameran ‘Eksisten’ (27 Februari – 25 Maret 2007) unsur komersialnya akan memiliki prosentase lebih tinggi dibanding dengan pameran ‘Transposisi : Lukisan-lukisan Kolektor Jateng –DIY&lt;b&gt;’&lt;/b&gt; (22 Mei – 26 Juni 2007) yang lebih tinggi prosentasi edukasi dan apresiasinya. Kelima unsur tersebut dikolaborasikan sedemikian rupa guna lebih memantapkan &lt;i&gt;positioning&lt;/i&gt; Jogja Gallery di dunia seni rupa Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dalam tiap kali menyelenggarakan evennya, Jogja Gallery memperhatikan proses regenerasi perupa dengan membuka peluang kompetisi atau undangan terbuka untuk berkarya. Yakni pada pameran ’40 Perupa Muda Terdepan Indonesia: Young Arrows’ (2 Desember – 5 Januari 2007), ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’ (20 April – 9 Mei 2007) dan ‘200 Tahun Raden Saleh: Ilusi-ilusi Nasionalisme’ (18 Agustus – 9 September 2007). Selain bertujuan menjaring perupa muda baru dan berbakat, peluang kompetisi tersebut juga merupakan bentuk promosi Jogja Gallery menempatkan &lt;i&gt;positioning&lt;/i&gt;-nya di jagat infrastruktur seni rupa Indonesia. Di samping itu pula mengukur &lt;i&gt;demand&lt;/i&gt; salah satu &lt;i&gt;stakeholder&lt;/i&gt; Jogja Gallery yaitu perupa atas keberadaan galeri itu sendiri. Seberapa besar Jogja Gallery dibutuhkan keberadaannya? Atau seberapa besar minat perupa atas kurasi yang ditawarkan? Dari ketiga peluang yang Jogja Gallery tawarkan tersebut rata-rata 100-an proposal masuk untuk diseleksi. Dan hingga kini, para perupa terus menunggu hadirnya kompetisi baru yang dibuka, mengingat telah cukup lama Indonesia vakum dari kompetisi seni rupa bergengsi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Meski demikian, pameran seni lukis mendominasi dari sekian pameran yang telah dilaksanakan di Jogja Gallery. Hal tersebut terjadi karena diperkuat dengan latar belakang sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Potensi profit pasar seni visual Indonesia      yang memang masih dominan terhadap seni 2 dimensi, terutama seni lukis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Demikian halnya, respon tinggi untuk      mempresentasikan karya-karya datang dari perupa-perupa 2 dimensi/seni      lukis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Tuntutan [secara tidak langsung] internal      Jogja Gallery untuk menampilkan karya-karya yang mengakomodasi selera      mereka, paling tidak dalam waktu setahun tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Hal teknis cukup menjadi pertimbangan      penyelenggaraan pameran non 2 dimensi, misal ketersediaan alat dan infrastruktur      pendukung, juga biaya yang lebih besar dibanding menyelenggarakan pameran      2 dimensi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dari ke 16 even tersebut, 5 diantaranya merupakan hasil kerja sama dengan pihak lain. Yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran seni lukis ‘Pallinjang: Salt Water’,      kerja sama dengan Wollongong University, Australia (19 September – 20      November 2006). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran seni visual tunggal ‘Id: Hanafi’      karya Hanafi, kerja sama dengan O House Gallery, Jakarta (13 Januari – 2      Februari 2007).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran seni lukis ‘Bonding the Brotherhood      between Tunisia and Indonesia’, bekerja sama dengan Kedutaan Tunisia di      Jakarta (10 – 20 Februari 2007). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran seni visual ‘The Thousand Mysteries      of Borobudur’, bekerja sama dengan UNESCO Office, Jakarta dan beberapa      mitra lainnya (20 April – 9 Mei 2007).&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran seni lukis ‘Bersemangat Meraih      Cita-cita’, bekerja sama dengan Global Art, Yogyakarta (10 – 12 Agustus      2007). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Definisi kerja sama di sini adalah even tersebut diroganisir oleh Jogja Gallery dan mitra [dengan porsi masing-masing lembaga berbeda tiap kali penyelenggaraan], dalam hal pendanaan, mengorganisir pameran, penyediaan material pameran, publikasi, promosi, penjualan karya dan sebagainya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Respon Publik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dari berbagai presentasi pameran tersebut, sambutan publik luar biasa menarik dan positif bisa penulis kumpulkan. Sambutan tersebut dikumpulkan dari &lt;i&gt;media coverage&lt;/i&gt;, buku kritik saran setiap pameran yang diselenggarakan mau pun masukan lisan kepada Jogja Gallery. Pada intinya, para perupa membutuhkan ruang pamer untuk menggelar dan mempromosikan karya-karya mereka. Demikian pula sebaliknya, galeri membutuhkan karya-karya berkualitas dari para perupa. Berbagai bentuk tawaran kerja sama untuk bisa mempresentasikan karya terus berdatangan ke Jogja Gallery. Kesempatan untuk bisa berpameran di Jogja Gallery ini didorong oleh beberapa faktor antara lain karena representasi sebuah ruang pamer yang baru, fasilitas yang cukup memadai, tempat yang strategis dan prestisius, manajemen yang tertata apik. Dari berbagai sumber, penulis bisa menyimpulkan &lt;i&gt;positioning&lt;/i&gt; Jogja Gallery di mata publik untuk saat ini adalah sebuah ruang pamer dengan fasilitas dan aktifitas pameran berskala nasional bahkan internasional dengan segmen publik kelas menengah ke atas yang menampilkan karya-karya berkualitas. Selamat ulang tahun yang pertama Jogja Gallery, sukses selalu sukses! &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Catatan kaki:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:9;"  lang="IN" &gt; * Penulis masih tercatat sebagai Program Manager Jogja Gallery dan terlibat sejak awal digelarnya pameran perdana ‘ICON: Retrospective’ di sana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;** Baca pula tulisan ‘Summary Pameran Jogja Gallery’ untuk lebih detailnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;*** Buku referensi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:9;"  lang="IN" &gt;‘How to Get Ahead in Business’, Richard Branson, Virgin Books, London, 1993.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:9;"  lang="IN" &gt;‘Managing Museums and Galleries’, Michael A. Fopp, Routledge, New York, 1997&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:9;"  lang="IN" &gt;‘Art Marketing 101: A Handbook for the Fine Artist’, Constante Smith, Artnetwork, USA, 2002&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:9;"  lang="IN" &gt;Berbagai sumber. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-361705260142383695?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/361705260142383695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=361705260142383695&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/361705260142383695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/361705260142383695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/10/dari-pameran-ke-pameran.html' title='Dari Pameran ke Pameran'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RxQ3yUtz7dI/AAAAAAAAAFU/D09LB_CuvC4/s72-c/02+Balik+Cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2017669671477559629</id><published>2007-10-06T15:59:00.000+07:00</published><updated>2007-10-06T16:27:36.330+07:00</updated><title type='text'>Happy Idul Fitri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RwdT-ktz7QI/AAAAAAAAADM/BPxFi3ECo0Q/s1600-h/3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RwdT-ktz7QI/AAAAAAAAADM/BPxFi3ECo0Q/s400/3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5118151836002675970" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2017669671477559629?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2017669671477559629/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2017669671477559629&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2017669671477559629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2017669671477559629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/10/happy-idul-fitri.html' title='Happy Idul Fitri'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RwdT-ktz7QI/AAAAAAAAADM/BPxFi3ECo0Q/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5510993371883162027</id><published>2007-10-04T10:35:00.000+07:00</published><updated>2007-10-06T16:49:07.101+07:00</updated><title type='text'>SETELAH 20 MEI*</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Kompetisi Terbuka Jogja Gallery, 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Pameran Seni Visual ’100 th KEBANGKITAN NASIONAL’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:16;"  lang="SV" &gt;SETELAH 20 MEI*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Jogja Gallery, Yogyakarta, 20 Mei - 8 Juni 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Kompetisi ini diselenggarakan untuk turut memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional yang akan jatuh 20 Mei 2008. Melalui kompetisi ini, Jogja Gallery mengajak para perupa untuk ikut merespon isu kebangkitan nasional. Dimana dalam kurun waktu 100 tahun, kebangkitan nasional bagi kalangan muda Indonesia memiliki penyikapan yang beragam sesuai riuhnya globalisasi yang tak bisa disangkal turut memberi pengaruh pada pola pikir, penyikapan, gaya hidup bahkan kepribadian personal mau pun bangsa Indonesia sendiri. Hasil dari kompetisi seni visual terbuka ini akan dijaring karya-karya [dengan media bebas] yang akan dipamerkan di Jogja Gallery mulai tanggal 20 Mei – 8 Juni 2008. Kompetisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan perupa-perupa berbakat dengan mengedepankan kualitas karya melalui penyikapan semangat kebangkitan nasional terkini!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Abstraksi &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Dipelopori oleh para pemuda pelajar STOVIA, pada 20 Mei 1908 di Jakarta secara resmi terbentuk perhimpunan nasional Indonesia, Budi Utomo. Secara mendasar perhimpunan itu bertujuan untuk mencapai keharmonisan bangsa dengan memajukan sektor pendidikan, pertanian, peternakan, perdagangan, teknologi dan kebudayaan; serta bertujuan meningkatkan citra bangsa menjadi lebih terhormat dengan cara mempersatukan bangsa dengan mencapai kemerdekaan. Sepenuh-penuhnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Melihat upaya yang dilakukan oleh para pejuang bangsa (saat itu Budi Utomo dipimpin oleh para dokter, jaksa, guru, opsir legiun), pantaslah jika kita kini melihat kembali upaya mereka sebagai cerminan. Seratus tahun silam—bertepatan pula dengan 10 tahun reformasi—bangsa ini melakukan kebangkitan secara serempak. Namun, di masa ketika kita harus mempertahankan bangsa dari amuk ribuan persoalan dan jatuhnya moral para individu, apa yang bisa kita tarik dari sana? Salah satunya adalah mulai melirik kembali sejarah untuk memunculkan semangat baru: bangkitnya akal budi, hormat pada aturan &amp;amp; moral, serta sepenuhnya merdeka bagi setiap orang. Tanpa was-was.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Didorong oleh momen bersejarah itulah, dengan bangga Jogja Gallery mengundang Anda para perupa seluruh Indonesia untuk bersama bergabung dalam pameran peringatan ini yang akan berlangsung &lt;b style=""&gt;20 Mei – 8 Juni 2008&lt;/b&gt;. Seperti halnya kata sang ”mutiara bangsa” &lt;i style=""&gt;Onze Tjip&lt;/i&gt;--&lt;i style=""&gt;Tjip Kita&lt;/i&gt;, panggilan tokoh penting Budi Utomo, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo--bahwa bukan persoalan pertentangan Timur &amp;amp; Barat, Hindia &amp;amp; non-Hindia, melainkan penaklukan dalam segala bentuk yang harus dilarang. Sejarah mengajarkan kita untuk tidak tunduk dan takluk pada keadaan yang tertekan, dan yang lebih penting dari itu adalah menjaga agar setiap anak bangsa ini punya etika yang sehat. Sesehat-sehatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Pameran ini mengharapkan karya-karya seni rupa Anda yang memiliki beberapa kerangka pemikiran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Pertama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;, secara tematik bisa menggambarkan—misalnya secara ilustratif/realistik—situasi pada saat berlangsungnya peristiwa dalam Sejarah Kebangkitan Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;, menggambarkan citra para tokoh yang berperan di dalamnya dan sejauh mana semangat kebangsaan dan perjuangan mereka dalam memerdekakan bangsa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Ketiga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;, memberi edukasi bagi sebagian besar individu bangsa ini untuk mengetahui gejolak pemikiran dan wacana (politik, kebudayaan &amp;amp; sosial) yang ada saat itu, secar khusus dalam sejarah Kebangkitan Nasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Keempat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;, menarik benang merah atas peristiwa tersebut dengan berbagai kejadian atau fenomena yang saat ini berlangsung di Indonesia: rasa nasionalisme, hilangnya harta atau beberapa pulau atau tradisi lokal di Indonesia, semangat ”berpecah-belah” yang kini mulai terasa, dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Dengan demikian karya-karya yang akan ditampilkan dalam pameran ini merujuk secara sistemis dan berupaya untuk menggambarkan secara menyeluruh rangkaian sejarah Kebangkitan Nasional Indonesia. Melalui riset yang dilakukan oleh perupa, melalui berbagai perenungan terhadap peristiwa negeri ini, melalui peringatan ini, kekurang-populeran peristiwa Kabangkitan Nasional (misalnya di mata anak muda saat ini) dapat lebih bergema. Nasionalisme dan perjuangan harus tetap berlangsung, apalagi berjuang untuk ”melawan lupa”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:8;"  lang="SV" &gt;*) judul diambil dari tulisan Goenawan Mohamad &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:8;"  lang="FI" &gt;dari Nirwan A. Arsuka (editor), &lt;i style=""&gt;Kata, Waktu, Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001&lt;/i&gt;, Jakarta, Pusat Data &amp;amp; Analisa TEMPO, 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Terdapat banyak bacaan &amp;amp; referensi yang dapat dipakai, antara lain: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Manuel Kaisiepo, ”Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo, Dari      ”Kebangkitan Jawa” ke ”Kebangkitan Nasional”, dalam JB. Kristanto (ed.), &lt;i style=""&gt;Seribu Tahun Nusantara&lt;/i&gt;, Jakarta:      PT. Kompas Media Nusantara, 2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Akira Nagazumi, &lt;i style=""&gt;The Dawn of      Indonesian Nationalism: The Early Years of the Boedi Oetomo, 1908-1918&lt;/i&gt;,      Tokyo Institute of Developing Ecomonic, 1972. / [Versi Bahasa Indonesia]      Akira Nagazumi, &lt;i style=""&gt;Bangkitnya      Nasionalisme Indonesia, Budi Utomo 1908 – 1918, &lt;/i&gt;PT Pustaka Utama      Grafiti, Jakarta, 1989&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Pramoedya Ananta Toer, &lt;i style=""&gt;Sang      Pemula&lt;/i&gt;, 1985.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Takashi Shiraishi, ”Impian Mereka Masih Bersama Kita”, dalam JB.      Kristanto (ed.), &lt;i style=""&gt;Seribu Tahun      Nusantara&lt;/i&gt;, Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara, 2000.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="SV"&gt;Sartono Kartodirdjo, &lt;i style=""&gt;Sejarah      Pergerakan Nasional&lt;/i&gt;, Dari Kolonialisme sampai Nasionalisme, Jakarta:      Gramedia, 1999.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Tema&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:18;"  lang="SV" &gt; ’&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:18;"  lang="SV" &gt;Sejarah &amp;amp; Kreativitas Berbangsa’.&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Kriteria Seleksi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Kompetisi bersifat terbuka, berskala nasional, tanpa batasan usia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Peserta perorangan atau kelompok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Jenis dan media berkarya bebas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Karya harus asli, didasarkan pada ide yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;orisinal, tidak sedang diikutkan dalam kompetisi      yang lain dan bersedia untuk dijual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Ukuran untuk karya 2 dimensi tidak melebihi 300 x 300 cm.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Ukuran untuk karya 3 dimensi 100 x 100 x 300 cm.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Sedangkan seni instalasi/ multimedia menyesuaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Selain artistik, tema karya berdasarkan sejarah yang relevan atau      berbasis pada kesadaran kreatif dalam berbangsa, serta menciptakan situasi      yang membuka peluang bagi kemajuan bangsa di segala aspek (lebih khusus      lihat paragraf akhir dalam pengantar pengumuman ini).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Wajib menyertakan foto karya yang diikutkan seleksi tahap pertama,      dengan ukuran 10 R-glosy, dikirim bersama dengan konsep karya, biodata &amp;amp;      &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;foto perupa serta informasi detail karya,      diketik rapi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Khusus untuk karya 3 dimensi, harap memberikan foto detail karya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Khusus untuk karya multimedia, harap menyertakan berkas karya      pendukung, misal CD interaktif dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Panitia tidak menerima kiriman foto karya dan sebagainya melalui surat      elektronik (email).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Waktu pelaksanaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Seleksi &lt;u&gt;tahap &lt;i style=""&gt;pertama&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;i style=""&gt;, &lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;20 Maret 2008&lt;/b&gt;, dengan materi seleksi foto karya; sehingga sangat      diharapkan foto karya diterima oleh panitia paling lambat tanggal &lt;b style=""&gt;15 Maret 2008, pukul 21.00 WIB&lt;/b&gt;      [bukan cap pos].&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Seleksi &lt;u&gt;tahap &lt;i style=""&gt;kedua&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;i style=""&gt;, &lt;/i&gt;&lt;b style=""&gt;10 April 2008&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="SV" &gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;peserta mengirim      karya secara langsung dengan ke Jogja Gallery. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Setiap karya yang masuk dalam pameran adalah yang berhasil melalui 2      tahap penjurian. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Karya-karya yang tidak lolos seleksi tahap      kedua bisa diambil kembali oleh peserta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Penghargaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Sekitar 50 karya terpilih akan dipamerkan      dalam pameran seni visual 100 tahun Kebangkitan Nasional ‘Setelah 20 Mei’,      di Jogja Gallery, 20 Mei – 8 Juni 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Dewan juri akan menetapkan 5 besar karya terbaik dan akan mendapatkan penghargaan      berupa uang masing-masing Rp. 3.000.000,- dan sertifikat.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pengumuman      pemenang pada tanggal &lt;b style=""&gt;1 Mei 2008&lt;/b&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;akan diumumkan baik      secara personal maupun melalui situs kami. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Keputusan dewan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Hal-hal lain yang belum jelas dapat ditanyakan ke Jogja Gallery. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Dewan Juri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Prof. Soedarso Sp. MA. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;(Sejarawan Seni &amp;amp; anggota dewan penasehat Jogja Gallery)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;dr. Oei Hong Djien (Kolektor &amp;amp; anggota dewan penasehat Jogja      Gallery)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Mikke Susanto, S.Sn. (Staf Pengajar FSR ISI Yogyakarta &amp;amp; Kurator      Jogja Gallery)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="SV" &gt;Selamat bekerja dan kami tunggu karya Anda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Semua berkas silakan kirim ke&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Panitia Kompetisi Seni Visual ’100 th Kebangkitan Nasional’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Nunuk Ambarwati [+62 81 827 7073]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;R. Daru Artono [+62 856 4389 8779]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-right: -27pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jogja Gallery [JG]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telepon +62 274 419999, 412021&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telepon/Fax +62 274 412023&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Email : &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;               &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;www.jogja-gallery.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5510993371883162027?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5510993371883162027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5510993371883162027&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5510993371883162027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5510993371883162027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/10/setelah-20-mei.html' title='SETELAH 20 MEI*'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-796199704283395370</id><published>2007-09-19T10:50:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:12.016+07:00</updated><title type='text'>Summary Pameran Jogja Gallery</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RvClzcro9OI/AAAAAAAAAC8/J6Yw4dF2pX0/s1600-h/FS1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5111767880356656354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RvClzcro9OI/AAAAAAAAAC8/J6Yw4dF2pX0/s400/FS1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TENTANG JOGJA GALLERY [JG]&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY] merupakan kota budaya, bersejarah dan potensial untuk dikembangkan menjadi salah satu pusat tujuan pariwisata internasional. Sebagai kota yang memiliki kekayaan seni dan seniman-seniman bertaraf dunia, Yogyakarta memerlukan gebrakan baru dalam memfasilitasi potensi tersebut, dan hal yang belum dimiliki adalah sebuah galeri seni dengan kualitas dan tekonolgi bertaraf internasional. Untuk itu Jogja Galleru hadir di tengah-tengah pesatnya perkembangan seni visual Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery [JG], sebagai ‘Gerbang Budaya Bangsa’ berdiri di Yogyakarta, 19 September 2006. Diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY], Sri Sultan Hamengku Buwono X. Bertempat di 0 (nol) kilometer atau Alun-alun Utara, berada di kawasan heritage, pusat kota Yogyakarta, menempati bekas gedung bioskop Soboharsono (berdiri 1929) yang telah berfungsi sejak jaman penjajahan Belanda. Jogja Gallery sebagai galeri seni visual yang didirikan oleh PT Jogja Tamtama Budaya, bekerja sama dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (selaku pemilik tanah dan bangunan) membawa peran penting yaitu sebagai media pertemuan antara pekerja seni dengan masyarakat luas. Program pelayanan publik yang telah dirancang antara lain pameran berkala, kerja sama non pameran, friends of Jogja Gallery, perpustakaan, art award forum, lelang karya seni, art shop, kafe dan restoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;STRUKTUR ORGANISASI JOGJA GALLERY&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dewan Pengawas : KGPH Hadiwinoto, Bambang Soekmonohadi&lt;br /&gt;Dewan Penasehat : Dr. Oei Hong Djien, Prof. Soedarso SP, M.A.&lt;br /&gt;Direktur Utama : Sugiharto Soeleman&lt;br /&gt;Direktur Pengembangan : Soekeno&lt;br /&gt;Direktur Eksekutif : KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno&lt;br /&gt;Kurator : Mikke Susanto&lt;br /&gt;Manajer Program : Nunuk Ambarwati&lt;br /&gt;Manajer Keuangan : Endah Wahyuningsih&lt;br /&gt;Sekretaris : Elly A. Mangunsong, Herdhiningrum Oktya Dewi&lt;br /&gt;Staf Keuangan : Kusuma Febriani Putri&lt;br /&gt;Staf Pameran : R. Daru Artono, Puji Rahayu, Norisma Andi S&lt;br /&gt;Staf Teknis : Nanang Sukriyanto, FX. Dwi Hartanto&lt;br /&gt;Staf Umum : Mudita Arya Kirana, Kuwat&lt;br /&gt;Resepsionis : Suprapti&lt;br /&gt;Staf Keamanan : Soni, Tri, Nur &amp;amp; PT Total Security&lt;br /&gt;Desainer grafis : Dimas Bayu Arfianto&lt;br /&gt;Penjaga pameran : Junia Sriwiwita, Zulfan Siahaan, Jeffer Simangunsong&lt;br /&gt;Office boy &amp;amp; cleaning service : CV Yogya Yatra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam buka galeri – Selasa – Minggu; Senin tutup, pukul 09.00 – 21.00 WIB&lt;br /&gt;Tiket masuk – Rp. 3.000,- / orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jogja Gallery [JG]&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta 55000&lt;br /&gt;Telepon +62 274 419999, 412021&lt;br /&gt;Telepon/Fax +62 274 412023&lt;br /&gt;Telepon/SMS +62 274 7161188, +62 888 696 7227&lt;br /&gt;Email : &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jogja-gallery.com/"&gt;http://www.jogja-gallery.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PAMERAN SENI VISUAL DI JOGJA GALLERY&lt;br /&gt;SEPTEMBER 2006 – SEPTEMBER 2007&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1+ 2 a. Pameran Seni Visual ‘ICON: Retrospective’ (19 September – 20 November 2006)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto&lt;br /&gt;Seniman peserta: Affandi, Fadjar Sidik, Widayat, Aming Prayitno, Edhi Sunarso, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, G. Sidharta, Sudarisman, Suatmadji, FX. Harsono, Bonyong Munny Ardhi, Hardi, Haris Purnama, Tulus Warsito, Ivan Haryanto, Ronald Manullang, Dede Eri Supria, Moelyono, Studio ‘Brahma Tirta Sari’: Agus Ismoyo &amp;amp; Nia Fliam, Eddie Hara, Heri Dono, Agus Kamal, Boyke Aditya, Nengah Nurata, Ivan Sagita, Sutjipto Adi, Lucia Hartini, Linda Kaun, Nindityo Adipurnomo, Mella Jaarsma, Dadang Christanto, Anusapati, Djoko Pekik, Entang Wiharso, Nasirun, Hedi Hariyanto, Agus Suwage, Agung Kurniawan, Hanura Hosea, Kelompok Seni Rupa Jendela, Made Sumadiyasa, Made Sukadana, Putu Sutawijaya, Nyoman Sukari, Noor Sudiyati, Iwan Wijono, Ugo Untoro, S. Teddy D, I Nyoman Masradi, Kelompok Apotik Komik, Komunitas Seni &amp;amp; Budaya Taring Padi, Ruang MES 56, Eko Nugroho &amp;amp; Daging Tumbuh, Abdi Setiawan, Budi Kustarto, the House of Natural Fiber, Yuli Prayitno, pameran ‘Yogyapan-Jepangkarta’: Seiko Kajiura, Yogyakarta Urban Art Movement, Sigit Santoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini merupakan penanda berdirinya Jogja Gallery. ‘ICON’ mengetengahkan berbagai fenomena, karya atau person yang menjadi tajuk penting pada era 1970-2000 di Yogyakarta. Melalui pameran yang bersifat retrospektif semi dokumenter ini, Jogja Gallery berharap sebagai bentuk awal dari bentuk penghargaan dan terima kasih kami kepada para perupa yang terlibat dan mewarisi dan mengembangkan seni-budaya yang mewarnai budaya kota Yogyakarta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. ‘Pallingjang : Salt Water’ (19 September – 20 November 2006)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: Peter O’ Neill&lt;br /&gt;Seniman peserta: Jo Davis, Robyn Charles, Charles Wilson, Ben Brown, Kevin Maxwell Butler, Marylin (Mally) Smart, Garry Jones, Reggie Ryan, Leanne Morris, Vicki Slater, David Dunn, Lindy Lawler, Lynette Moylan, Gwendolin Stewart, Val Saunders, Jodi Stewart, Georgina Parson, Mathew Carriage.&lt;br /&gt;Pameran koleksi seni lukis Aborigin bekerja sama dengan Wollongong University, Australia.&lt;br /&gt;Merupakan pameran yang menampilkan karya seniman Aborigin dari Illawarra dan South Coast Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3+4 a. ‘Young Arrows: 40 Perupa Muda Terdepan Indonesia’ (2 Desember – 5 Januari 2007)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan dan kompetisi terbuka&lt;br /&gt;Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto&lt;br /&gt;Seniman peserta: AC. Andre Tanama, Ade Darmawan, Adi Gunawan, Agus Yulianto, Ahmad Sobirin, Ayu Arista Murti, Caroline Rika Winata, Anang Asmara, AT. Sitompul, Dadi Setiyadi, Dewa Ngakan Made Ardana, Dewi Aditya, Dipo Andi, Eddy Sulistyo, Feri Eka Chandra, G. Prima Puspitasari, Heri Purwanto, I Made Gede Surya Darma, I Made Arya Palguna, I Wayan Kun Adnyana, I Wayan Sudarna Putra, I Wayan Upadana, Januri, AG. Kus Widananto a.ka. Jompet, Laksmi Sitharesmi, M. Yusuf Siregar, Moch. Sofwan Zarkasi ‘Kipli’, Nano Warsono, Polenk Rediasa, Samsul Arifin, Saroni, Setu Legi a.k.a Hestu, Suroso [Isur], Teguh Wiyatno, Terra Bajragosha, Wahyu Santosa, Waluyohadi, Wedhar Riyadi, Wibowo Adi Utama, Wimo Ambala Bayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa diberi judul Young Arrows yang terjemahan harafiahnya ‘anak-anak panah muda’? Frase metaforik ini menerangkan pameran kedua di Jogja Gallery yang mengupayakan hadirnya karya-karya sejumlah perupa yang usianya paling tua 35 tahun. Via pameran ini Jogja Gallery menganggap perlu mengumpulkan karya yang secara menarik merefleksi jaman dari para perupa muda untuk dipamerkan bersama, dilihat secara keseluruhan, guna dimaknai sebagai salah satu fenomena perkembangan kesenirupaan negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b. ‘Rhytm and Passion’ (2 Desember – 5 Januari 2007)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: M. Dwi Marianto dan Mikke Susanto&lt;br /&gt;Seniman peserta: Askanadi, Made Wiguna Valasara, Beatrix Hendriani Kaswara, Nanda Hanifa Kamal, I Wayan Sudjana ‘Suklu’, Yon Indra, Yunizar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini memperlihatkan kecenderungan lain yang menarik dalam perkembangan seni lukis di Indonesia dewasa ini. Kecenderungan yang digulirkan, meskipun secara kuantitas (jika dibandingkan jumlah perupa di Indonesia) terbilang kecil, namun penting dikemukakan sebagai bukti atas bergeraknya dunia pemikiran seni rupa. Kecenderungan menarik yang dimaksud adalah mengarah ke penggunaan salah satu unsur penting dalam kajian seni rupa: garis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;5. ‘Id : Hanafi’ (13 Januari – 2 Februari 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat pameran: tunggal, pameran keliling&lt;br /&gt;Kurator: Jim Supangkat dan Arief Ash Sidiq&lt;br /&gt;Seniman: Hanafi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran tunggal karya seniman Hanafi yang merupakan kerjaa sama O House Gallery, Jakarta dengan Jogja Gallery. Pameran ini merupakan bagian dari pameran keliling Hanafi, yang dikenal dengan karya abstraknya, dimana sebelumnya diselenggarakan di Galeri Nasional, kemudian ke Jogja Gallery, ke Bali dan selanjutnya ke Barcelona, Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;6+7 a. ‘Bonding the Brotherhood between Tunisia and Indonesia’ (10 – 20 Februari 2007)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok&lt;br /&gt;Seniman peserta: Abdelmaksoud Najoua, Belkhodja Nejib, Bellagha Ali, Ben Yahia Basma, Bouderbala Meriem, El Bekri Abdelmajid, Gorgi Abdelaziz, Hajjeri Ahmed, Hnene Mokhtar, Karabibene Halim, Mehdaoui Nja, M’Naouar Asma, Thabouti Adbelhamid, Thabti Neji, Zouari Mohamed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Tunisia di Jakarta– sebuah pameran seni lukis karya 16 seniman asal Tunisia. Pameran ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan antara dua komunitas: negara, bangsa dan rakyat Tunisia dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;b.‘Agraris Koboi!’ (10 – 20 Februari 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Asisten kurator: Yohanes Sumaryanto Nurjoko&lt;br /&gt;Seniman peserta: Agus Yulianto, Arie Dyanto, Decky ‘Leos’ Firmansyah, Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati, ‘Iyok’ Prayogo, Iwan ‘Pandir’ Effendi, Krisna Widyathama, Nano Warsono, Riono Tanggul a.ka. Tatang, Uji ‘Hahan’ Handoko, Wedhar Riyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini mengetengahkan fenomena seni rupa kontemporer di Yogyakarta yang konon masih dianggap sebagai bagian dari kultur besar [sub kultur]. Memberi ketegasan untuk menandai mereka, perupa peserta pameran, dalam satu gaya/fenomena yang di sela berbagai kecenderungan yang berkembang di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;8. Pameran dan bursa seni lukis ‘EKSISTEN’ (27 Februari – 25 Maret 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Exhibition advisor: Heri Pemad&lt;br /&gt;Seniman peserta: Agus Triyanto BR, Aji Yudalaga, Anang Asmara, Anggar Prasetya, Andy Wahono, Bambang Herras, Dedy Maryadi, Denny ‘Snod’ Susanto, Didik Nurhadi, Erizal AS, Hadi Soesanto, Hamdan, Herly Gaya, I Gusti Ngurah Udiantara, I Nyoman Darya, Iwan Sri Hartoko, Julnaidi MS, Kusmanto, Luddy Astaghis, M. Andi Dwi, Nanang Warsito, Nasirun, Nico Siswanto, Niko Ricardi, Oskar Matano, Robi Fathoni, Saepul Bahri, Riduan, Slamet ‘Soneo’ Santoso, Setyo Priyo Nugroho, Sito Pati, Stefan Buana, Wara Anindyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini diselenggarakan turut merespon pasar malam dan agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat: SEKATEN. Dalam pameran ini perupa diharapkan dapat memberi sumbangan kreatif berupa karya-karya yang memiliki tema untuk mengingat kembali keberadaan dan sejarah kota Yogyakarta. Hal ini menarik dilakukan agar publik merasakan kembali bagaimana kota Yogyakarta yang telah berusia 250 tahun ini berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun pameran ini pada dasarnya mendukung gebyar pasar malam SEKATEN, tetapi juga menyimpan tujuan yang sangat berarti yaitu memberi rangsangan untuk mengingat berbagai kejadian dan situasi yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi di Yogyakarta. Gambaran-gambar tentang berbagai aktivitas (yang menjadi perhatian banyak orang Jogja), polemik (tentang berbagai kebijakan dan kejadian kota), atau ruang-ruang publik Jogja dapat dikaitkan dengan isi dan tema karya yang akan dipamerkan dalam pameran ini. Adapun secara konsep teknis dan visual, pameran ini membuka peluang terhadap berbagai gaya, pendekatan visual maupun aliran pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;9+10 ‘Domestic Art Objects &amp;amp; StillLife’ (1 – 15 April 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan dan kompetisi terbuka&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Asisten kurator: Ronald Apriyan&lt;br /&gt;Exhibition advisor: Eko Agus Prawoto dan Hermanu&lt;br /&gt;Seniman peserta: Yani Mariani Sastranegara, Hardiman Radjab, Eko Agus Prawoto, F. Sigit Santoso, I Wayan Sudjana ‘Suklu’, Awan Simatupang, I Wayan Cahya, Hadi Soesanto, Noor Ibrahim, Probo, M. Pramono Irianto, Ali Umar, Hedi Hariyanto, Kokok P Sancoko, Grace Tjondronimpuno, Sri Maryanto, Alexis, Waluyohadi, Prilasiana, Indrayanti, Aji Yudalaga, Putu Agus Sumiantara, Ketut Moniarta, Dieta Gambiro, Made Dodit Artawan, Eka Kusumatuti, Hariadi Nugroho, Made Gede Wiguna Valasara, I Putu Aan Juniarta, Khusna Hardiyanto, Koes ‘Doyok’ D, Mochammad Jamaludin, Winarso, Yulius Heru P, Vani HR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini adalah sebuah contoh bagaimana perupa menghilangkan sekat-sekat disiplin seninya. Ia bahkan juga bertindak menghilangkan batas-batas konvensi seni. Lalu melahirkan ’kesan antara’ benda seni dan bukan, menghilangkan perbedaan antara benda fungsi dan bukan, atau mencerai-berai status antara benda elite dan massal. Dalam pameran ini, 35 perupa (dari Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Solo, Bali, Surabaya) secara khusus mengolah benda-benda keluarga atau rumah tangga. Mereka boleh mengungkapkan ide-idenya dengan pendekatan yang berbeda. Hasilnya terlihat bahwa pendekatan parodi dan formalisme menjadi pilihan yang sering dipakai. Sehingga yang muncul di sana adalah kesan unik, kontekstual, sekaligus cerdas menyiasati ruang. Dengan begitu, Anda sebagai penonton disuguhi karya-karya yang memiliki spirit belajar dan bermain. Inilah perjalanan proses kreatif ‘baru’ dari refleksi budaya kontemporer. Dimana simplicity, dekonstruktif, interaktif, dan konseptual menjadi nilai investasinya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;11. ‘The Thousand Mysteries of Borobudur’ (20 April – 9 Mei 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan &amp;amp; kompetisi terbuka&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Seniman peserta: Affandi, Daoed Joesoef, Srihadi Soedarsono, IGN Hening Swasono PH, Pius Sigit Kuncoro, Dani Agus Yuniarta, Ismail, Ismanto, Heri Purwanto, Toni Ja’far, Riduan, I Made Supena, Agung ‘Tato’ Suryanto, Andi Hartana, Arif Sulaiman, Cipto Purnomo, Eko ‘Kota’ Haryono, Endra, Erianto, Erizal AS, Gatot Indrajati, Ismed [SAJO], Mufi Mubaroh, Setiawan Nugroho, Setyo Priyo Nugroho, Ugy Sugiarto, Slamet ‘Soneo’ Santoso, Studio Samuan, M. Faizal R, I Gede Made Surya Darma, Marselli Sumarno, Jay Subiakto, Garin Nugroho, Sigit Ariansyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan pameran seni visual hasil kerjasama dengan UNESCO Office, Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dan Jogja Gallery, yang menggandeng mitra kerja Universitas Gadjah Mada [UGM] Yogyakarta, PT Taman Wisata Candi, Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan Jogja Film Commission. Pameran yang dibuka Jumat, 20 April 2007, menandai bahwa Borobudur telah hidup kembali. Lewat tampilan-tampilan seni visual dari berbagai karya baik lukisan, patung, grafis, fotografi, video dan sebagainya sebagai sebentuk ‘saksi’ atas eksistensi Borobudur. Disamping itu pula, terselenggaranya pameran ini merupakan hasil kerja sama yang harmonis dari berbagai kalangan, baik swasta mau pun pemerintah guna lebih meningkatkan, mendukung dan mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Indonesia, yang merupakan tanggung jawab semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan pameran ini, penyelenggara juga menggelar serangkaian program edukasi yang bekerja sama dengan berbagai pihak. Berbagai program edukasi tersebut akan difokuskan pada isu terkini perihal Borobudur dan warisan saujana yang melingkupinya. Program edukasi ini menjadi dianggap poin penting pula dalam rangkaian kegiatan ini oleh pihak penyelenggara, terutama UNESCO, sebagai salah satu bentuk pendidikan alternatif kepada kalangan akademisi untuk lebih mensosialisasikan berkaitan dengan banyak displin ilmu [sejarah, arsitektur, arkeologi, seni rupa, religi dan sebagainya] mengenai Candi Borobudur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;12. ‘Transposisi : Lukisan-lukisan Kolektor Jateng –DIY’ (22 Mei – 26 Juni 2007)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Exhibition advisor: Dr. Oei Hong Djien&lt;br /&gt;Kolektor peserta pameran: Alexander Ming, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonihadi, Deddy Irianto, Deddy PAW, Harsono, Hasan Berlian/Siswanto HS, Nasirun, Oei Hong Djien, Oki Widiyanto, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan Kian Bing, Soekeno, Sugiharto Soeleman.&lt;br /&gt;Seniman peserta pameran: Affandi, Agus Kamal, Anthony David Lee, Anton Huang, Amri Yahya, Bambang Darto, Bagong Kussudiardja, Budi Ubrux, Erica Hestu Wahyuni, Fadjar Sidik, Gusti Alit Cakra, Gusmen Hariadi, Hardi, Handiwirman Saputra, Hendra Gunawan, Ivan Sagita, Liu Guoqiang, Lucia Hartini, Nashar, Otto Djaja, Pupuk Daru Purnomo, S. Soedjojono, Semsar Siahaan, Sugiyo Dwiharjo, Suatmadji, Tulus Warsito, Vincent van Gogh.&lt;br /&gt;Melalui pameran ini diundang sejumlah kolektor. Mereka menampilkan koleksi mereka yang secara khusus mewakili tujuan dari aksi mengoleksinya. Mereka rata-rata tinggal di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta [DIY]. Memamerkan koleksi lukisan para kolektor, merupakan upaya Jogja Gallery untuk memberikan apresiasi kepada para kolektor, betapa kiprah mereka telah memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban seni rupa Indonesia. Sekaligus juga memberikan kesempatan kepada masyarakat umum, untuk memasuki ‘alam’ dunia koleksi, sehingga diharapkan dapat memberikan dorongan terhadap pertumbuhan masyarakat kolektor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;13. Pameran seni visual Post-Kaligrafi - ‘Kalam dan Peradaban’ (7 Juli – 12 Agustus 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Seniman peserta: Agus Kamal, Arahmaiani, AD. Pirous, Anwar Sanusi, Abay D. Subarna, Alperd Roza, Chusnul Hadi, D. Sirojuddin AR, Erna Garnasih Pirous, Hendra Buana, Is Hendri Zaidun, Ismanto, KH. Mustafa Bisri, M. Pramono Irianto, Meri Suska, Muhammad Zuhri, Nasirun, Nasrul, Rispul, Robeth Nasrullah, Sunaryo, Salamun Kaulam, Syahrizal Koto, Syaiful Adnan, Titarubi, Tulus Warsito, Yetmon Amier, KH. D. Zawawi Imron, Zulkarnaini.&lt;br /&gt;Sepanjang masa, kaligrafi telah dikenal sebagai sebuah kebudayaan tersendiri. Kaligrafi mendapat tempat terhormat dalam perkembangan seni Islam, termasuk yang terjadi dalam bidang arsitektur sampai ke syair. Kaligrafi adalah dasar dari seni perangkaian titik-titik dan garis-garis pada pelbagai bentuk dan irama yang tiada habisnya serta tidak pernah berhenti merangsang ingatan (dzikir) akan situasi hati.&lt;br /&gt;Kaligrafi adalah sebutan yang mengarah pada penjelmaan perasaan seseorang, melewati huruf. Penjelmaan jiwa duniawi yang secara terus-menerus memberi pesan spiritual. Menurut Hossein Nasr, beberapa pokok penting dalam kaligrafi misalnya: pertama, mengenai hubungan atau pertalian asal seni ini antara Ali (wakil par excellece dari esoterisme Islam setelah Nabi) dengan beberapa tokoh spiritual Islam pertama yang dipandang sebagai kutub tasawuf dalam Islam Sunni serta imam-imam Syafi’i. Kedua, kaligrafi ditulis oleh tangan-tangan manusia yang terus dipraktikkan secara sadar sebagai emulasi manusia terhadap Tindakan Tuhan, meskipun “jauh dari sempurna”. Ketiga, kaligrafi tradisional didasari oleh sebuah ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk dan irama geometris yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;strong&gt;4. Pameran seni lukis Creative Drawing Exhibition - karya anak-anak siswa Global Art ‘Bersemangat Meraih Cita-cita’ (10 – 12 Agustus 2007)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita berbicara tentang pameran lukisan;, pastilah yang terlintas dalam benak kita adalah hasil karya seniman dewasa profesional, dengan seluruh sisi pandang seni dan pola pikir yang mungkin hanya bisa dinikmati oleh golongan tertentu. Atribut aliran; yang dikenakan pada lukisan pun beraneka ragam, seperti: aliran realis, surrealisme, abstrak, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Namun kapankah kita pernah melihat sebuah pameran lukisan hasil karya anak-anak? Global Art Jogja mengadakan sesuatu yang berbeda dari pameran biasanya, yaitu pameran karya anak; yang menampilkan lukisan siswa-siswi Global Art yang tentu saja sebagai anak-anak, mereka masih polos, naif, namun penuh semangat, disiplin, berdedikasi, dan potensial! Pameran tersebut akan dikemas dengan profesional, termasuk acara lelang lukisan untuk tujuan sosial, sehingga siswa-siswi dapat menjadi insan yang peduli dengan orang lain dan membanggakan orang tua mereka.&lt;br /&gt;Tujuan pameran ini adalah kami mengarahkan aktivitas seni; sebagai jembatan siswa-siswi untuk menapaki kehidupannya. Satu langkah pertama yang penting namun (disayangkan) sering terabaikan adalah membuat CITA-CITA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;15. Pameran Seni Visual dalam rangka turut memperingati 200 Tahun Raden Saleh, dengan tema ‘Ilusi-Ilusi Nasionalisme’ (18 Agustus – 9 September 2007).&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, undangan &amp;amp; kompetisi terbuka&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Seniman peserta pameran: Abay D. Subarna, Ahmad Sobirin, AS. Kurnia, Astari Rasjid, Askanadi, Andy Wahono, Anang Asmara, Bambang Pramudiyanto, Bambang Sudarto, Budi Kustarto, KH. D. Zawawi Imron, Denny ‘Snod’ Susanto, Dadi Setiyadi, Dani Agus Yuniarta, Deni Junaedi, Dyan Anggraini Hutomo, Doel AB, Elyezer, Eddy Sulistyo, Eduard [Edo Pop], Eko Didyk ‘Codit’ Sukowati, Gatot Indrajati, Gusar Suryanto, Hanafi, Haris Purnomo, Heri Dono, Ivan Sagito, Imam Abdillah, Made Wiguna Valasara, Melodia, Mulyo Gunarso, Nana Tedja, Nanang Warsito, Nurkholis, Putut Wahyu Widodo, Pius Sigit Kuncoro, Pintor Sirait, R. Aas Rukasa, Riduan, Rosid, Ronald Manullang, Rudi Winarso, S. Teddy D, Samsul Arifin, Suraji, Suroso [Isur], Ugy Sugiarto, Willy Himawan, Wilman Syahnur, Yuswantoro Adi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini dilaksanakan dalam rangka turut menyemarakkan hari Kemerdekaan RI yang ke-62 dan memperingati eksistensi almarhum Raden Saleh Syarif Bustaman. Pameran yang diselenggarakan secara reguler oleh Jogja Gallery kali ini bersifat pameran kelompok, berskala nasional [diikuti oleh kurang lebih 40 perupa Indonesia] dan akan mengetengahkan karya-karya terkini perupa Indonesia yang mengambil inspirasi dari ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan Indonesia kepada dunia luar, yaitu Raden Saleh Syarif Bustaman. Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Dalam pameran ini juga dipamerkan reproduksi karya lukisan Raden Saleh Syarif Bustaman ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ yang merupakan koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia di Yogyakarta [Gedung Agung].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;16. Pameran Seni Visual 1st Anniversary of Jogja Gallery ‘Portofolio #1’&lt;br /&gt;(19 September – 21 Oktober 2007)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sifat pameran: kelompok, terbuka&lt;br /&gt;Kurator: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Alexis, Andy Wahono, Antoni Eka Putra, Anthony David Lee, Arie Dyanto, AT. Sitompul, Catur Bina Prasetya, Denny ‘Snod’ Susanto, Deddy PAW, Didik Nurhadi, Dadi Setiyadi, Djoko Pekik, Donna Prawita Arrisuta, Erizal AS, Feri Eka Chandra, Hamdan, Hari Budiono, Heri Purwanto, KRMT. Indro ‘Kimpling’ Suseno, I Gede Made Surya Darma, I Gusti Ngurah Udiantara, I Made Arya Palguna, I Made Supena, Iwan Effendi, I Wayan Cahya, I Wayan Sujana ‘Suklu’, I Wayan Sumantra, Januri, Luddy Astaghis, Mikke Susanto, M. Irfan, Made Wiguna Valasara, Muji Harjo, Mulyo Gunarso, Nanang Warsito, Nasrul, Nasirun, Nadiah Bamadhaj, Nico Siswanto, Niko Ricardi, Puji Rahayu, Riduan, Robi Fathoni, Saftari, Suraji, Syahrizal Zain Koto, Suroso [Isur], Wahyu Santosa, Wibowo Adi Utama, Yani Mariyani Sastranegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran reportatif mengenai perjalanan pameran seni visual di Jogja Gallery sepanjang tahun 2007 sekaligus merayakan eksistensi 1 tahun berdirinya Jogja Gallery. Dalam pameran ini akan ditampilkan kembali karya-karya terbaru dari seniman-seniman yang pernah pameran di Jogja Gallery.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-796199704283395370?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/796199704283395370/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=796199704283395370&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/796199704283395370'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/796199704283395370'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/09/summary-pameran-jogja-gallery.html' title='Summary Pameran Jogja Gallery'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RvClzcro9OI/AAAAAAAAAC8/J6Yw4dF2pX0/s72-c/FS1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5853705178938325628</id><published>2007-07-10T10:37:00.000+07:00</published><updated>2007-07-10T11:56:41.108+07:00</updated><title type='text'>Sekitar Pencarian Bentuk Dalam Kaligrafi</title><content type='html'>Oleh KH. D. Zawawi Imron        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Makalah disampaikan dalam diskusi pendukung &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pameran seni visual &lt;i style=""&gt;Post-&lt;/i&gt;Kaligrafi ’Kalam &amp; Peradaban’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Tema: ’Lokalitas &amp;amp; Seni Kaligrafi di Indonesia’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Jogja Gallery, Yogyakarta, Minggu, 8 Juli 2007 / pukul 09.00 – 11.00 WIB&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="PT-BR" &gt;Bismillahhirrahmanirrahim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Makalah ini teramat sempit untuk memberikan gambaran sejarah kaligrafi Arab dengan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;lika-liku perjalanan yang sangat panjang. Tetapi, yang patut dicatat bahwa sebelum Islam, huruf Arab yang berasal dari &lt;i style=""&gt;Hieroghlip&lt;/i&gt;. Kemudian dari era ke era menemukan bentuk yang dikenal sebagai &lt;i style=""&gt;khath&lt;/i&gt; kufi, bentuknya masih sangat sederhana, dan sulit dibaca oleh orang yang bukan Arab karena belum ada titik, dan belum memakai harakat seperti yang berkembang kemudian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Kedatangan Muhammad Rasulullah SAW dengan kitab suci al-Quran telah membawa perubahan bagi penyempurnaan huruf Arab. Meskipun Muhammad seorang Nabi yang &lt;i style=""&gt;ummi &lt;/i&gt;(tidak bisa baca tulis), tetapi ia sangat menekankan betapa pentingnya kamum Muslimin untuk belajar membaca dan menulis. Musuh yang ditangkap dan menjadi tawanan perang, kemudian dibebaskan setelah berhasil mengajar anak-anak muslim membaca dan menulis. Hal ini dimaksudkan agar ummatnya dapat dengan mudah menulis dan mempelajari al-Quran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Dari zaman pemerintahan Khulafaurrasyidin, kemudian zaman Bani Umayyah, sampai zaman keemasan kebudayaan Islam pada pemerintahan Daulat Abbasiyah, &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;(kaligrafi) Islam semakin memenuhi syarat untuk menuliskan firman-firman Allah, bukan karena bentuknya yang semakin sempurna, tetapi lebih dari itu nilai keindahannya yang semakin tinggi. Keindahan irama bahasa yang penuh pesona pada al-Quran agaknya diusahakan tercermin pada kehalusan rasa para &lt;i style=""&gt;khathath&lt;/i&gt; (penulis huruf Arab) sehingga muncul bentuk-bentuk huruf &lt;i style=""&gt;Nasakhi &lt;/i&gt;yang jelaa dan manis, &lt;i style=""&gt;Tsulusi &lt;/i&gt;yang anggun, &lt;i style=""&gt;Riq`ah &lt;/i&gt;yang ekspresif, &lt;i style=""&gt;Diwani &lt;/i&gt;yang terbelit, &lt;i style=""&gt;Farisi &lt;/i&gt;yang berirama seolah-olah hendak roboh ke kanan, dan bentuk-bentuk yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Disamping untuk menulis ayat-ayat al-Quran, surat-surat administrasi pemerintahan, kitab-kitab agama dan kitab-kitab ilmu pengetahuan, hurup Arab juga dijadikan hiaan untuk memperindah mesjid. Sampai sekarang, dua mesjid yang paling bersejarah dalam Islam, yaitu Mesjidil Haram di kota Mekah dan Mesjid Nabawi yang terletak di jantung kota Madinah, kalau kita masuk ke dalamnya akan tampak adanya kaligrafi dengan nilai artistik yang tinggi yang isinya mengagungkan nama Allah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="PT-BR" &gt;Setelah Islam masuk ke Indonesia, dengan sendirinya al-Quran juga menjadi bacaan utama kaum muslimin. Putera-puteri di kawasan Nusantara juga belajar baca al-Quran serat &lt;i style=""&gt;khat&lt;/i&gt; Arab. Kitab-kitab agama, cerita-cerita kepahlawanan serta hikayat dan dongeng juga ditulis dalam hurup Arab. &lt;i style=""&gt;Khat &lt;/i&gt;kitab-kitab berbahasa Melayu di Jawa disebut hurup Arab Melayu. Sedangkan di kalangan orang Melayu, Malaysia dan Brunei hurup Arab itu disebut huruf Jawi. Pengiran Dr. Haji Muhammad bin Pengiran Haji Abd. Rahman menyatakan dalam Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) 2003, “Kesemua institusi dan dokumen (di Brunei Darussalam, Pen) menggunakan bahasa Melayu dan tulisan Jawi.” Yang dimaksud tulisan Jawi di sini adalah hurup Arab.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="PT-BR" &gt;Sebelum hurup Latin masuk ke Indonesia menjelang abad ke 20, di Jawa, di samping hurup jawa, Huruf Arab digunakan untuk menuliskan karya-karya sastra. Tembang-tembang seperti &lt;i style=""&gt;“Serat Ambiya”, “Kisah Mi`raj”, “Riwayat Nabi Yusuf”&lt;/i&gt;ditulis dengan hurup Arab. Dan pada perkembangannya, &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;Arab di Indonesia itu menemukan bentuk-bentuk yang khas. Dari naskah-naskah tua, baik tersimpan di beberapa museum, dan yang masih berada di tengah masyarakat ada bentuk-bentuk tertentu dan variasi &lt;i style=""&gt;Nasakhi-&lt;/i&gt;nya sangat kuat. &lt;/span&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt; bentuk yang kaku namun artistik, dan ada yang meliut dengan lentur. Pada &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; raja Lingga (Melayu) yang ditujukan kepada pejabat Belanda, atau &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa Adipati di Madura yang ditujukan kepada Raffles, hurup yang digunakan ada sedikit kemiripan dengan &lt;i style=""&gt;khat&lt;/i&gt; Farisi, tetapi sudah menemukan bentuk yang sangat spesifik. Bentuk yang serupa itu juga digunakan untuk menuliskan &lt;i style=""&gt;terjamah &lt;/i&gt;(makna) kitab-kitab yang berbahasa Arab yang biasanya disebut “makna jenggot” karena bergantung ke bawah seperti jenggot.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Selain itu, hurup Arab digunakan sebagai hiasan mesjid, hiasan batu nisan, dan sebagainya. Sebagai hiasan rumah muncullah kaligrafi lukisan kaca Cirebonan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bacaan zikir yang berbentuk Semar dan wayang lainnya, ada yang berbentuk harimau yang mengingatkan pada lambang Siliwangi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Lukisan kaca yang sebagian besar menampilkan kaligrafi kalimat-kalimat suci itu lalu berkembang di berbagai daerah bersama dengan gambar buraq, Mesjid al-Haram, Mesjid Nabawi, dan lain-lain. Kegiatan itu disambut oleh apresiasi masyarakat yang cukup terhadap seni Islam. Disayangkan, karena kualitas yang yang digunakan untuk lukisan kaca tidak tahan ratusan tahun, sekarang banyak lukisan kaca yang tinggal kacanya saja, lukisan sudah rusak dimakan zaman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Menjelang abad kelima belas hijriyah, kegiatan berkaligrafi tidak hanya dilakukan oleh para &lt;i style=""&gt;khathath &lt;/i&gt;saja, tetapi juga oleh para pelukis. Pelukis kaligrafi tidak lagi menulis pada papirus, kertas dan dinding masjid, justru di atas kanvas dengan media cat minyak, akrilik atau media batik. Dari sinilah bermula lukisan kaligrafi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Seorang seniman (dalam hal ini pelukis) adalah pengembara imajinasi dan pengembara ruhani yang tidak mengenal rasa lelah. Sebagai makhluk yang kreatif akan berupaya menampilkan bentuk-bentuk seni baru yang sebelumnya tak pernah ada di bumi ini. Karena itu, ia akan berusaha memacu daya khayal dan daya kreatifnya untuk menemukan sebuah puncak yang lain, tempat ia mengungkapkan esensi dirinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Dalam lukisan kaligrafi Islam, seorang Pelukis menemukan kebebasannya menuangkan imajinasinya melalui nuansa-nuansa warna yang kaya-raya, bahkan ditemukan pula bentuk-bentuk hurup Arab model baru yang berbeda dengan kaidah-kaidah penulisan yang telah baku sehingga tidak mustahil bila sesekali terdengar suara sumbang bahwa munculnya bentuk-bentuk hurup Arab model baru adalah penyimpangan, dan kejanggalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Pintu &lt;i style=""&gt;ijtihad&lt;/i&gt; kreativitas memang tidak pernah ditutup. Setiap pembaharuan dari hasil daya kreatif pada hakekatnya meninggalkan sesuatu yang sudah mapan, sedangkan matahari berputar dan zaman berjalan selalu menampilkan sesuatu yang baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Lukisan kaligrafi yang menggunakan media cat minyak di atas kanvas. Di samping itu Amri Yahya mencoba bereksperimen dengan media batik. Muncullah nama-nama seperti Ahmad Sadali, AD. Pirous, Amri Yahya, Amang Rahman, Syaiful Adnan, kemudia disusul oleh Abay D. Subarna, Yetmon Amier, Hatta Hambali, Hendra Buana, Sattar, Chusnul Hadi, dan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Menurut Soedarso Sp, seni lukis kaligrafi muncul setelah ada seni lukis abstrak, tidak ada gunung, pohon, dan langit, yang ada hanya garis, warna, tekstur, dan lain-lain. Di atas itu kaligrafi dilukiskan, yang tentu saja isinya disesuaikan dengan latar-belakang yang berupa lukisan abstrak itu untuk menjadi sebuah sajian komposisi yang padu. Disinilah imajinasi diberi ruang seluas-luasnya untuk menemukan nilai yang sangat berharga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Dalam seni lukis kaligrafi, para pelukis berupaya menuangkan pengalaman spiritualnya dalam bentuk yang estetik seutuh mungkin. Ahmad Sadali tidak hanya menuliskan ayat-ayat al-Quran, lebih dari itu ia memadukan ayat itu dengan pengalaman spiritualnya dalam tekstur dan warna hasil renungan yang mendalam, seakan-akan warna dan tekstur itu abstraksi estetik dan batin sang Pelukis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Amri Yahya menorehkan kaligrafinya di atas komposisi warna yang kadang ceria, tetapi pada saat yang lain dengan warna yang kelam biru kehijauan yang melukiskan kedalaman pengalaman ruhaninya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Tidak kalah pentingnya upaya pelukis menemukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bentuk &lt;i style=""&gt;khath&lt;/i&gt; yang spesifik miliknya. AD. Pirous misalnya, selain ia menggunakan &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;yang seperti dikembangkan dan &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;Maghribi, ia juga berangkat dari &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;yang bernuansa lokal, Aceh. Tetapi yang khas penemuan Pirous ialah bentuk hurupnya yang ekspresif yang sangat jelas sekali sosok kepribadiannya. Sayang sekali, dalam lukisan-lukisan Pirous yang saya amati, bentuk hurup ini tidak banyak digunakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Orang yang sangat percaya kepada bentuk &lt;i style=""&gt;khath-&lt;/i&gt;nya yang pribadi adalah Syaiful Adnan. Ia diciptakan bentuk hurup sendiri yang hampir tidak ada kaitannya dengan kaligrafi baku sehingga muncul &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;gaya Syaiful. Ia membentuk ujung hurup-hurupnya runcing seperti duri dipadu jalinan dan kelindan antar-aksara engan sangat terampil dan teliti. Saking percayanya terhadap penampilan hurupnya yang mempribadi, ia merasa tidak perlu memainkan banyak warna. Lukisan-lukisan Syaiful rata-rata hampir monokrom.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Demikian pula Yetmon Amier yang hurup-hurupnya dikemas kubistik. Sumber &lt;i style=""&gt;khath&lt;/i&gt;-nya ditengarai dari &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;Kufi, tetapi sudah dikembangkan sangat jauh dan digubah khusus untuk seni lukis sehingga bila diperhatikan jelas sekali sosok Yetmon-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Hatta Hambali mengemas kaligrafinya dalam bentuk hurup yang terdiri dari pita panjang. Pita yang berupa hurup itu dilukis semi realis sehingga menjadi suatu yang otentik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Tidak kalah otentiknya ialah Amang Rahman yang membuat hurup begitu unik. Ada permainan bayangan dan cahaya, serta titik yang dilukis menjadi lubang atau bolongan yang sangat dalam. Hal itu ditunjang dengan suasana biru yang menampilkan kesan mistis dan puitis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Pada saat yang akan datang, bentuk-bentuk &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;yang menjadi milik pribadi para pelukisnya perlu semakin digalakkan. Dan, untuk menemukan kepribadian dalam &lt;i style=""&gt;khath &lt;/i&gt;itu perlu perjuangan dan pencarian kreatif yang tidak kunjung lelah. Rasa &lt;i style=""&gt;taqarrub &lt;/i&gt;kepada Allah bisa menjadi spirit karena menorehkan kaligrafi tak lain sebagai tanda-tanda cinta kepada Allah dan ayat-ayat-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Tetapi, yang penting untuk dijadikan bahan renungan, apakah lahirnya karya seni dalam bentuknya yang baru itu berangkat dari getar kepekaan estetik atau tidak? Bila tidak lahir dari getar tali-temali rasa yang paling dalam, maka hasilnya tidak akan menyentuh. Tetapi, bila benar-benar lahir dari getaran estetik dan kemudian dicelup dengan &lt;i style=""&gt;sibghah &lt;/i&gt;(celupan) Allah, maka jadinya akan menjadi lukisan kaligrafi yang punya daya pesona tinggi yang tiada bosan-bosannya mata memandang. Penyair Iqbal berucap dalam salah satu penggalah sajaknya :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Dari manakah irama seruling mendapat kemerduan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dari getaran hati sang peniup, bukan dari potongan bambu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;(Darb-l Khalim)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Pada hakekatnya, lukisan kaligrafi adalah ungkapan rasa religius seorang pelukis ke atas kanvas dengan bentuk hurup dan permainan warna yang mencerminkan kepribadian dan kedalaman jiwa pelukisnya. Penghayatan yang sepenuhnya terhadap hurup-hurup yang hendak digoreskan, penguasaan terhadap bidang dan warna benar-benar memancar dari suatu konsep penciptaan yang utuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;Lukisan kaligrafi yang bermutu akan mampu membawa penikmatnya pada kesadaran transedental bahwa diatas dikehidupan ini, ada yang sangat dekat dan akrab dengan diri, yang rahmat-Nya selalu mengalir tiada henti, yaitu Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5853705178938325628?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5853705178938325628/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5853705178938325628&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5853705178938325628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5853705178938325628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/07/sekitar-pencarian-bentuk-dalam.html' title='Sekitar Pencarian Bentuk Dalam Kaligrafi'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-606558643717211417</id><published>2007-06-27T10:43:00.000+07:00</published><updated>2007-06-27T11:09:21.827+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RoHiWsnfMII/AAAAAAAAACs/0JcN4-tjaeE/s1600-h/poster+kaligrafi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RoHiWsnfMII/AAAAAAAAACs/0JcN4-tjaeE/s400/poster+kaligrafi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080590734212411522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-606558643717211417?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/606558643717211417/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=606558643717211417&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/606558643717211417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/606558643717211417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/blog-post.html' title=''/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RoHiWsnfMII/AAAAAAAAACs/0JcN4-tjaeE/s72-c/poster+kaligrafi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3990753427256512602</id><published>2007-06-18T19:24:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:13.000+07:00</updated><title type='text'>Borobudur Impasto-nya Anthony</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RndV6u4QkII/AAAAAAAAACU/ByTkNANuILM/s1600-h/Anthony+2,.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RndV6u4QkII/AAAAAAAAACU/ByTkNANuILM/s320/Anthony+2,.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077621572388294786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RnZ76u4QkHI/AAAAAAAAACM/9YzBpcGT8Ts/s1600-h/edit2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RnZ76u4QkHI/AAAAAAAAACM/9YzBpcGT8Ts/s320/edit2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077381878853439602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RnZ65-4QkGI/AAAAAAAAACE/yHniF0jcRX8/s1600-h/Anthony+3,.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RnZ65-4QkGI/AAAAAAAAACE/yHniF0jcRX8/s320/Anthony+3,.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5077380766456909922" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Oleh Nunuk Ambarwati dan Puji Rahayu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Borobudur Agung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Menemui sosok Anthony David Lee, perupa kelahiran Manado, 2 Juni 1964 merupakan seseorang yang lebih dikenal sebagai jagoan masak. Mengaku memiliki keahlian melukis yang dia peroleh secara otodidak. Anthony yang saat ini tinggal di Denpasar, Bali ini sempat menggelar aksi melukis dalam sebuah jamuan makan malam, di lapangan Gunadharma, kompleks wisata Candi Borobudur, pada hari Rabu, 30 Mei 2007 lalu menjelang peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2551 BE/2007. Aksinya ini merupakan prakarsa Muncul Art and Culture Center yang digawangi oleh Soekeno [direktur UD Muncul, Yogyakarta] bekerja sama dengan Jogja Gallery [JG], Yogyakarta. Menampilkan corak impresionistik dengan teknik impasto [menumpuk cat di atas kanvas]-nya, Anthony melukis Candi Borobudur secara langsung, dengan media cat minyak di atas kanvas ukuran 980 x 280 cm. Lukisan sebesar itu, yang kemudian bertajuk ‘Borobudur Agung’ berhasil dia selesaikan hanya dalam rentang waktu 1 jam 40 menit saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Sebelum menggelar aksinya tersebut, Anthony sempat melukis bersama dengan Kartika Affandi di Museum Affandi, Yogyakarta. Hal tersebut dia lakukan sebagai bentuk partisipasi memeriahkan 100 Tahun Affandi yang bertepatan di tahun ini. Dua karya berhasil diselesaikannya, masing-masing tak lebih dari setengah jam saja. Dengan tema Affandi sebagai Barong dan Affandi sebagai Rangda. Dua lukisan tersebut rencananya akan turut dipamerkan di akhir Juni 2007 ini dalam sebuah pameran menandai eksistensi sang maestro. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Matahari sebagai ikon lukisan yang melekat pada Affandi menginspirasi sangat kuat pada diri dan lukisan-lukisan yang dihasilkan Anthony. Disamping warna, semangat dan goresan Affandi yang menginspirasinya, nuansa mistis biru tua pada karya seri Borobudur-nya Srihadi Soedarsono ternyata juga turut mengilhami karya Anthony. Untuk lebih menyiapkan penguasaan materi, tema dan keahliannya guna aksi pada malam 30 Mei 2007 yang lalu, hampir tiap malam dia menggoreskan banyak tube cat minyak dalam beberapa kanvas dengan tema Borobudur di kediaman Soekeno, sebagai studionya di Soragan, Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dengan latar belakang Candi Borobudur yang mistis malam itu, dihadiri kurang lebih 50 tamu undangan, terdiri dari para kolega dan para jurnalis. Jamuan makan malam diselingi musik mengantar Anthony menyelesaikan karya besarnya. S&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;egera setelah Anthony merampungkan aksi melukisnya, dia menyempatkan untuk mendeskripsikan maksud lukisannya kepada para undangan. Lukisan yang dia hasilnya menurutnya belum selesai, dia mengundang semua orang yang melihat karyanya kemudian menyelesaikannya dalam hati dan pikiran masing-masing. Dia ingin mengajak masyarakat Yogyakarta untuk merenungkan berbagai peristiwa yang terjadi, misalnya bencana alam gempa bumi [dimana tahun ini merupakan peringatan 1 tahun gempa bumi di Yogyakarta dan sekitarnya]. Dengan adanya peristiwa itu, jangan selalu menyalahkan Tuhan. Seharusnya berpikir lebih cerdas, dan harus banyak belajar, segala sesuatu itu bisa terjadi mungkin kebanyakan karena dari kelalaian kita sendiri, seperti kurang peduli terhadap alam yang ada di sekitar kita, yang sebenarnya telah memberi kita kehidupan, keindahan, kekayaan yang melimpah. Saatnya kita untuk sadar dengan hal itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Yang menjadi keprihatinan Anthony lainnya adalah banyak orang yang tidak tahu, tidak sadar bahwa kita punya peninggalan yang amat luar biasa, seperti Candi Borobudur. Keberadaanya belum begitu diperhatikan, padahal ini adalah peninggalan yang amat luar biasa. Banyak orang yang tidak tahu tentang sejarah maupun maknanya. Ini menunjukkan bahwa orang-orang banyak yang belum bisa menghargainya. Sejak melihat Candi Borobudur, Anthony sangat kagum, dia terus membaca dan mencari tahu dari berbagai sumber sebelum dia tertarik untuk melukiskannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Borobudur bagi Anthony adalah sebuah bangunan yang sangat indah, cantik dan sangat kokoh. Sesuatu yang luar biasa, mempunyai nilai spiritualitas yang tinggi dan baik dari ukuran, bentuk mau pun keberadaanya. Dia mengatakan kekagumannya tersebut ketika melihat sendiri peristiwa yang terjadi dihadapannya. Seperti manusia yang selalu berubah, peradaban yang berubah bencana yang membuat semua kehidupa dan alam berubah, tapi Borobudur tetap kokoh. Kekaguman ini sangat kuat dirasakan oleh Anthony, semua direkam dalam memorinya dan diwujudkan dalam bentuk lukisan yang dikerjakan hanya dalam beberapa saat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Karya ini universal, dimana disana ada matahari dan bulan. Matahari terinspirasi oleh Affandi yang bersinar, mempunyai kekuatan yang luar biasa sebagai maestro. Bulan terinspirasi oleh perupa Srihadi Soedarsono. Terdeskripsikan orang sedang berdo’a artinya kita harus bersyukur kepada Tuhan. Tidak terus meminta kepada Tuhan, tapi harus lebih banyak belajar dan terus belajar serta waspada. Bencana yang digambarkan merupakan peringatan bagi kita”, jelas Anthony.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Meski batal tercatat masuk di Museum Rekor Indonesia [MURI] sebagai lukisan paling banyak [berat] menggunakan cat minyak, para tamu undangan merasa kagum dengan karya yang dihasilkan Anthony. Banyak komentar atas karya spektakulernya, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terasa luar biasa dan indah. Bahkan KGPH Hadiwinoto, yang hadir pada malam itu, mengatakan karya ini mengandung nilai spiritual yang tinggi dan agung. Karya Anthony bisa memberi peringatan pada manusia, dimana manusia sebenarnya adalah makhluk yang lemah dan perlu menjalankan hidup dengan terus mendekatkan diri kepada Tuhan. Manusia harus terus menuju jalan kebenaran dan terus rendah hati dihadapan-Nya, meminjam pepatah orang Jawa yang mengatakan dalam hidup perlu &lt;i style=""&gt;memayu hayuning bawana, &lt;/i&gt;jelas Gusti Hadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Karya tersebut kini menjadi koleksi pribadi Soekeno dimana saat ini terpajang dan bisa dinikmati dalam pameran yang dikuratori Mikke Susanto, &lt;b style=""&gt;‘Transposisi: Lukisan-lukisan Koleksi Kolektor Jateng-DIY’&lt;/b&gt;, digelar Jogja Gallery [JG], Yogyakarta, 22 Mei – 26 Juni 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Si Misterius Anthony&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Selama masa tinggalnya di Yogyakarta kala itu [kurang lebih 2 minggu], Anthony sangat aktif melukis setiap harinya. Dalam aktifitasnya melukis, Anthony lebih mengedepankan sisi entertainmen. Dengan senang hati dia persilakan kita melihat proses menyelesaikan lukisannya. Dia juga tak keberatan kita ‘mendikte’-nya untuk melukiskan satu obyek dalam kanvas kosongnya. Selama proses melukis, dia banyak menyertakan guyonan-guyonan yang menyegarkan, entah berhubungan dengan obyek lukisan mau pun kadang tidak sama sekali. Dia pun selalu akan mengakhiri lukisannya dengan mendeskripsikan setiap detail apa yang dia goreskan di kanvas tersebut. Mengapa ada burung, mengapa ada matahari, mengapa warnanya kuning atau biru dan seterusnya. Hal tersebut sangat jarang bisa kita temui dari perupa-perupa lain. Bagaimana seorang perupa menutup diri, menemukan momen yang tepat, mengisolasi diri guna berkonsentrasi menyelesaikan karya dan seterusnya. Situasi langka yang bisa dihadirkan Anthony tersebut di atas, memberikan kejutan-kejutan yang menarik bagi publik awam akan dunia seni lukis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Maka tak mengherankan ketika pengamat seni sekaligus kolektor ternama, Dr. Oei Hong Djien mengomentari karya-karya Anthony yang lebih tepat sebagai pengisi ruang, dekoratif yang bersifat mengindahkan. Tak lebih dari itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Bagi Anthony sendiri, situasi berkarya dengan dilihat banyak orang tak menganggunya menyelesaikan karya. Meski konsekuensi atas situasi tersebut jelas terbaca pada lukisan yang dia hasilkan. Ketika banyak komentar yang ‘mengintimidasi’ otaknya, dimana situasi yang selalu berbeda mengurangi kenyamanannya dalam berkarya, atau bahkan dikte-dikte yang memberi masukannya, jelas terbaca pada kualitas karya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Buat Anthony, kegiatan melukis juga merupakan salah satu terapi baginya. Dimana menurut pengakuannya pada malam peringatan hari ulang tahunnya yang ke-43, dia merupakan sosok yang hiperaktif, dimana ide dan gagasannya selalu berkembang. Dokter yang menanganinya menyarankan untuk sedikit mengurangi sisi hiperaktifnya apabila dia ingin hidupnya menjadi lebih baik. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Satu hal lain yang menarik darinya adalah gaya melukisnya. Dibantu dua orang asistennya, Putu dan Kadek, bertube-tube cat bisa dia habisnya dalam satu kali melukis. Biasanya Putu yang akan memplototkan tube cat di atas kaca dan Kadek yang terus mendokumentasikan tahap-tahap Anthony melukis, mulai dari goresan pertama hingga tanda tangan sebagai tanda akhir dia melukis. Tak heran dokumentasi aksi-aksi melukisnya dimana pun, bahkan di rumah orang-orang penting di Republik ini, sangat detail dan lengkap, bisa kita lihat di laptop yang selalu dibawanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Anthony juga sangat mengedepankan kebersihan dalam aksi melukisnya. Disamping bertube cat yang dia habisnya, berlembar-lembar tisu juga wajib tersedia ketika dia melukis. Setiap kali selesai menggoreskan satu warna dengan ‘spatula’-nya, dia seka spatula tersebut dengan tisu hingga bersih. Anthony mengaku, warna-warna murni dari tube cat lebih dia sukai daripada mencampur warna. Meski pun kadang memang ada sedikit warna-warna campuran yang dia hasilkan untuk memberi aksen tertentu pada lukisannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Meski penulis sempat mengikuti aksi-aksi melukis Anthony, kemisteriusan &lt;i style=""&gt;background&lt;/i&gt;-nya masih selalu menjadi tanda tanya. Siapa &lt;i style=""&gt;sih&lt;/i&gt; Anthony? Masih merupakan pertanyaan besar yang selalu membayangi. Dia tak pernah bisa serius mengatakan siapa dirinya sebenarnya, bagaimana dia mendapatkan keahlian melukis, atau kronologi pameran dan prestasi berkaryanya. Meski tak pernah serius menjawabnya, tidak demikian ketika dia menjelaskan setiap detail karyanya. Untuk hal yang satu ini, dia selalu menjawab dengan ‘tak penting perupanya, yang penting adalah karyanya'.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3990753427256512602?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3990753427256512602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3990753427256512602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3990753427256512602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3990753427256512602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/borobudur-impasto-nya-anthony.html' title='Borobudur Impasto-nya Anthony'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RndV6u4QkII/AAAAAAAAACU/ByTkNANuILM/s72-c/Anthony+2,.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5236247222366821980</id><published>2007-06-18T06:56:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T06:59:34.070+07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi #6</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Magelang, 26 February, 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Kelola, Jakarta in cooperation with&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Asialink, Centre, Australia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;The Asian Cultural Council, United States of America&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ref: Letter of recommendation&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;Dear Sirs and Madams,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;I have known Ms Nunuk Ambarwati for several years. From the first time I met her, she already showed high appreciation for art. Besides, her social intercourse with the art world (collectors, galleries, curators, writers, event organizers) in general and artists in particular has always been very good.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Knowing her better, I observed that she was always carving for more knowledge and experience in art, particularly contemporary art. In this respect Ms Nunuk Ambarwati had been involved in the activities of Cemeti Art Foundation for some period.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Last year she joint our team in organizing a wedding art event where 80 prominent artists were participating; an art event never happened before. It was to a significant part due to her contribution that this art event became a great success. In this collaboration I noticed that she has great responsibility for her work.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Since the end of 2006 Ms Nunuk is employed as program manager of the new established Jogja Gallery where I am appointed as one of the advisers. In a short period she has proven her capability to execute her job very well. Since the opening of this Gallery there have been continuous activities. After an exhibition is terminated a new exhibition follows immediately, besides other activities like art talks.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Nationally she has built a significant knowledge and experience in programming and organizing art events. If she could get the opportunity to broaden her knowledge and experience internationally, it definitely would be a great benefit for the Indonesian art world since Ms Nunuk Ambarwati’s dedication to art is beyond doubt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Yours sincerely,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Oei Hong Djien&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Art Collector&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Owner and curator of OHD Art Museum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Board member of Singapore Art Museum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Board member of Art Retreat Museum, Singapore&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Curator of Museum H. Widayat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Adviser of Jogja Gallery&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5236247222366821980?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5236247222366821980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5236247222366821980&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5236247222366821980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5236247222366821980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/rekomendasi-6.html' title='Rekomendasi #6'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5044818279150849913</id><published>2007-06-18T06:52:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T06:54:59.843+07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi #5</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Jakarta, February 3, 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yayasan Kelola, Jakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;I have known &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/b&gt; prior to the opening of Jogja Gallery on September 19, 2007. &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/b&gt; has been assigned as the Program Manager of Jogja Gallery. Prior to joining Jogja Gallery, &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/b&gt; had been working for Cemeti Art House in Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Yogyakarta is the birthplace of many famous artists in Indonesia, but, ironically, Yogyakarta didn’t have a common facility that can satisfactorily showcase the talents of the artists. To bring a great contribution to the preservation and strengthening of Yogyakarta’s identity as the cultural hub of Indonesia, Jogja Gallery was founded and is pleased to appoint &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/b&gt; as our Program Manager.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Not like other galleries that either mostly funded by the government or individual artists, Jogja Gallery was fully funded individuals (including myself) to support the preservation and development of culture, art, and social life. The challenge arises when the executives of Jogja Gallery are requested to prepare a program that balances the quality of arts and the survival of the gallery. I was initially pessimist about the capability of the executives who are all with virtually no background in business. Surprisingly, &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/b&gt; has been demonstrated her capability and talent to set a one year program in very short time period that satisfiying the business approach without sacrificing the quality of the arts. Among other programs, the “Icon: Retrospective”, “Young Arrows”, the “Art from Tunisia” (join exhibition with the Government of Tunisia), the “Thousand Mysteries of Borobudur” (join exhibition with UNESCO), Indonesian Student Art, etc, are considered as monumental exhibitions that can only be prepared by a talented person such as &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;As the President Director of Jogja Gallery, I have no doubt concerning the quality and talent of &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati, &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;and consider her as the key persons at Jogja Gallery.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Sugiharto Soeleman&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;President Director&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5044818279150849913?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5044818279150849913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5044818279150849913&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5044818279150849913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5044818279150849913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/rekomendasi-5.html' title='Rekomendasi #5'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-8862003008854769180</id><published>2007-06-18T06:49:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T06:51:24.149+07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi #4</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Saya, &lt;b&gt;Suwarno Wisetrotomo,&lt;/b&gt; kritikus seni rupa dan dosen di Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bertempat tinggal di: Jalan Bangau 577B, RT/RW 13 / 26, Wonocatur, Banguntapan, Yogyakarta 55198 Indonesia (email: &lt;a href="mailto:sangkrit@yahoo.com"&gt;sangkrit@yahoo.com&lt;/a&gt;), menulis Surat Rekomendasi untuk Saudara &lt;b&gt;Nunuk Ambarwati &lt;/b&gt;(dokumentator seni visual; perancang/manajer program kesenian/seni rupa), alamat: Jalan Gamelan Kidul 22 Yogyakarta, Indonesia (email: &lt;a href="mailto:qnansha@yahoo.com"&gt;qnansha@yahoo.com&lt;/a&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Saya mengenal Nunuk Ambarwati (selanjutnya ditulis Nunuk), lebih dari sepuluh (10) tahun yang lalu, melalui berbagai aktifitas kesenian – khususnya seni rupa – di Yogyakarta, Indonesia. Nunuk banyak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan seni rupa, baik sebagai dokumentator, publikasi kegiatan, mau pun sebagai perancang dan pelaksana program. Saya semakin mengenal dan banyak berkomunikasi ketika Nunuk bekerja penuh pada Yayasan Seni Cemeti (Cemeti Art Foundation), sebagai dokumentator dan pengarsipan seni visual, serta ikut mengerjakan SURAT YSC yakni media publikasi Yayasan Seni Cemeti. Diantara pekerjaan itu, Nunuk masih bisa membagi waktu dengan terlibat pada beberapa proyek seni rupa, antara lain Biennale Seni Rupa Yogyakarta. Kemudian saya tahu, Nunuk akhirnya menjabat sebagai Manajer Program di Jogja Gallery, sebuah galeri baru di Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Karier profesinya itu menunjukkan bahwa Nunuk seorang yang serius dan professional dalam bidang yang diminatinya, yakni sebagai perancang dan manajer (pengelola) program pada sebuah institusi kesenian/kebudayaan. Di samping itu, luasnya pergaulan, serta pengalamannya mendokumentasi berbagai kegiatan kesenian/seni rupa, pasti akan sangat menunjang dalam mengelola suatu program,. Manajer program merupakan salah satu pemegang kunci hidup atau matinya kegiatan yang menarik dan bermutu pada institusi kebudayan/kesenian. Sementara kita tahu, posisi manajer program itulah yang justru mengalami krisis, atau dengan kata lain, masih terlalu sedikit yang professional. Nunuk, dalam pengamatan saya, dan sejauh yang saya ketahui, berada di jalur yang tepat dan sungguh-sungguh ia pahami, sekaligus dapat mengisi celah kekosongan ikhwal manajer program yang professional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Aktivitas dan partisipasinya dalam berbagai peristiwa dan berbagai skala, menunjukkan bahwa Nunuk adalah seorang yang tahu persis tentang apa yang akan dikerjakan, juga tahu manfaat pekerjaan itu bagi masyarakat luas, khususnya bagi dunia kesenian/seni rupa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Atas potensi, kesungguhan, dan pengalamannya dalam berpartisipasi di berbagai peristiwa kesenian (seni rupa), saya yakin, Nunuk Ambarwati dapat melakukan program-program yang diagendakan oleh Pengelola Program Magang Internasional periode 2007-2008 – Yayasan Kelola Jakarta, bekerjasama dengan Asialink, Centre, Australia, Asian Cultural Council, dan United States of America. Dengan kata lain, Nunuk Ambarwati merupakan kandidat yang pantas dipertimbangkan untuk diterima dalam Program Magang Internasional tersebut. Saya berharap, catatan dalam rekomendasi saya ini, dapat membantu pemahaman siapa saja tentang sosok dan profesi Nunuk Ambarwati, dan pada akhirnya dapat membantu dalam membuat keputusan yang tepat baginya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Salam,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat rekomendasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia;"&gt;Suwarno Wisetrotomo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-8862003008854769180?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/8862003008854769180/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=8862003008854769180&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/8862003008854769180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/8862003008854769180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/rekomendasi-4.html' title='Rekomendasi #4'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-2614712338063659939</id><published>2007-06-18T06:40:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T06:46:29.797+07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi #3</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Yang bertanda tangan di bawah ini adalah saya: Aloysius Nindityo Adipurnomo; seniman perupa; salah satu Direktur Rumah Seni Cemeti Yogyakarta dan Pendiri serta mantan Pengurus aktif Yayasan Seni Cemeti Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Saya mengenal saudari Nunuk Ambarwati seiring bersama berkembangnya karier dan komitmen saudari Nunuk pada bidang manajemen kesenian, secara khusus seni rupa. Pada tahun 1999 saudari Nunuk bergabung pada Rumah Seni Cemeti Yogyakarta, dimulai sebagai staf pengelolaan galeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Tahun 2002, Nunuk meneruskan komitmen pengelolaan kegiatan seni rupa dengan membenahi dan mengembangkan bidang dokumentasi seni rupa, yang menjadi &lt;i&gt;core&lt;/i&gt; utama kegiatan Yayasan Seni Cemeti Yogyakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Tahun 2006 saudari Nunuk mendapatkan tawaran posisi menjalankan manajemen/pengelolaan Jogja Gallery di Yogyakarta hingga sekarang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Sebagai narasumber dan kolega, maka dengan ini saya secara pribadi mendukung segala macam bentuk upaya yang diperhitungkan mengarah pada stimulant bagi berkembangnya fokus keahlian dan kariernya, terutama di dalam manajemen pengelolaan kesenian, khususnya seni rupa secara nasional dan internasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Saya berharap surat referensi ini bisa dipergunakan oleh berbagai pihak sebaik-baiknya dan proporsional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Yogyakarta, 7 Februari 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Nindityo Adipurnomo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-2614712338063659939?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/2614712338063659939/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=2614712338063659939&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2614712338063659939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/2614712338063659939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/rekomendasi-3.html' title='Rekomendasi #3'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-8041714820171742820</id><published>2007-06-18T06:31:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T06:38:44.852+07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi #2</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Yogyakarta, 5 January 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;To whom it may concern,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;I have known Nunuk Ambarwati since the 1990s in various activities of art and culture in general. Nunuk used to work for the Cemeti Art Foundation, and now works for the Jogja Gallery based in Yogyakarta. As far as I know she has well managed not only in handling art exhibitions, but also in organizing art events which included many people from different backgrounds, local and expatriate artists, as well as institutions.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;From my observation on her achievements and attitudes I would say that she is indeed a professionally hard worker, who always pursue excellent goals. She works efficiently, effectively, and punctually. In dealing with documents and information she handles systematically. Another good aspect of Nunuk’s competency is that she is patient enough in organizing or coordinating works that deal with artists many of who are very individualistic and eccentric. I have seen in many occasions that Nunuk has managed to implement solutions that come from heart.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Other credible points of Nunuk are the facts that she has skills required for a modern professional manager / organizer, those are mastering digitally recording equipment as well as taking advantes of recent electronic media. Nunuk has useful and good documentations of art events, and of and ethnic and contemporary works of art.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Nunuk studied Communication at a significant university in her home city, that is the University of Gadjah Mada. She was born of a family who respect Javanese culture, namely Javanese dance, and lives in an area where live dwellers having traditional cultural relationship with the Sultanate Palace of Yogyakarta. She happens to be a Javanese dancer, therefore she has developed empathetic sense in approaching artists.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Based from what I know I highly recommend Nunuk Ambarwati to receive a chance for international internship organized by Yayasan Kelola.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;I can be connected any time to give more explanation or details about Nunuk Ambarwati should Yayasan Kelola need more.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Yours Sincerely,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;M. Dwi Marianto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-8041714820171742820?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/8041714820171742820/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=8041714820171742820&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/8041714820171742820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/8041714820171742820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/rekomendasi-2.html' title='Rekomendasi #2'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-5658267354969410067</id><published>2007-06-18T06:17:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T06:26:55.060+07:00</updated><title type='text'>Rekomendasi #1</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;, February 14, 2001&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Letter of Recommendation&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Since November 2000 Nunuk Ambarwati supports me with her assistance in conducting the ongoing empirical study “Journalism in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;”, which is based on a cooperation between Atmajaya University Yogyakarta, Indonesia, and Technical University of Ilmenau, Germany.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Graduated from the Communication Department of the Gadjah Mada University Yogyakarta, Ms.Ambarwati is working with full commitment, always on-time and well organized.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Along with this formal aspect, in her work she deals with many organizations and mass media. Ms. Ambarwati is conscious, hardworking, communicative and intelligent young person. Given the change to work in your company, she will enhance her skills and enrich her vision, and this is extremely useful for her future career.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;I strongly recommend for this job. I’am certainly sure that Ms. Ambarwati is heading to a successful career.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Thomas Hanitzsch&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-5658267354969410067?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/5658267354969410067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=5658267354969410067&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5658267354969410067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/5658267354969410067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/06/rekomendasi-1.html' title='Rekomendasi #1'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-9222622589829901836</id><published>2007-05-23T17:36:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:13.242+07:00</updated><title type='text'>200 Tahun Raden Saleh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RlQcNXP5qSI/AAAAAAAAAB8/LzFV5sQG2Hs/s1600-h/Raden+Saleh-Diponegoro.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RlQcNXP5qSI/AAAAAAAAAB8/LzFV5sQG2Hs/s320/Raden+Saleh-Diponegoro.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5067706496603236642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-family:Georgia;font-size:18;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 255, 255);"&gt;UNDANGAN TERBUKA BERKARYA&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Pameran Lukisan - 200 Tahun Raden Saleh&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:16;"  lang="IN" &gt;ILUSI-ILUSI NASIONALISME&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jogja Gallery, Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;18 Agustus - 9 September 2007&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jogja Gallery, sejak di &lt;i style=""&gt;launching &lt;/i&gt;di Yogyakarta, 19 September 2006, telah menggelar pameran seni visual secara berkala. Pada penyelenggaraan pameran yang ke-14 kali ini, Jogja Gallery akan menggelar sebuah pameran lukisan sebagai sebuah penanda eksistensi 200 Tahun Raden Saleh dalam dunia seni, terutama seni rupa Indonesia. Jogja Gallery mengundang seluruh perupa di Indonesia yang tertarik untuk turut berpartisipasi dan merespon tema tersebut di atas. Berikut keterangan lebih detail.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Hal teknis yang perlu diperhatikan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;a.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Pameran rencananya akan digelar tanggal 18 Agustus – 9 September 2007, di Jogja Gallery, Jalan &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;  Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta. Dengan kurator: Mikke Susanto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;b.    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jogja Gallery telah mengundang khusus sejumlah perupa [ada sekitar 40 orang perupa] untuk &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;       merespon tema ini. Namun demikian Jogja Gallery juga membuka undangan berkarya [proposal] &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;       kepada semua perupa yang ingin terlibat dalam pameran ini. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c.&lt;/span&gt;    Calon peserta pameran harap mempelajari abstraksi kuratorial yang kami lampirkan di bawah ini.&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Data-data teks penunjang lainnya, seperti hasil riset dsb, bisa Anda dapatkan fotokopinya dengan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;menghubungi langsung bagian pameran [Nunuk Ambarwati atau Puji Rahayu] di Jogja Gallery.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;d.   &lt;/span&gt;Proposal karya yang masuk, akan diseleksi oleh kurator [Mikke Susanto] dan manajemen Jogja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Gallery.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;e.   &lt;/span&gt;Media karya adalah 2 dimensi atau lukisan, maksimal ukuran 200 x 200 cm.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;f.     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Bisa mengajukan lebih dari satu karya.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;g.    &lt;/span&gt;Proposal karya paling lambat diterima hari &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Senin, 25 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;. Dilengkapi dengan foto &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;karya yang hendak diajukan, konsep karya, data diri/biodata/CV terbaru, alamat/no kontak lengkap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;h.   &lt;/span&gt;Keputusan hasil seleksi akan diumumkan Jogja Gallery melalui kontak langsung dengan perupa, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;email, milis mau pun website, paling lambat tanggal 1 Agustus 2007.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 9pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;i.     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Keputusan hasil seleksi tidak dapat diganggu gugat.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 9pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Wingdings;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Informasi yang belum jelas, dapat ditanyakan pada pihak penyelenggara &lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt; (c.p. Nunuk Ambarwati 081 827 7073 atau Puji Rahayu 081 5787 60619).&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Abstraksi Kuratorial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Meski pun masih terdapat polemik mengenai tahun kelahiran Raden Saleh itu sendiri; dari sebagian besar data yang ada, Raden Saleh dipercaya— lahir tahun 1807, tepat dua ratus tahun lalu. Ia tercatat lahir di Semarang Jawa Tengah dan kemudian melegenda menjadi pelukis perdana sekaligus pelopor seni lukis Indonesia. Jalan hidupnya sangat menarik, sebagai masyarakat biasa, pelukis istana Kerajaan Belanda dengan melakukan perjalanan ke beberapa negara selama bertahun-tahun, dan menjadi pelukis yang saat ini namanya tetap harum. Lukisan-lukisannya banyak menggambarkan suasana pemandangan, pertarungan binatang, potret para pembesar beberapa negara di Eropa dan di Indonesia, serta lukisan tentang perjuangan/ nasionalisme bangsa ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Perjalanan hidupnya yang sangat menarik tersebut, banyak mengilhami para perupa Indonesia. Selain dihormati karena kecerdasannya yang luar biasa, ia juga menjadi ikon seni Indonesia pertama yang berhasil mempengaruhi dan memperkenalkan bangsa ini kepada dunia luar. Wajar bila pada saat ini Raden Saleh kemudian dianggap menjadi kebanggaan bangsa. Ia, menurut peneliti Claire Holt, dianggap sebagai “ayah” bagi gerakan seni modern di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Salah satu lukisan yang hingga saat ini menjadi perbincangan dan sangat penting adalah &lt;i style=""&gt;Penangkapan Pangeran Diponegoro&lt;/i&gt; (1857). Lukisan ini sampai saat ini dipajang di Istana Presiden Republik Indonesia. Lukisan ini banyak memberi inspirasi bagi banyak pengamat, karena berbagai alasan. Alasan tersebut misalnya mempertentangkan sikap dan nasionalisme Raden Saleh terhadap bangsa Indonesia yang sedang terjajah. Mengapa sosok Diponegoro digambarkan sama tinggi dengan orang Belanda? Alasan lain adalah bahwa dalam lukisan ini selain secara tematik mengarah pada tema nasionalisme, tetapi juga memberi petunjuk bahwa segala keterampilan yang dimiliki Raden Saleh ditumpahkan dalam karya tersebut. Lihat saja tema lukisan pemandangan, binatang, potret para pembesar serta lukisan potret dirinya masuk dalam karya ini. Sehingga sangat layak seandainya lukisan ini kemudian dapat melahirkan berbagai gagasan mutakhir sampai saat ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dalam pameran ini kami mengajak para perupa ternama Indonesia untuk secara khusus mencermati lukisan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Penangkapan Pangeran Diponegoro&lt;/i&gt;, bukan yang lain. Karena dengan lukisan ini semangat nasionalisme (oleh sebab itu pameran ini diselenggarakan pada bulan Agustus yang sakral bagi bangsa Indonesia), hendak diuji kembali, dikaji kembali dalam bentuk apa saat ini nasionalisme tersebut berjalan. Dalam beberapa hal, lukisan Raden Saleh ini juga memuat misteri yang tidak saja visual, namun juga dapat melahirkan lagi misteri dan ilusi-ilusi tentang berhagai hal yang lain. Para perupa berhak mengajukan berbagai ilustrasinya mengenai lukisan ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Di samping itu, dalam pameran ini direncanakan tampil beberapa lukisan Raden Saleh koleksi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. [&lt;b style=""&gt;Mikke Susanto&lt;/b&gt;]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Informasi ini dipublikasikan oleh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;            &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jogja Gallery [JG]&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara, Yogyakarta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telp. +62 274 419999, 412021, 7161188&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Telp/Fax +62 274 412023&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Email &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;www.jogja-gallery.com&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-9222622589829901836?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/9222622589829901836/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=9222622589829901836&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/9222622589829901836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/9222622589829901836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/05/200-tahun-raden-saleh.html' title='200 Tahun Raden Saleh'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RlQcNXP5qSI/AAAAAAAAAB8/LzFV5sQG2Hs/s72-c/Raden+Saleh-Diponegoro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-8225593024307129712</id><published>2007-05-11T18:34:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:13.604+07:00</updated><title type='text'>The Transposition of Artworks, Taste, and Reference</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RlQXC3P5qRI/AAAAAAAAAB0/5iNhXCPVWnc/s1600-h/IMG_8587.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RlQXC3P5qRI/AAAAAAAAAB0/5iNhXCPVWnc/s320/IMG_8587.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5067700818656471314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Mikke Susanto &amp; Nunuk Ambarwati&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Transposition: the shifting of position; the process or the change of function and category without the change in shape &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Since artworks are regarded having trade values, so they have become luxurious items, as well as “miraculous”. It happens because of certain reason. &lt;i&gt;First&lt;/i&gt;, it is rare. &lt;i&gt;Second,&lt;/i&gt; it implies certain values. &lt;i&gt;Third&lt;/i&gt;, it rings specific bell that satisfies someone’s taste and desire. Those are why these “miraculous” things then give impacts – direct or indirect – to someone’s biography.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;On the other hand, paintings are also able to manifest so many human needs, especially for the social-cultural-political relation with other human beings. The luxurious items named paintings, for the possessor, seems to be the media for the forming of another capital. Hobby, self fulfilling, mind therapy, or kinds of “cultural ecstasy” have become the reasons or another function that enforce art’s position as the luxurious items. In short, paintings or artworks and other collectibles, possess the power to break through the unexpected borderlines of functions. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Reading the Desire&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Quoting Garin Nugroho’s opinion at a seminar in ISI Yogyakarta, two years ago, that there exist two kinds of continuous art in the contemporary world: &lt;i&gt;painting &lt;/i&gt;and &lt;i&gt;pop art&lt;/i&gt;. Painting has its own running system, either in the marketing area or in its research area. Whereas &lt;i&gt;pop art &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;is understood more as the packaging or characteristic, meaning any arts, as long as they are under popular nuance or situation, will be accepted by many social groups. And so, we are really sure that artworks, in this case painting, have their stable history and condition. Moreover, compared to any other arts, painting possesses the ability to be accepted by many social groups. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Through this argument, we would like to emphasize that the market stability or the situation under the painting art came from the long research and history. One important point in this phenomenon is the existence of painting lovers’ desire that contributes in giving ‘life’ to the painting art. Since the beginning of the art history, painting lovers have attracted historian’s attention. The emerging of the art supporter from the noble class, rulers, governors, religious institutions, or even person in every era had given the enormous contributions.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Speaking about desire, we should also talk about the needs. The desire to have or collect can come from the needs to create the image of one’s power or position. Not less important is the desire to differentiate from others, for example, it is quite normal for people to collect things related to them. This can be seen from the existence of self-portrait, through painting as the media. The most interesting example is King Napoleon in war area in Eyland, when painted by Jean Antoine Gros in 1808, or when he wants his coronation beautifully painted by Jaques Louis David in 1804. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Desire, is also giving interesting impression to mark certain era. We can see the taste of Rococo’s painting lovers around 1700-1750s. The painting lovers “sunk” was very low, as the popular paintings at that time were naked women and the model that portrayed the free lifestyle. This was the era where the painting lover (mostly the nobles and rich men in France and Italy) loves to let loose of their lust and glamorous lifestyle, without even care of their surroundings. That is the reason why Rococo is often considered as a drawback of Renaissance. Once again, collector’s taste and desire seemed important to mark the upheaval of certain era or community. Everything is summed up through the painting collection. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;About the Exhibition and the Invited Collectors&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Regarding with this exhibition, if we are speaking about market and art research in Indonesia, collectors assume the important roles in the art community’s system and infrastructure. Indonesian Historian, M. Agus Burhan stated that there is no single art, wherever and whenever, that can stand still without any supporting system&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;. Arts is the integrated part in the era of collective-traditional society, or commonly referred as &lt;i&gt;communal support&lt;/i&gt;, whereas in the feudal era, arts got its supports from the institutions, rulers, or often referred as the &lt;i&gt;government support&lt;/i&gt;. In the present times, where capitalism is everywhere, the supporters of arts come from the business world or commonly referred as &lt;i&gt;commercial support&lt;/i&gt;. Those are the collectors, gallery, and tourism. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Then, ‘what about the existence of the collectors in Indonesia? Who are they? How are they?’ Those questions then become the starting point of this work. In processing the exhibition, we asked the exhibitor candidates to answer the question, “Do you have the artworks that you really loved?” This question emphasizes the fact that when one loves his own artworks, one will not easily give that up but for collection. Thus, all the works here more or less is the private things that are regarded to imply the imaging function and also represent the owner’s taste. The acquisitions of those artworks were based on the reason of personal interest, whether representing the aesthetic taste of the owner or others. Hence, they can be considered assuming the roles as collectors, and the exhibited artworks will grant them another special meaning and status.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;By putting the basis on the reason of love, personality, and artworks propinquity, this exhibition tries to be a small map of the supporting realms for arts, which consist of many different professions. Then some names are proposed. Specifically, they were invited from DIY and Central Java, for this exhibition intends to portray their efforts as the collectors living near the artists, or even closer to the centre of arts development: Yogyakarta. They came from different professional and educational background. Some of them are dr. Oei Hong Djien, Dedi Irianto, Alexander Ming, Deddy PAW, Nasirun, Butet Kertaredjasa, Bambang Soekmonohadi, Soekeno, Sugiharto Soeleman, Rahadi Saptata Abra, Simon Tan, Harsono and Siswanto HS/Hasan Berlian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Nullifying “Seclusion”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;This exhibition rolls over the attraction with two purpose. The first one is to nullify the problem of artworks seclusion. This seclusion here means the placement of artworks in the collection rooms. The terms seclusion itself came from the discourse delivered by Sanento Yuliman&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; as the impact of the phenomenon of the booming of painting purchasing in the end of 80’s to 90’s. Thus, this exhibition will specifically show the artworks that have become private collections. Why private collections? As Sanento Yuliman proposed, one of the reasons that seclusion happened is the personal collector, not gallery or museum that are considerably more open. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;According to Sanento, the moment after the purchasing, paintings are transformed into rich man’s secluded properties. Far from the society and the world. However, the seclusion process itself is urgent to be brought up in the forum, for it even against the slogan of “Artworks as the nation’s treasure” or the motto of “Arts for wider Society” or “Arts for People”. In the end, our minds are directed to the occurrence of the polemic of “cultural privatization through paintings”. There is no way that culture, as the right of society, will be privatized, whether done by person or corporate collectors&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;. And so the problem of collectors with all the efforts in the background will be interesting to research. How far has the collectors’ realized and understand these kinds of “seclusion”?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Responding to this problem, one of the exhibition participants, Butet Kertaredjasa&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt; argues that this is not about the “seclusion”, but the problem occurred when the artworks are put into private house. Surely the accessibility level will not be similar to those in gallery or museum. The access will be quite limited, though in one hand they can be very open and proud when their collections are borrowed by the famous museum, or to be included in the exhibition abroad, or become the cover of the books. This is also the reason serves as the underlying basis of the choosing of those works to be shown by their collectors in this exhibition. They are so responsive and respectful in accepting the suggestion, even show their collection openly. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Because of the characteristic, personal collection sometimes make the attitude towards the artworks themselves not or not yet maximal. Considering the importance of self satisfaction, most of the collectors do not employ special staff to inventory or take care of the collection. Hence, most of the time the collectors themselves are taking care and arranging their own collection. So don’t be surprised when once we find the fact that they can’t list their own collection, don’t have the time to count them yet, to another fact that the arrangement and care is so very simple. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Back to the topic, surely we cannot deny the existence of seclusion as the collectors also confess that some of their collection is so “sacred”, great, and precious, or even those they admire most, should stay at their home. Though this may not be significant, for all of the collection imply their own speciality. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Collectors’ Struggle&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;The second aim is to get the portrait of the collectors’ struggle in collecting every single piece of artworks. In dealing with this second purpose, the emphasis will be put over the taste, comments, and efforts as well as the collecting concept done by the collectors.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Through this small research, some purpose in collecting artworks can be unveiled. Mostly, it serves as a mere investment, then appreciation or psychological satisfaction – because of the pure interest towards arts - , or probably both. Some collectors said that they also collect other forms of arts other than 2 dimensional works (paintings), such as statue, photograph, antiques, jewelleries, etc. Though this exhibition focus only on 2 dimensional artworks, this fact gives insight that 2 dimensional works are still dominating the development of the discourse or even the market of visual arts. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Those reasons are almost mostly taken into consideration by the collector in choosing which artworks to add the collection. Besides, other considerations – if not to mention them as the absolute considerations - also involves many aspects, such as good technique / skill, aesthetic aspects, creativity, and interesting concept the artist try to convey through the works. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Those collectors also said that their collection is economically advantageous when use in the business. It means, they afford the works with the cheap way, under the normal price, in the auction, or can be resold when the price from both party is satisfying.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;When asked for further reason of collecting, many arguments were proposed, starting from the close feeling to the artist, intention to economically helping certain artists, and other idealistic reasons such as family and self-appreciation as well as starting a private collection museum. The personal relationship between the collectors and the artists turns out to be one of the important considerations in owning certain works, like what Nasirun did. He is so admiring his lecturer, that he bought the works that are considered as the important points in the artist’s career.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;We can also note that these collectors have already had their own favourite artists. And the impact is the privilege for the first preview of the works, in the studio, just before the works are marketed or exhibited. This is just one integrated part of the effort of building the closeness and relationship. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Differentiation of Taste&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Problem about taste is also presented in this exhibition. The taste of each collector is quite represented through the artworks that they propose for this exhibition. Clearly, we have no normative reference in collecting the works, which is the best way of collecting woks, or the most profitable way to collect artworks, etc. However, we can also infer the ‘red-line’ of this taste thing when two collectors propose the artworks from the same artist, even though with different reason. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;The representation of the taste is supported by one’s social background, as well as the reference and the background knowledge. Speaking about reference and the background knowledge, we can find something interesting about the development of art collectors in Indonesia. Indonesian collectors are quite aware that their role in the art infrastructure is often acknowledged. Some reviews from the art critics, articles in the media, gossips, or even the direct progress of the artists become the additional references for those collectors. They also have the awareness to help the progress of Indonesian young artists to improve their quality with their own way.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Even though we can still face some art people, whether they are collector, &lt;i&gt;kolekdol &lt;/i&gt;[= collector but act as art dealer too], or even the artists which gives the bad image towards the system, market infrastructure, and the Indonesian art discourse, we can still put our hope to the appreciation level, study ethic, integrity, and the awareness of building a better system that most present collectors have in mind. At least, it is proven through by this exhibition. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;As quoted from one young collector’s statement, Simon Tan Kian Bing&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;, that nevertheless the collectors should have the awareness to keep learning and trying to improve the appreciation quality, for it will bring about a great impact as well. Contrasted to the product, then the collectors are the final checks. Like the institution that will rate the worthiness of certain works to collect. If the final check is bad, then the passed artworks will also be bad. But if the final check is good, the quality of the passed works will be good instead. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;Then we agree with Butet Kertaredjasa to show one of his personal collections, the work of Vincent van Gogh. This painting portrays a woman and a man, with the background of people harvesting wheat. Butet said that the work is not the original one, or only the reproduction. He deliberately bought one of the 5000 reproductions that are spread around the world with high price in 2002. Besides the interest towards the theme, he also takes the high reproduction skill presented in the works into the consideration. The skill makes every artist’s works can be copied with the scale 1:1 in the colour similarity level, line, and texture up to 90%. From this Butet’s collection, at least it will serve as the learning media of the artists regarded the classic polemic in collecting, originality. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;span style=""&gt;                &lt;/span&gt;So, if you can conclude many things from the exhibited collection, it is not impossible that our world of art will attract more discussion. Then, who is the real creator of “festivity” in our artworld? +++&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;Yogyakarta, May 3&lt;sup&gt;rd&lt;/sup&gt;, 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;End Notes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;&lt;span style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;[&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt; JS. Badudu, &lt;i&gt;Kamus Kata-Kata Serapan Asing dalam Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;, Penerbit Kompas, Jakarta, 2003.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="DE" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt; M. Agus Burhan, “Seni Rupa Modern Indonesia: Tinjauan Sosiohistoris”&lt;i&gt;,&lt;/i&gt; dalam&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Adi Wicaksono dkk (ed.), &lt;i&gt;Aspek-aspek Seni Visual Indonesia: Politik &amp; Gender&lt;/i&gt;, Yogyakarta, Yayasan Seni Cemeti, 2003.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt; Sanento Yuliman, &lt;i&gt;Boom! Kemana Seni Lukis Kita?&lt;/i&gt;, Makalah Sarasehan Pelukis Jawa Timur, Surabaya, 24 Agustus 1990.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt; Chin-tao Wu, &lt;i&gt;Privatising Culture, Corporate Art Interention since the 1980s&lt;/i&gt;, London-New York, Verso, 2002.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoEndnoteText"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt; Wawancara dengan Butet Kertaredjasa, 27 April 2007 di kediamannya, Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="DE" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="MsoEndnoteReference"&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;6 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="IN" &gt;Dialog Seni Kita/ DSK, Radio UNISI dan YSC, Yogyakarta, 8 Februari 2002.&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-family:Georgia;font-size:10;"  lang="EN-GB" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-8225593024307129712?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/8225593024307129712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=8225593024307129712&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/8225593024307129712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/8225593024307129712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/05/transposition-of-artworks-taste-and.html' title='The Transposition of Artworks, Taste, and Reference'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RlQXC3P5qRI/AAAAAAAAAB0/5iNhXCPVWnc/s72-c/IMG_8587.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-743236760288037132</id><published>2007-04-12T21:15:00.000+07:00</published><updated>2007-04-12T21:17:42.757+07:00</updated><title type='text'>Inspired by...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Rh4_b00813I/AAAAAAAAABs/o_yyfwTwXTo/s1600-h/gbr+nunuk.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Rh4_b00813I/AAAAAAAAABs/o_yyfwTwXTo/s400/gbr+nunuk.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5052545579226027890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-743236760288037132?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/743236760288037132/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=743236760288037132&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/743236760288037132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/743236760288037132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/04/inspired-by.html' title='Inspired by...'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Rh4_b00813I/AAAAAAAAABs/o_yyfwTwXTo/s72-c/gbr+nunuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3415443741796593964</id><published>2007-03-15T11:29:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:13.798+07:00</updated><title type='text'>Ingin Terbang Lebih Tinggi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RhXkt4UMJ0I/AAAAAAAAABU/aMNIy-ym6pw/s1600-h/nuk1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RhXkt4UMJ0I/AAAAAAAAABU/aMNIy-ym6pw/s200/nuk1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5050194034028193602" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Kemampuan me-&lt;i style=""&gt;manage&lt;/i&gt; pameran, dan berkecimpung dalam pengelolaan galeri seni membawanya melanglang ke sejumlah negeri. Pengalaman pun dikecap, dari sebuah profesi yang menurutnya masih langka, menawarkan tantangan tinggi dan kemampuan yang tak cukup diraih sekejap mata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;        &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Nunuk Ambarwati. Sosok wanita satu ini cukup dikenal di tengah pasang surutnya arus berkesenian di Jogja. Memang lebih karib di belakang layer, mengurus tetek bengek manajerial berkesenian, khususnya seni rupa. Coba saja tanyakan pada Nunuk, nilai sebuah lukisan yang bagi awam terlihat serupa corat-coret dan goresan abstrak yang rumit ditafsirkan. Dia tahu persis, bagaimana sebuah karya seni layak mendapat penilaian.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sekadar menafsir sebuah karya ternyata memang tidak ringan. Butuh pembelajaraan panjang. Teori-teori seni rupa dari buku-buku tebal berbahasa asing pun menjadi santapan keseharian. Senyatanya proses untuk memiliki kemampuan serupa itu sungguh tak singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;“Makanya profesi seperti ini masih jarang. Padahal prospeknya sangat bagus. Makin bertumbuhnya seni-seni kontemporer dan galeri-galeri di tanah air membutuhkan peran seorang manajer program dan seni. Setiap galeri butuh sosok manajer yang mampu menggerakkan arah kerja galeri itu. Kehadirannya pun harus membawa &lt;i style=""&gt;brand&lt;/i&gt; tertentu, menciptakan &lt;i style=""&gt;brand&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;positioning&lt;/i&gt;, laiknya sebuah konsep produk yang membawa citra perusahaan”, kata Nunuk yang kini bergiat di Jogja Gallery sebagai Manajer Program di celah perbincangan dengan &lt;i style=""&gt;Bernas Jogja&lt;/i&gt;, pekan lalu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Nunuk bergabung dengan Jogja Gallery sejak awal berdirinya, September silam. Sebelumnya enam tahun lebih Nunuk bergabung dengan Yayasan Seni Cemeti di bidang pendokumentasian. Dari pergulatannya di dunia seni selama bertahun-tahun itu Nunuk telah mendapatkan eksperimentasi yang tak kecil. Banyak ilmu dan pengalaman didapatnya, saat bersinggungan dengan pelaku-pelaku seni berbagai negeri, juga pengalamannya memintas berbagai Negara. Diantaranya Hong Kong, Taiwan, &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Korea&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dan Singapura.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Sudah barang pasti kemampuan berbahasa asing dan kepiawaian lobi menjadi modal utama menekuni profesi itu. Ditunjang pendidikan formal Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, dan minat menekuni seni, klop sudah bidang itu menjadi pilihan hidupnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Namun meski pengalaman yang diraih telah cukup banyak, wanita kelahiran 18 November 1976 yang masih melajang itu merasa belum ‘apa-apa’. Masih bertebar sederet obsesi yang ingin diraih. Sayap pun terus dikepakkan untuk terbang lebih tinggi. Tak hanya terbang di &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt; untuk mengecap pengalaman, namun pula terbang ke berbagai benua.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;“Inginnya bisa mempelajari seni dan manajemen galeri ke berbagai benua. Target jangka pendek, magang di sebuah galeri di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Australia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, saat ini sedang dijajaki”, kata Nunuk yang aktif dalam berbagai kegiatan seni pertunjukan semasa SMP hingga kuliah itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Itu untuk urusan kerja. Namun soal target dalam kehidupan pribadi, menurutnya tak perlu dibagi-bagi. Toh inspirasi sosok wanita atas kaumnya lebih ‘&lt;i style=""&gt;prestige’&lt;/i&gt; dikaitkan urusan pencapaian karya, bukan perkara-perkara personal yang kini rajin membayang di layar kaca serupa melekati para pesohor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Georgia;font-size:10;"  &gt;Oleh: Shanty Hapsari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Surat Kabar Harian Bernas, Minggu Pahing, 11 Maret 2007, halaman 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3415443741796593964?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3415443741796593964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3415443741796593964&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3415443741796593964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3415443741796593964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/03/ingin-terbang-lebih-tinggi.html' title='Ingin Terbang Lebih Tinggi'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RhXkt4UMJ0I/AAAAAAAAABU/aMNIy-ym6pw/s72-c/nuk1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-6985248890877063453</id><published>2007-03-03T10:33:00.000+07:00</published><updated>2007-03-03T10:39:11.601+07:00</updated><title type='text'>Fluktuasi Pendokumentasian Format Digital</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Pada awal menekuni dunia pendokumentasian &lt;i&gt;(archiving)&lt;/i&gt; di pusat dokumentasi seni visual Cemeti Art Foundation/CAF, Yogyakarta, pada kurun waktu 2002-2003,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saya dihadapkan pada persoalan memanajemen arsip yang sedemikian kaya dalam bentuk analog atau &lt;i&gt;printted matter&lt;/i&gt;. Hingga pada perkembangan selanjutnya kebutuhan untuk memperpanjang umur arsip-arsip analog / &lt;i&gt;printted matter&lt;/i&gt; tersebut ke bentuk digital (mengkonversinya dalam bentuk cakram) menjadi hal yang mendesak. Mempertimbangkan iklim tropis di negara kita yang sangat tidak bersahabat dengan bidang kearsipan ini, ditambah niatan agar diseminasi informasi yang lebih aksesibel. Kebutuhan ini tidak saja terjadi di pusat dokumentasi CAF, tetapi juga di Pusat Dokumentasi Yayasan HB Yasin, demikian pula di Balai Konservasi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, di Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Ketika format digital menjadi salah satu pilihan konservasi atas arsip-arsip kita di Indonesia, dan ketika kita masih ‘terengah-engah’ baik segi waktu, energi, penyimpanan hingga pendanaannya menuju ke sana; sementara sejarah di Jerman telah mencatat, kepedulian dalam pengarsipan, terutama pada media digital, sudah dimulai satu dekade setelah seni video lahir di negara tersebut (1963) oleh berbagai individu mau pun lembaga (tulisan Krisna Murti, &lt;i&gt;Beberapa Catatan “40yearsvideoart.de”)&lt;/i&gt;. Satu hal yang ironis dan paradoks memang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Sebuah pameran dan buku referensi sebagai output dari proyek “Interarchiv” di tahun 2002 oleh ‘Kunstraum der Universität Lüneburg’, Jerman bisa menjadi salah satu contoh sebuah kepedulian yang sangat luar biasa akan bidang pendokumentasian dalam berbagai format. Proyek ini didahului dengan berbagai seminar dan &lt;i&gt;lecture&lt;/i&gt; oleh orang-orang profesional di bidang seni, mengenai inventarisasi arsip menggunakan berbagai media yang berbeda hingga teknik yang tidak umum untuk tidak hanya bergantung pada keunggulan teknik digital. Hal ini diikuti dengan prinsip dasar untuk mengelola karakteristik masing-masing arsip itu sendiri, seperti pendekatan personal, sementara secara bertahap membuka kesempatan kepada publik untuk bisa mengakses arsip-arsip itu sebagai sebuah pintu masuk atas pengetahuan dan jaringan yang lebih luas. Proyek ini merupakan kolaborasi antara seniman Dusseldorfer Hans-Peter Feldmann dan berdasarkan kerja kearsipan yang hingga saat ini belum selesai dari seorang kurator kearsipan Hans Ulrich Obrist pada ‘Kunstraum der Universität Lüneburg’. Bukunya sendiri terfokus pada wacana terkini mengenai praktek kearsipan. Bagaimana fungsi dan kemungkinan koleksi, museum atau arsip budaya pada situasi globalisasi dan media virtual didiskusikan sama pentingnya mengenai bagaimana pola konstitusi, pola kerja dan kekuatan akan memori.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Sementara proyek “40yearsvideoart.de, Digital Heritage: Video Art in Germany from 1963 to Present” ini lebih terfokus dan mengajak kita untuk mulai memikirkan bagaimana format konservasi yang ideal atas media video atau digital. Maka saya sependapat dengan Krisna Murti dalam tulisan yang disampaikannya mengenai bagaimana Jerman tampak mempunyai kesadaran institusi dan institusionalisasi budaya, semusykil apa pun termasuk video, sebagai tanggung jawab kelangsungan peradaban termasuk kepada generasi mendatang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Ketika kita masih dihadapkan banyak ‘pekerjaan rumah’ atas situasi pendokumentasian seni visual Indonesia, mulai dari hal teknis hingga non teknis. Seperti persoalan mengumpulkan data, memanajemen hingga diseminasinya baik melalui media cetak, visual mau pun virtual. Ketika kita dihadapkan pada perkembangan media digital ini begitu pesat, dan kita juga dihadapkan pada pilihan format manakah yang paling tepat untuk bidang kearsipan seni visual Indonesia? Dimanakan kita harus berdasarkan diri antara material arsipnya [kuantitatif] atau lebih pada fungsi kearsipan itu sendiri [kualitatif]? Bagaimana mendokumentasikan materi yang tidak dapat terdokumentasikan [&lt;i&gt;un-documentables&lt;/i&gt;] seperti &lt;i&gt;performance&lt;/i&gt; dengan bau atau rasa? Ataukah dihadapkan pada pertanyaan format video ini sebagai dokumentasi atau sebuah video &lt;i&gt;artwork&lt;/i&gt;? Ketika masalah konservasi/restorasi karya seni rupanya sendiri masih menjadi sesuatu yang sangat mewah, kompleks dan langka di dunia seni visual kita saat ini. Bagi saya proyek “40yearsvideoart.de, Digital Heritage: Video Art in Germany from 1963 to Present” &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ini merupakan bentuk ‘tamparan halus’ untuk membangunkan para arkhivaris Indonesia kita akan kepedulian pendokumentasian dalam bentuk dan sedetail apa pun. Maka apa yang bisa saya sarankan untuk situasi pendokumentasian seni visual Indonesia saat ini adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Konservasi fisik &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;yaitu melakukan konservasi standar dan semaksimal mungkin bisa kita lakukan. Seperti penyimpanan dengan suhu tertentu, perawatan berkala dan hal teknis lainnya. Yang kedua adalah &lt;i&gt;back up&lt;/i&gt; atas arsip itu sendiri. &lt;i&gt;Back up&lt;/i&gt; di sini pun tidak melulu pada satu format saja. Sebagai misal format arsip tersebut dalam bentuk audio, maka &lt;i&gt;back up&lt;/i&gt; penting lainnya adalah dalam format transkrip dan seterusnya. Pada prinsipnya saya tidak ingin terbebani atau tergantung pada satu pilihan media teknis yang seperti apa. Pilihan media teknis itu sendiri saya serahkan kepada masing-masing konservator, mana format yang paling ideal untuk karakteristik bentuk arsip itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Konservasi non fisik &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;yaitu menjadikan material arsip yang pasif sebagai sumber belajar yg aktif. Hal ini penting untuk bisa membuat arsip itu sendiri lebih bisa ‘hidup’ lebih panjang, terakses lebih luas dan mengembangkan berbagai kemungkinan dengan melibatkannya ke berbagai lintas disiplin. Dimana kita tahu arsip berperan penting dalam wacana kontemporer di bidang seni visual, museology, cultural studies dan filosofi. Konservasi ini bisa dalam bentuk pengembangan atau memproduksi kembali materi arsip tersebut dalam sebuah program seperti pameran, riset dan sebagainya. Karena arsip tidak hanya sebuah catatan, tetapi sebagai bentuk dorongan dan inisiator yang aktif untuk memproduksi sesuatu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;Disamping itu, yang lebih penting lainnya mengenai tingkat kesadaran atas pendokumentasian itu sendiri pada setiap individu. Kesadaran sebagai ‘penjaga’ dari originalitas, keaslian karakteristik dan keunikan material arsip, sebagai pelindung dari warisan budaya dan seorang manajer dari himpunan pengetahuan. Maka dengan ini bagaimana kita terus-menerus memunculkan regenerasi dokumentator-dokumentator handal mau pun pusat-pusat dokumentasi baru yang spesifik di bidangnya masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;*&lt;i&gt;Nunuk Ambarwati&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Georgia;" lang="IN"&gt;, tinggal dan bekerja di Yogyakarta. Pernah bekerja sebagai &lt;i&gt;Head of Archive and Media Relations&lt;/i&gt; di Cemeti Art Foundation [CAF], Yogyakarta pada kurun waktu Februari 2002 – November 2006. Saat ini bertindak sebagai Program Manager di Jogja Gallery/JG [www.jogja-gallery.com], Yogyakarta. Kontak selanjutnya melalui email: qnansha@yahoo.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-6985248890877063453?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/6985248890877063453/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=6985248890877063453&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6985248890877063453'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6985248890877063453'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/03/fluktuasi-pendokumentasian-format.html' title='Fluktuasi Pendokumentasian Format Digital'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-3650853453381694850</id><published>2007-02-06T18:07:00.001+07:00</published><updated>2007-02-13T09:41:38.269+07:00</updated><title type='text'>Eksisten di tengah Sekaten</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Pameran Seni Lukis: EKSISTEN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta, 27 Februari – 25 Maret 2007&lt;br /&gt;Kurator Jogja Gallery: Mikke Susanto&lt;br /&gt;Exhibition Advisor: Heri Pemad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pameran ini diselenggarakan sebagai respon atas pasar malam sekaligus agenda tahunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat: SEKATEN. Dalam pameran ini perupa diharapkan dapat memberi sumbangan kreatif berupa karya-karya yang memiliki tema untuk mengingat kembali keberadaan dan sejarah kota Yogyakarta. Hal ini menarik dilakukan agar publik merasakan kembali bagaimana kota Yogyakarta yang telah berusia 250 tahun ini berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pun pameran ini pada dasarnya mendukung gebyar pasar malam SEKATEN, tetapi juga menyimpan tujuan yang sangat berarti  yaitu memberi rangsangan untuk mengingat berbagai kejadian dan situasi yang telah, sedang dan mungkin akan terjadi di Yogyakarta. Gambaran-gambaran tentang berbagai aktifitas (yang menjadi perhatian banyak orang Yogyakarta), polemik (tentang berbagai kebijakan dan kejadian kota), atau ruang-ruang publik Yogyakarta dapat dikaitkan dengan isi dan tema karya yang akan dipamerkan dalam pameran ini. Ada pun secara konsep teknis dan visual, pameran ini membuka peluang terhadap berbagai gaya, pendekatan visual mau pun aliran pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sumber materi atau subjectmatter yang dapat diusung dalam pameran ini misalnya:&lt;br /&gt;Ruang-ruang publik yang menarik seperti Kantor Pos Besar, Tamansari, Kraton Malioboro, Pasar Sapi, Jembatan Kali Code, Tugu, pemandangan alam dan ruang rekreasi keluarga seperti pantai dan aktifitasnya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Orang-orang yang menjadi perhatian dan penting dalam sejarah dan perkembangan Yogyakarta.&lt;br /&gt;Aktivitas-aktivitas yang dinilai eksotis dan menjadi daya tarik bagi visual.&lt;br /&gt;Kisah, cerita, legenda atau berita yang mengetengahkan kelengkapan perkembangan di sektor kebudayaan, politik mau pun dalam seni rupa sendiri dan di sektor lainnya yang telah memberi warna dalam perkembangan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar calon peserta pameran:&lt;br /&gt;Andy Wahono – Anggar Prasetyo – Agus Triyanto BR – Aji Yudalaga – Anang Asmara – Bambang Heras – David Armi Putra – Dedy Maryadi – Denny ‘Snod’ Susanto – Didik Nurhadi – Dyan Anggraini Hutomo – Erizal As – Galam Zulkifli – Hadi Soesanto – Hamdan – Herly Gaya – I Gusti Ngurah Udiantara – I Nyoman Darya – Iwan Sri Hartoko – Julnaidi MS – Kusmanto – Luddy Astaghis – M Andi Dwi – Nanang Warsito – Nasirun – Nico Siswanto – Niko Ricardi – Oskar Matano – Ridwan – Robby Fathoni – Saepul Bachri – Samsul Arifin – Setyo Priyo Nugroho – Stefan Buana – Slamet Suneo Santoso – Sito Pati – Syahrizal Pahlevi – Yayat Surya – Wara Anindyah – Warsitho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Jogja Gallery [JG]&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jalan Pekapalan No 7, Alun-alun Utara Yogyakarta&lt;br /&gt;Telepon +62 274 419999, 412021, 412023, 7161188&lt;br /&gt;Fax +62 274 412023&lt;br /&gt;Email &lt;a href="mailto:jogjagallery@yahoo.co.id"&gt;jogjagallery@yahoo.co.id&lt;/a&gt;, &lt;a href="mailto:info@jogja-gallery.com"&gt;info@jogja-gallery.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;www.jogja-gallery.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-3650853453381694850?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/3650853453381694850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=3650853453381694850&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3650853453381694850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/3650853453381694850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/02/eksisten-di-tengah-sekaten.html' title='Eksisten di tengah Sekaten'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-6976130495395135341</id><published>2007-02-06T17:55:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:14.040+07:00</updated><title type='text'>Agraris Koboi!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RdACYMX2tbI/AAAAAAAAAAk/cS7WIaD3eyU/s1600-h/pilih+agrais.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5030523398434239922" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RdACYMX2tbI/AAAAAAAAAAk/cS7WIaD3eyU/s320/pilih+agrais.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Visual Art Show - "&lt;strong&gt;AGRARIS KOBOI!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta, 10 – 20 Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dasawarsa terakhir, Yogyakarta dipenuhi oleh berbagai kejutan visual. Wajah kota menjadi ‘glamour’. Jalan-jalan penuh warna, entah oleh mural atau spanduk, neon box dsb. Tembok-tembok toko tak lagi kosong. Pejalan kaki menjadi ‘tamu’ atas perangai para penggagas visual. Bahkan ruang privat anak-anak muda saat ini tak lagi melompong berisi kasur, almari dan tape recorder. Kini, semua penuh dengan gambar. Gejala ini bisa jadi sebuah euforia atau mungkin juga demam visual. Berangkat dari salah satu gejala yang memanas semacam ini, kurator hendak mengajukan sebuah “manifes bersama” untuk meneguhkan semangat atas kejutan visual tersebut dan menjadi ‘visi baru’ dalam seni rupa yang berkembang di Indonesia.&lt;br /&gt;Manifes ini dimulai dengan mengekspos karya-karya yang memiliki kecenderungan ‘menggambar’ dalam arti teknis. Serta unsur utama dalam karya-karya ini adalah lukisan-lukisan yang mengetengahkan keseharian dan/atau hobby anak muda yang sedang mencari tren sekarang. Pendek kata, karya-karya mengusung gejala dan budaya populer, yang bersifat liar, dimanis, imajinatif. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pameran ini hendak mengetengahkan fenomena seni rupa kontemporer di Yogyakarta tersebut yang konon masih dianggap sebagai bagian dari kultur besar (sub-kultur). Pameran ini hendak memberi ketegasan untuk menandai mereka dalam satu gaya/fenomena yang terjadi di sela berbagai kecenderungan gaya yang berkembang di Yogyakarta. Karena sementara ini banyak sekali anggapan bahwa karya-karya mereka masih dianggap ‘bukan lukisan’ atau ‘bukan karya seni’ (lebih parah lagi itu ada yang menyebutnya ‘polusi visual’), dan dianggap sekadar permainan visual yang menjamur di beberapa tempat (ruang publik maupun ruang privat mereka). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Jogja Gallery hendak memperjelas posisi mereka. Mereka adalah juga bagian dari perkembangan seni visual di Yogyakarta pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Mereka bukan lagi sebagai sub-gaya dari aliran besar bernama Pop art atau sub-kultur dari aliran Pop Culture yang berkembang. Mereka terlihat sangat serius, dalam upaya menggeluti konsep seninya. Keseriusan itu terlihat ketika mengelaborasikan kehidupan seharian dengan pola berpikir tentang kajian sejarah, politik dan kebudayaan secara umum, yang notabene telah menjadi bagian dari napas hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lokalitas yang membedakan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam hal ini, terdapat hal yang membedakan antara perupa peserta pameran ini dengan mereka dengan yang ada di Bandung, Jakarta dan Bali. Jika kesamaan adalah ekspos kebudayaan populer lewat munculnya elemen-elemen kebudayaan misalnya televisi, majalah, telepon seluler dan sebagainya, maka mereka, peserta pameran ini, mendapatkan inspirasi dari aktivitas kebudayaan yang muncul di kota Yogyakarta. Tepatnya adalah kehidupan yang terjadi di seputaran masyarakat seni rupanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkembang bersama dengan seniman-seniman ‘aliran’ lain. Mereka bergumul dengan perhitungan-perhitungan visual. Mereka juga masih menekankan unsur-unsur artistik, kemampuan teknik, dan memadukan desain &amp;amp; komposisi yang energik. Sehingga kebersamaan mereka dengan seniman-seniman lain tersebut memberi warna terhadap karya-karya yang dihasilkan. Dimensi pemikiran yang melatari ragam karya mau tak mau juga diinspirasi oleh beberapa hal, diantaranya ilmu sejarah (rata-rata mereka kuliah di ISI Yogyakarta), hubungan pertemanan antar perupa (terutama dengan perupa-perupa senior: imajiner maupun diskusi langsung) dan budaya lokal Jogja yang melingkupi mereka. Tak pelak banyak muncul berbagai elemen visual yang memandai itu semua. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang menjadi perhatian kita (penonton) sanggupkah mereka yang secara pemikiran banyak dipengaruhi dimensi dan sejarah hidup yang “ke-Barat-barat-an”, menangkap gejala lokalitas (ke-Yogya-annya yang konon masih dianggap masih dalam kehidupan agraris itu) dalam karya seni?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seniman peserta:&lt;/strong&gt; Agus Yulianto – Arie Dyanto – Eko Dydik ‘Codit’ Sukowati – Decky ‘Leos’ Firmansyah – Uji ‘Hahan’ Handoko – ‘Iyok’ Prayogo – Krisna Widyathama – Iwan ‘Pandir’ Effendi – Nano Warsono – Riono Tanggul a.k.a Tatang – Wedhar Riyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mikke Susanto&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Kurator &lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/21435034-6976130495395135341?l=q-nansha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://q-nansha.blogspot.com/feeds/6976130495395135341/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=21435034&amp;postID=6976130495395135341&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6976130495395135341'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/21435034/posts/default/6976130495395135341'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://q-nansha.blogspot.com/2007/02/agraris-koboi.html' title='Agraris Koboi!'/><author><name>Nunuk Ambarwati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12738904515462128163</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='22' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-cumT8z0GzGY/ToRrb6fXEQI/AAAAAAAAANk/YToej-sGN30/s220/edit1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/RdACYMX2tbI/AAAAAAAAAAk/cS7WIaD3eyU/s72-c/pilih+agrais.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-21435034.post-727666013268965391</id><published>2007-02-06T17:51:00.000+07:00</published><updated>2008-12-11T11:07:14.179+07:00</updated><title type='text'>Seni Lukis Tunisia, Tidak Melulu Kaligrafi</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Rc_wN8X2tZI/AAAAAAAAAAM/xFZ54Ids2DU/s1600-h/Hajjeri+Ahmed,+She"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5030503431131280786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_k4IwASb2fD0/Rc_wN8X2tZI/AAAAAAAAAAM/xFZ54Ids2DU/s320/Hajjeri+Ahmed,+She%27s+surprising+me,+120x122cm,+Acrylic+on+ca.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;DESKRIPSI : SENI LUKIS DI TUNISIA&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Jogja Gallery, Yogyakarta, 10-20 Februari 2007&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kerjasama antara Kedutaan dan Konsul Kehormatan Republik Tunisia dengan Jogja Gallery, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi pertama perupa Tunisia mengenal seni modern melalui pendidikan yang mereka terima dari Sekolah Seni Murni di Tunisia mau pun di Eropa atau bahkan secara otodidak, hal ini kemudian lebih mengeksploitasi kelebihan natural yang mereka miliki. Situasi ini berkebalikan dengan pelukis Eropa, pelukis asli asal Eropa tidak diikuti oleh berbagai arus perkembangan seni yang diakibatkan oleh perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok pelukis lulusan pendidikan seni di Tunisia, terdiri dari Ammar Farhat, Yahia Turki, Jelel Ben Abdallah, Abdelaziz Gorgi, Ali Bellagha… yang kami anggap sebagai sekelompok pelukis seni modern generasi pertama, terpilih sejak mereka mulai dengan bahasa plastis membawa nilai-nilai tradisional dan keasliannya. Dalam karya lukis mereka, sebuah visi kenangan tertentu berubah menjadi penanda berkenaan dengan perkembangan dunia yang semakin modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama generasi kedua, di tahun ’60-an terlihat perkembangan sejumlah bakat-bakat muda dan ekspresi artistik plural. Generasi baru ini lebih mempunyai keterbukaan interpretasi eklektik atas seni lukis barat dan bereaksi menentang arus seni yang sebelumnya. Hal tersebut terjadi di dalam situasi yang sedikit antusias baik secara individu mau pun dalam sebuah kelompok. Di era ini dimana kami menemukan berbagai gambaran ekspresi seperti seni abstrak, figur-figur baru dan berbagai variannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi membawa mereka ke dalam “gelombang baru” untuk membentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil berawal di tahun 1963. Generasi ini ditandai dengan tendensi atas seni abstrak dan kaligrafi. Kelompok ini tidak keluar dari patronnya yang mana mereka pakai sebagai sumber inspirasi, b
